Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Ceritanya begini, wak. Di sebuah negeri yang katanya menjunjung tinggi akal sehat, walau akalnya sering dipakai buat nyusun caption clickbait, ada seorang konten kreator, sebut saja Tari. Pengikutnya ratusan ribu, jempolnya lincah, dan isi pikirannya kadang diisi dulu oleh kopi pancong, bukan riset.
Nah, pada suatu pagi yang cerah tapi penuh potensi fitnah, Tari nulis artikel soal istri seorang menteri. Isinya? Yah, antara opini, asumsi, dan sedikit rasa dendam karena dulu pernah ditolak masuk grup arisan. Tapi tulisannya rapi, ada gaya naratif, ada gaya bercanda, dan yang paling penting, ada bumbu “off the record” yang seolah sakral, padahal cuma denger dari tukang parkir istana.
Boom! Viral.
Artikel itu dibaca sejuta lebih dalam sehari. Netizen ngamuk, medsos gempar. Semua orang tiba-tiba jadi hakim, jaksa, bahkan Dewa di Mars pun ditag di kolom komentar. Muncul tagar #IstriMenteriNgapain dan #BongkarSemua.
Tiga Hari Kemudian…
Seperti hujan yang datang setelah nasi sudah basi, sang istri menteri akhirnya membuat klarifikasi. Isinya lengkap, tenang, elegan, bahkan pakai footnote. Semua tuduhan dibantah satu per satu, disertai bukti, video, dan saksi hidup.
Jumlah pembacanya? Cuma puluhan ribu. Itu pun separuhnya bukan pembaca, melainkan buzzer yang dibayar, atau orang yang mau cari bahan nyinyir. Kadang muncul tanggapan tak diharapkan.
“Ah, makin dibantah makin keliatan panik.”
“Kalau bukan bener, ngapain klarifikasi?”
Bayangkan wak! Klarifikasi yang butuh ketenangan, kedewasaan, dan bukti nyata malah dianggap sebagai usaha menutupi kebenaran viral. Di sinilah logika jungkir balik. Kalau ikam viral, sampeyan benar. Kalau ente mengklarifikasi, lho dicurigai.
Secara filsafat terhadap fenomen itu, Socrates berguling di alam baka. Foucault geleng-geleng sambil cari sinyal. Sebab kebenaran yang dulu dicari dengan dialog, riset, dan diskusi, kini ditentukan oleh siapa cepat dia menang.
Coba nuan bayangkan, wak! Satu artikel viral dengan sumber tidak jelas bisa menggulingkan citra seseorang. Sedangkan klarifikasi yang penuh rujukan, fakta dan data valid dianggap sebagai “panjang amat, males bacanya.”
Filsafat hari ini sudah diubah algoritma. “Aku trending, maka aku benar.”
Klarifikasi butuh usaha, tulis dengan tenang, edit, pertimbangkan etika. Sementara viral? Cukup satu status, “Gue dapet info valid dari orang dalam, katanya istri menteri begini-begitu.”
Lalu, lempar ke X (dulu Twitter), tambahkan emoji api 🔥 dan dua tagar. Selesai. Kredibilitas orang runtuh, dan Tari naik follower 20 ribu dalam semalam. Bahkan dapat undangan podcast.
Sementara si istri menteri? Dapat undangan di persidangan opini publik TikTok, dengan caption, “Klarifikasinya makin nggak masuk akal ga sih?”
Akhirnya, yang tersisa adalah dunia tempat kebenaran bukan soal apa yang terjadi, tapi apa yang viral lebih dulu. Dunia di mana integritas kalah oleh intensitas, di mana klarifikasi dianggap “kurang effort” karena tidak dibuat dengan backsound lagu galau.
Bila nanti anak cucumu bertanya, “Kakek, dulu ibu menteri itu beneran ya begini-begitu?” Kau hanya bisa jawab, “Entah, Nak. Tapi yang jelas waktu itu viral banget. Berarti pasti ada apanya, kan?”
Begitulah sejarah ditulis, bukan oleh pemenang, tapi oleh yang punya akun yang punya ratusan atau jutaan followers. Para konten kretor seperti Tari sangat banyak di negeri ini. Seolah-olah merekalah sumber benaran hari ini. Ketika ia membuat artikel atau narasi bisa dianggap kebenaran, karena viral. Sementara, pihak yang mengklarifikasi, tidak akan mampu seviral para pembuat konten yang pengikutnya berjibun.
Inilah tragedi digital kita, wak. Ketika etika kalah oleh estetika narasi. Ketika kejujuran harus antre, sementara sensasi naik helikopter. Maka jangan heran, satu hari nanti kita mungkin akan menyaksikan klarifikasi dibuat seperti konten prank: penuh gimmick, lighting bagus, dan ending plot twist, baru dianggap kredibel. Bukan karena isinya benar, tapi karena tampilannya “niat.”
camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini














