Setiap pagi, Apis berjalan kaki tiga kilometer menuju sekolahnya. Jalan berlumpur dan sepatu yang bolong bukan halangan. Ia akan tiba paling pagi, membersihkan papan tulis sebelum guru datang, lalu duduk di bangku paling depan—menyimak setiap kata yang keluar dari mulut gurunya seperti permata berharga. Baca selengkapnya: Cahaya Kecil Bernama Apis
