POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Aceh dan Para Pembenci Pohon

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.SiOleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
July 5, 2025
Aceh dan Para Pembenci Pohon
🔊

Dengarkan Artikel


:

Antara Ketakutan Tak Masuk Akal dan Kebijakan Tak Bermoral

Oleh: Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh

Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh

Aceh tampaknya sedang mengalami epidemi aneh: ketakutan akut terhadap pohon. Fenomena ini, yang dalam istilah psikologi disebut dendrophobia, telah menjangkiti tidak hanya individu tak dikenal yang menebang pohon Jeju viral di Pantai Ulee Lheue, tetapi juga sebagian pengambil kebijakan dan pemegang dana publik. Pohon yang mestinya dilindungi sebagai simbol kehidupan dan warisan ekologis justru dianggap musuh dan dihabisi tanpa ampun.

Pohon Jeju —bak sakura tropis— hanyalah korban terbaru dalam daftar panjang penebangan absurd. Pohon ini sempat membuat Banda Aceh sedikit berbahagia di tengah suhu politik dan ekonomi yang tak ramah. Warga berkumpul, berfoto, dan sesaat merasa bahwa kotanya pantas dicintai. Namun pohon itu malah ditebang. Alasannya? Tak jelas. Ada yang bilang pelakunya mengidap gangguan psikologis. Kalau benar, apakah kita akan menyalahkan fobia sebagai dalih untuk menghancurkan ruang publik?

Sebelumnya, Masjid Agung Meulaboh memutuskan menebang sepuluh pohon cemara pantai karena “terlalu mirip pohon Natal.” Logika ini—antara paranoia dan tafsir puritanisme—menyeret ke absurditas yang lebih dalam. Padahal pohon tak pernah meminta ditafsirkan sebagai doktrin. Ia hanya berdiri diam, memberi oksigen, meneduhkan bumi, dan tak tahu-menahu soal Natal atau Syariat.

Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi simbol keislaman Aceh juga tak luput dari durjana penebangan. Pohon Kohler, saksi sejarah tewasnya jenderal kolonial Belanda, ditebang begitu saja oleh kontraktor proyek. Sejarah pun ikut ditumbangkan, persis seperti ingatan kolektif yang tak dianggap penting selama anggaran proyek jalan terus mengalir.

📚 Artikel Terkait

Kalahkan Aceh Selatan di Final, Tim Sepakbola Langsa Wakili Aceh ke Nasional

Pentingnya Menghadirkan Pendidikan Pengambilan Keputusan Finansial dalam Kurikulum

HABA Si PATok

Dahsyatnya Dampak Berwirausaha itu

Di pedalaman, hutan Leuser menyaksikan tragedi lebih sistemik. Bukan hanya satu-dua pohon, tetapi ratusan hektare tutupan hijau lenyap setiap tahun karena pembalakan liar, banyak di antaranya menggunakan dana proyek “penghijauan.” Ironi yang begitu vulgar: menanam lewat program Tahiroe, menebang lewat anggaran tahunan.

Ini bukan hanya soal fobia terhadap pohon—ini adalah fobia terhadap kehidupan itu sendiri. Antropolog Laura Rival (2021:3) menyebut pohon sebagai makhluk sosial yang memiliki kedudukan dalam peradaban.

Mereka bukan benda mati, tapi bagian dari struktur spiritual dan sosial masyarakat. Gabriele Schwab (2021:248) mengingatkan bahwa ketakutan terhadap pohon sering kali lahir dari trauma atau sikap kontrol terhadap yang tak bisa dijinakkan. Maka, dendrophobia di Aceh bisa saja bukan penyakit, melainkan gejala dari elitisme birokratis yang membenci apa pun yang tak bisa diukur dengan angka APBD.

Setelah tsunami, Aceh seharusnya belajar bahwa alam punya kuasa yang tak bisa ditaklukkan. Tapi justru kita menumpulkan ingatan itu dengan menebang, membakar, dan menutup mata. Saya, (Al Chaidar, 2023:12) telah mencatat dalam refleksi antropologis bahwa pembangunan pasca-tsunami cenderung abai terhadap ruang ekologis dan simbolik. Kita menghias kota dengan plang dan beton, tapi membiarkan pohon-pohon yang menjadi pelindung sosial tumbang begitu saja.

Pohon Jeju telah ditebang. Kohler sudah tumbang. Cemara sudah lenyap. Meranti di Leuser tinggal cerita. Pertanyaannya: pohon mana lagi yang akan dibunuh esok pagi?

 Referensi

Chaidar, A. (2023). The Tragedy of the Commons in Aceh: An Anthropological Reflection on the Post Tsunami Development of Ace. Icospolhum 2023.  

Rival, L. (Ed.). (2021). The Social Life of Trees: Anthropological Perspectives on Tree Symbolism. Routledge.  

Schwab, G. (2021). Trees, Fungi, and Humans. CR: The New Centennial Review, 21(3), 245–268.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share5SendShareScanShare
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Mengenal Francesca Albanese, Wanita Pemberani Dunia

Mengenal Francesca Albanese, Wanita Pemberani Dunia

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00