POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Para Pejuang dari Ruang Kelas yang Terlupakan

Hanif ArsyadOleh Hanif Arsyad
July 17, 2025
Para Pejuang dari Ruang Kelas yang Terlupakan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Hanif 
Dosen Universitas Malikussaleh & Pegiat Literasi

Di tengah perbincangan akademik tentang AI, politik anggaran pendidikan, dan reformasi kurikulum, ada satu realitas yang kerap luput dari radar diskusi kampus: realitas guru-guru yang bekerja dalam senyap, di ruang-ruang kelas sederhana, merawat peradaban dari akarnya.

Sebagai seorang dosen yang juga aktif mendampingi guru-guru di daerah pelosok, saya menyaksikan langsung bagaimana banyak dari mereka bekerja dalam keterbatasan. Tidak ada gaji pasti, tidak ada jaminan pensiun, kadang bahkan tidak ada papan tulis yang layak. Tapi mereka tetap datang. Tetap mengajar. Tetap percaya bahwa setiap anak adalah kemungkinan bagi dunia yang lebih adil.

Sebut saja Bu Ani. Seorang guru sekolah dasar di utara Aceh. Ia mengajar dengan meja kayu reyot dan spidol yang sering habis di tengah pelajaran. Tapi ia tidak pernah kehilangan semangat untuk membuat setiap anaknya merasa penting. Ia tidak hanya mengajarkan huruf, tapi juga nilai. “Kalau kamu bicara, Nak, jujurlah. Seperti huruf-huruf ini, mereka bicara jujur,” katanya suatu pagi kepada Ahmad, murid kelas satu, sambil membimbing tangannya mengeja: B-A-P-A-K.

Di ruang kelas Bu Ani, kejujuran bukan diajarkan lewat teori etik, tapi diteladankan dalam praktik. Ketika ia mengembalikan uang lebih dari warung kantin di hadapan murid-muridnya, ia sedang menanamkan nilai integritas yang mungkin tidak akan muncul dalam Rencana Pembelajaran Semester, tapi akan tumbuh subur dalam ingatan moral anak-anak itu.

Pendidikan: Antara Narasi Besar dan Praktik Hening

Kita sering terpaku pada narasi besar: kurikulum nasional, capaian PISA, atau reformasi struktural. Tapi kita lupa bahwa pendidikan sejati tumbuh dari relasi mikro antara guru dan murid, antara manusia dan manusia. Di sinilah nilai-nilai demokrasi, keadilan, dan empati pertama kali diperkenalkan — bukan lewat wacana, tetapi lewat pengalaman konkret.

Ketika seorang guru sabar mengulang penjelasan berkali-kali kepada murid yang lambat memahami, ia sedang membangun kepercayaan diri dan rasa aman berpikir. Ketika ia memilih mendengar cerita murid tentang orang tuanya yang sakit, daripada memarahi tugas yang belum selesai, ia sedang mengajarkan bahwa manusia bukan sekadar angka rapor.

Di ruang-ruang seperti ini, revolusi mental tidak digerakkan oleh jargon, tapi oleh ketekunan dan cinta yang konsisten.

📚 Artikel Terkait

Kopi dan Musik

TEKNIK MENULIS KARYA ILMIAH

Sepeda

Andai Aku Lewat Pulang

Guru: Agen Perubahan Sosial yang Terabaikan

Mahasiswa pendidikan sering mengidolakan nama-nama besar: Ki Hadjar Dewantara, Paulo Freire, Maria Montessori. Tapi di balik teori-teori mereka, sesungguhnya ada jutaan “guru lokal” yang tanpa disadari menjalankan gagasan-gagasan besar itu — bukan dengan membaca jurnal, tapi dengan menjalani hidup sebagai refleksi nilai-nilai itu sendiri.

Ketika mahasiswa merancang program pengabdian masyarakat, jangan lupa bahwa perubahan tidak selalu berarti intervensi baru. Terkadang, yang dibutuhkan adalah mendengarkan suara guru-guru seperti Bu Ani, lalu memperkuat kerja-kerja sunyi mereka. Mahasiswa bisa belajar banyak dari mereka: tentang kesetiaan, keberanian bekerja dalam ketidakpastian, dan makna mendalam dari pengabdian.

Membaca Kelas Sebagai Arena Demokrasi

Ruang kelas seharusnya dipahami bukan sekadar tempat belajar formal, tapi sebagai arena pembentukan karakter demokratis. Di sana anak belajar mengambil giliran bicara, menghormati perbedaan pendapat, menyampaikan gagasan, dan belajar dari kesalahan. Nilai-nilai ini tidak bisa ditanamkan dengan sistem top-down, melainkan perlu ekosistem yang membebaskan dan merawat pertumbuhan nalar.

Sayangnya, sistem pendidikan kita masih terlalu mengejar angka dan rangking, alih-alih merawat kebajikan. Maka para guru yang dengan sadar membiarkan anak berpikir, mempertanyakan, dan mengalami kesalahan tanpa hukuman, justru menjadi penjaga paling setia bagi semangat demokrasi itu sendiri.

Penutup: Peradaban Tidak Dibangun dengan Teriakan, Tapi dengan Keteladanan

Dalam dunia yang semakin gaduh — di mana perdebatan identitas, kepentingan politik, dan narasi besar bersaing memperebutkan ruang — guru tetap bekerja dalam senyap. Tapi jangan remehkan senyap itu. Sebab dari senyap ruang kelas lahirlah cara berpikir jernih. Dari kesabaran seorang guru, lahirlah keberanian untuk bertanya. Dari keteladanan yang tampak sepele, tumbuhlah integritas yang kelak menyelamatkan bangsa.

Bagi kita yang hari ini duduk di ruang kuliah, berdiskusi tentang masa depan negeri, mari kembali mengingat siapa yang pertama kali mengajarkan kita membaca, bertanya, dan berpikir: para guru, para penjaga nilai yang bekerja tanpa sorot kamera.

Dan bila hari ini kita masih memiliki nalar kritis, empati, serta semangat untuk memperbaiki keadaan, barangkali itu karena di suatu masa lalu, ada seseorang seperti Bu Ani — yang tanpa banyak bicara, telah mengubah hidup kita dalam diam.

“Pendidikan sejati bukan tentang seberapa banyak kita tahu, tapi tentang bagaimana kita menyadari dan menghidupi nilai yang paling mendasar: menjadi manusia.”
– Catatan dari ruang kelas, tempat sunyi yang menyimpan masa depan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Hanif Arsyad

Hanif Arsyad

Hanif Arsyad adalah lulusan Magister Pendidikan Bahasa Inggris USK, berpengalaman sebagai dosen, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya aktif menulis di bidang pendidikan karakter, pengembangan SDM, serta kajian kebahasaan dan sosial. Saat ini, saya mengajar di Universitas Malikussaleh dan Hanna English School sebagai owner yang berlokasi di Aceh Utara. Saya juga menjabat sebagai Koordinator Yayasan Askar Ramadhan di Aceh yang bergerak di bidang sosial, serta dipercaya sebagai Kepala Sekolah Akademi Berbagi untuk klaster Aceh Utara dan Lhokseumawe. Keahlian saya mencakup penulisan ilmiah, editing, dan pendampingan riset.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Makna Kebaikan Sejati dan Ukhuwah Islamiyah/Basyariyah

Eksistensi AI Memberi Edukasi Kepada Para Penguasa yang Korupsi

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00