Dengarkan Artikel
Oleh: Azharsyah Ibrahim
Setiap hari, masyarakat Indonesia seakan disuguhi parade berita buruk. Dari kasus korupsi pejabat, praktik nepotisme, hingga kebijakan yang gagal berpihak pada rakyat. Di balik kegaduhan itu, sering muncul keluhan: “Negara ini sudah rusak.” Namun pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita akan membiarkan anak-anak kita tumbuh menjadi bagian dari sistem yang sama?
Satu hal yang sering terlupakan: perubahan tidak selalu lahir dari gedung tinggi di Senayan. Kadang, perubahan dimulai dari meja makan di rumah kita sendiri. Dari cara orang tua mendidik, dari nilai yang diwariskan.
Kompetensi, Bukan Sekadar Jabatan
Budaya “asal dapat jabatan” sudah lama menjadi penyakit kronis. Tidak sedikit orang yang mengejar kursi bukan karena mampu, melainkan karena kedekatan atau kesempatan. Padahal jabatan tanpa kompetensi hanya melahirkan kerugian bagi banyak orang sekaligus mempermalukan diri sendiri.
Anak-anak perlu diajarkan bahwa setiap pekerjaan menuntut keahlian yang sesuai. Mereka harus tahu bahwa prestasi dan kompetensi adalah jalan yang benar menuju penghargaan. Orang tua dapat memulainya dengan mendorong anak belajar serius, mengasah keterampilan, sekaligus memperkuat moral compass. Dengan begitu, mereka paham bahwa keberhasilan bukan hadiah instan, melainkan buah usaha dan kelayakan.
Menanamkan Empati Sejak Dini
Di kota besar, banyak keluarga menempatkan anak dalam bubble kehidupan nyaman: diantar-jemput mobil, tinggal di lingkungan homogen, jauh dari realitas keras masyarakat. Akibatnya, anak sulit memahami betapa beratnya hidup orang lain.
Padahal, empati adalah modal sosial yang tak kalah penting dari nilai rapor. Mengajak anak naik transportasi umum, ikut kegiatan sosial, atau sekadar menyaksikan kehidupan masyarakat kecil bisa membuka mata mereka. Anak perlu tahu bahwa tidak semua orang seberuntung dirinya. Dari situlah lahir rasa peduli yang tulus.
Nepotisme: Racun yang Menular
Nepotisme sering berawal dari hal sepele. Kalimat “titip anak saya ya” terdengar biasa, tapi dampaknya besar. Anak tumbuh dengan keyakinan bahwa privilese lebih utama daripada kemampuan. Begitu cara berpikir ini mengakar, sulit diubah.
Menormalisasi nepotisme sama saja menyiapkan generasi yang percaya jalur pintas. Padahal bangsa yang sehat berdiri di atas asas meritokrasi—yang terbaik, bukan yang terdekat. Orang tua harus memberi teladan tegas: tidak semua hal bisa dibeli dengan koneksi.
Mengajarkan Etika Finansial: Halal dan Haram
📚 Artikel Terkait
Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tapi sering kekurangan orang jujur. Banyak koruptor yang dulunya lulusan terbaik. Masalahnya bukan pada kecerdasan, melainkan pada etika finansial yang tidak pernah ditanamkan sejak dini.
Anak perlu dibiasakan dengan konsep sederhana: ada uang halal, ada uang haram. “Ini halal, karena Mama/Papa mendapatkannya dari bekerja.” “Itu haram, meski terlihat mudah, kita tidak menyentuhnya.” Dengan narasi konkret, anak memahami bahwa bukan semua uang pantas masuk ke meja makan.
Libatkan anak dalam aktivitas sederhana: berbelanja bersama, membayar dengan cara benar, menjelaskan proses transaksi. Praktik kecil ini menjadi pendidikan keuangan yang jauh lebih berharga ketimbang sekadar angka saldo.
Perubahan Dimulai dari Rumah
Mengubah sistem politik dan birokrasi Indonesia memang tidak bisa dilakukan dalam semalam. Namun memastikan keluarga kita tidak ikut menjadi bagian dari sistem yang rusak adalah tanggung jawab yang mungkin—dan harus—kita lakukan.
Jika rumah adalah sekolah pertama, maka orang tua adalah guru moral yang utama. Dari rumah pula nilai kejujuran, kerja keras, empati, dan integritas diwariskan. Jangan sampai rumah kita justru menjadi ladang subur bagi bibit korupsi kecil-kecilan yang kelak membesar.
Siklus yang Harus Dihentikan
Kekecewaan terhadap pemerintah bukan alasan untuk putus asa. Justru saat negara gagal memberikan teladan, peran orang tua menjadi lebih penting. Jangan biarkan siklus kebobrokan terus berulang. Ajarkan anak dengan konsisten:
Raih sesuatu hanya jika pantas.
Jangan hidup di menara gading, pahami penderitaan orang lain.
Hindari nepotisme, sekecil apa pun.
Tegakkan etika halal–haram dalam setiap transaksi.
Generasi yang tumbuh dengan nilai-nilai ini akan lebih tangguh menghadapi sistem yang rapuh. Mereka tidak mudah tergoda oleh jalan pintas, tidak silau oleh jabatan, dan tidak kehilangan nurani di tengah derasnya arus pragmatisme.
Penutup
Masyarakat sering kali menunggu “pahlawan” dari atas untuk menyelamatkan bangsa. Padahal, pahlawan itu bisa tumbuh di ruang-ruang tamu kita sendiri, jika orang tua berani mendidik dengan tegas.
Ya, berita buruk mungkin tak akan berhenti besok atau lusa. Tapi kita bisa memastikan satu hal: anak-anak kita tidak ikut menyumbang pada daftar panjang berita buruk itu di masa depan.
Perubahan besar memang sulit. Namun perubahan kecil—yang lahir dari rumah—adalah langkah pertama yang paling realistis. Dan sering kali, itu pula yang paling menentukan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





