• Latest
Ratoeh Jaroe di Panggung Dunia: Menari dalam Identitas Kita Sendiri - IMG 20250502 WA0010 | #Seni Tari | Potret Online

Ratoeh Jaroe di Panggung Dunia: Menari dalam Identitas Kita Sendiri

Juli 6, 2025
IMG_0573

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Ratoeh Jaroe di Panggung Dunia: Menari dalam Identitas Kita Sendiri - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | #Seni Tari | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Ratoeh Jaroe di Panggung Dunia: Menari dalam Identitas Kita Sendiri - IMG 20250502 WA0010 | #Seni Tari | Potret Online

Ratoeh Jaroe di Panggung Dunia: Menari dalam Identitas Kita Sendiri

Hanif Arsyad by Hanif Arsyad
Juli 6, 2025
in #Seni Tari, Aceh, POTRET Budaya, Sanggar Seni, seni
Reading Time: 4 mins read
0
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Hanif Arsyad 

Beberapa waktu lalu, publik Indonesia dikejutkan sekaligus dibuat bangga ketika akun resmi Apple. Ya, perusahaan teknologi global itu—menayangkan Tarian Ratoeh Jaroe dalam salah satu materi promosi mereka. Dalam video berdurasi kurang dari semenit itu, tampak para penari perempuan bergerak serentak dengan kostum khas Aceh, duduk bersaf rapi, dan menari seirama dengan harmoni gerakan yang menghentak dan memesona.

Media sosial pun langsung ramai. Banyak yang menuliskan rasa haru, tak sedikit pula yang menyatakan rasa bangga. Warganet membagikan ulang video itu sambil menandai kawan-kawannya: “Ini tarian dari Aceh, bro!” Atau, “Dulu aku juga pernah nari ini di sekolah!” Bahkan ada yang menulis, “Bangga banget, akhirnya dunia mengakui budaya kita!”

Namun, di balik semua kebanggaan itu, muncul satu pertanyaan yang seharusnya menjadi refleksi bersama: Mengapa kita baru merasa bangga ketika budaya kita tampil di panggung dunia? Mengapa tidak dari dulu kita rawat sendiri—sebelum orang lain yang mengangkat dan mengapresiasinya?

Budaya Kita yang Diangkat Dunia, Tapi Tersisih di Rumah Sendiri

Tarian Ratoeh Jaroe bukan satu-satunya warisan budaya Aceh. Daerah ini punya Tarian Saman, yang telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dunia. Ada juga Seudati, Likok Pulo, Ranup Lampuan, dan masih banyak lagi. 

Setiap tarian itu bukan hanya soal estetika, tapi mengandung pesan moral, spiritualitas, sejarah perjuangan, serta nilai-nilai sosial yang diwariskan turun-temurun.

Namun sayangnya, di banyak sekolah dan kampung hari ini, tarian-tarian itu makin jarang ditampilkan—apalagi diajarkan secara utuh. Anak-anak muda lebih akrab dengan gerakan TikTok, dance K-Pop, atau tren joget Instagram Reels yang viral. 

Mereka hafal setiap beat lagu luar negeri, tapi tak tahu makna di balik hentakan tangan dalam gerakan Ratoeh Jaroe atau kekompakan formasi Seudati.

Bukan salah mereka sepenuhnya. Kita, sebagai masyarakat, kadang lebih senang memamerkan budaya hanya saat ada tamu penting datang, saat 17-an, atau festival tahunan. Di luar itu, budaya hanya menjadi dekorasi kosong. Budaya diarak di atas panggung, tapi tidak dihidupkan dalam keseharian.

Ratoeh Jaroe: Kisah Perempuan Aceh yang Kuat dan Indah

Banyak orang mengira Ratoeh Jaroe hanyalah versi “perempuan” dari Tarian Saman. Padahal, tarian ini memiliki kekhasan tersendiri. Ia lahir dari semangat kolektif perempuan Aceh yang tangguh. 

Gerakan yang cepat, duduk berjajar, dan saling menyatu menunjukkan keteraturan, kekompakan, dan kedisiplinan.

Ratoeh Jaroe bukan hanya bentuk seni. Ia adalah narasi diam tentang ketangguhan perempuan Aceh, tentang kekuatan dalam keselarasan, tentang keindahan dalam keterikatan sosial. Ada filosofi dalam setiap tepukan dan gerakan kepala. Ada nilai solidaritas dan spiritualitas dalam setiap formasi.

Inilah yang seharusnya dipahami oleh generasi muda kita. Bahwa budaya tidak hanya untuk dipamerkan—tetapi untuk dipahami, dihidupkan, dan diwariskan.

Budaya Lokal adalah Pilar Kepribadian Bangsa

Di tengah dunia yang makin terkoneksi oleh teknologi dan tren global, budaya lokal adalah jangkar kepribadian. Kita boleh belajar dari luar, meniru yang baik dari dunia luar, tetapi identitas kita tidak boleh larut dan hilang. Budaya adalah pembeda kita dari bangsa lain. Ia adalah fondasi nilai yang membentuk karakter anak-anak kita.

Sayangnya, dalam sistem pendidikan formal kita, pelajaran budaya dan kesenian sering dipinggirkan. Ia dianggap pelengkap, bukan fondasi. Jam pelajarannya sering dipotong, gurunya minim, dan ekskul budaya kalah saing dengan ekskul digital dan olahraga modern.

ADVERTISEMENT

Padahal, budaya lokal adalah alat yang ampuh untuk membentuk karakter dan kebanggaan diri. Anak-anak yang tahu siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan apa nilai-nilai luhur budayanya, akan lebih kuat menghadapi arus globalisasi.

Dari Panggung Dunia ke Ruang Belajar dan Media Sosial

Kita perlu merevitalisasi budaya, bukan hanya di panggung pertunjukan, tetapi juga di ruang-ruang belajar dan media sosial. Sekolah harus kembali menghidupkan tarian daerah sebagai bagian dari pembelajaran karakter. Guru seni perlu diberi ruang dan dukungan untuk mengembangkan kreativitas lokal.

Baca Juga

IMG_0573

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026

Tak kalah penting, media sosial bisa menjadi ruang baru untuk menyebarkan kebudayaan secara bermakna. Anak-anak muda bisa membuat konten video yang tidak hanya menampilkan gerakan, tetapi juga menjelaskan makna budaya di baliknya. Podcast budaya, vlog edukatif, animasi cerita rakyat Aceh—semua bisa menjadi media populer yang mencerdaskan.

Kita juga perlu kampus-kampus di Aceh mengembangkan pusat kajian budaya lokal. Universitas Syiah Kuala sudah punya Pusat Studi Kebudayaan Aceh. UIN Ar-Raniry punya Pusat Dokumentasi Aceh. Kini saatnya kampus-kampus lain seperti Universitas Malikussaleh, UTU, dan ISBI Aceh mengambil peran lebih besar sebagai motor penggerak pelestarian budaya.

Mari Menari Bersama Sejarah, Bukan Hanya Mengejar Viral

Tarian Ratoeh Jaroe yang diputar oleh Apple seharusnya bukan hanya jadi momen kebanggaan sesaat. Ia harus jadi pemantik kesadaran bahwa budaya kita sangat bernilai—bukan karena diakui luar, tetapi karena ia membentuk siapa kita.

Kita tak boleh hanya menari saat ada tamu datang. Kita tak boleh hanya merasa bangga saat budaya kita dipakai orang luar. Budaya adalah milik kita, darah kita, napas kita.

Kini saatnya generasi muda Aceh menari bersama sejarah, bukan menari untuk mengejar viral semata. Mari hidupkan kembali budaya kita—di rumah, di sekolah, di komunitas, dan di ruang digital. Mari jadikan warisan nenek moyang kita bukan hanya tontonan, tapi tuntunan. Bukan hanya dikenang, tapi diteruskan.

Menarilah dalam identitasmu sendiri. Karena dari sanalah, kita berdiri sebagai bangsa.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 352x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 352x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 317x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 266x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 212x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236Tweet148
Hanif Arsyad

Hanif Arsyad

Hanif Arsyad adalah lulusan Magister Pendidikan Bahasa Inggris USK, berpengalaman sebagai dosen, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya aktif menulis di bidang pendidikan karakter, pengembangan SDM, serta kajian kebahasaan dan sosial. Saat ini, saya mengajar di Universitas Malikussaleh dan Hanna English School sebagai owner yang berlokasi di Aceh Utara. Saya juga menjabat sebagai Koordinator Yayasan Askar Ramadhan di Aceh yang bergerak di bidang sosial, serta dipercaya sebagai Kepala Sekolah Akademi Berbagi untuk klaster Aceh Utara dan Lhokseumawe. Keahlian saya mencakup penulisan ilmiah, editing, dan pendampingan riset.

Baca Juga

IMG_0573
Sejarah

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
Next Post

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com