POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Koperasi Lawan Tanding Kapitalisme

RedaksiOleh Redaksi
June 24, 2025
Koperasi Lawan Tanding Kapitalisme
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Iwan Mariono

Saya baru saja mengkhatamkan buku yang judulnya diambil dari pernyataan Bung Hatta ini.

Koperasi yang sejati (bukan koperasi abal-abal) jelaslah menjadi lawan tanding paling efektif bagi kapitalisme saat ini, dan selamanya. Maksud dari sejati tentulah merujuk pada sifat utama dari koperasi: demokratis. Artinya, setiap orang punya status kepemilikan dan hak yang sama untuk menyampaikan pendapatnya, dari direktur yang paling tinggi, sampai office boy. Anda semua adalah bosnya.

Kesejatian inilah yang perlu kita pelajari lebih dalam, agar tak salah dalam mengidentifikasi mana yang koperasi dan mana yang bukan koperasi. Sebab, lebih dari setengah lembaga bernama koperasi yang ada di Indonesia justru abal-abal. Bahkan, tidak sedikit rentenir yang berbaju koperasi.

Sebagai bunga rampai yang dihimpun selama lima belas tahun (2009-2024), buku ini memberikan pencerahan kepada pembacanya agar bisa memahami koperasi dengan lebih baik. Demi memudahkan pembacanya, buku berisi 42 tulisan ini dibagi dalam empat bagian:

(1) Koperasi dalam dimensi makro-ideologi. Bagian ini mengajarkan kepada kita kerangka berpikir (paradigma) dan cara kerja koperasi, yang selama ini tak banyak dipahami masyarakat, malah sering disalahpahami. Seseorang tak mungkin bisa memercayai sesuatu sebelum ia mengenal sesuatu tersebut dengan lebih baik.

(2) Koperasi dalam masalah regulasi dan kebijakan. Kita tentu miris bahwa negara yang mencantumkan koperasi dalam konstitusinya seperti Indonesia justru menjadi negara yang tidak menjalankan koperasi itu sendiri dengan sepenuhnya. Malah beberapa negara yang kita tunjuk sebagai buyutnya kapitalisme justru menjalankan sistem koperasi secara efektif. Dalam buku ini dijelaskan negara-negara mana saja itu. Termasuk satu-satunya negara di dunia yang menerapkan total koperasi sebagai kebijakan ekonomi negaranya.

Yang menarik untuk saya cantumkan di sini adalah rasio gaji antara pejabat tertinggi sampai buruh terendah yang tidak lebih dari satu banding enam (1:6). Artinya jika buruh terendah memperoleh gaji tertinggi 2 juta, maka pimpinan tertinggi mendapat bagian tidak lebih dari 12 juta. Hal yang mustahil kita temukan dalam perusahaan milik kapitalis. Bahkan dalam BUMN yang konon milik rakyat itu, berapa rasio gaji antara komisaris dan office boy? Jangan tanya lagi, 1 banding ribuan!

(3) Pengembangan koperasi di berbagai sektor. Anda yang selama ini mengira bahwa koperasi sekadar sebagai tempat simpan pinjam uang, usaha kecil-kecilan seperti toko kelontong yang tak beda dengan UMKM, akan terkejut mendapati bahwa koperasi jauh dari bayangan tersebut. Sebagai contoh, sebagian gedung-gedung tinggi bak pencakar langit yang ada di Kanada adalah milik koperasi. Bahkan salah satu klub sepakbola terbesar di dunia seperti Barcelona adalah milik koperasi. Itulah mengapa slogannya Mes Que un Club (lebih dari sekadar klub). Ulasan lengkapnya silakan baca di bagian ini.

(4) Membangun masa depan koperasi dan ekonomi rakyat. Dalam bagian ini saya sangat miris mendapati negeri seperti Amerika Serikat yang kita anggap sebagai negerinya kapitalis itu ternyata adalah negara yang penduduknya menjalankan sistem koperasi paling besar, yakni sebesar 26 persen dari total 300 koperasi besar di seluruh dunia yang dirilis oleh ICA (International Cooperative Alliance). Sayangnya dari 300 daftar koperasi tersebut, tak ada satu pun yang dari Indonesia.

📚 Artikel Terkait

Warga Banda Aceh Lansia dan Sakit Bisa Perekaman KTP di Rumah

Begitu Susahnya Tito Minta Maaf pada Rakyat Aceh

Menguak Makna Hari Kartini di Era Milenial

Map Merah

Harus diakui bahwa membangun koperasi adalah seperti membangun peradaban, tidak ada yang instan. Satu contoh koperasi Mondragon di Basque adalah koperasi yang dibangun selama 70 tahun lamanya hingga menjadikannya koperasi terbesar di Spanyol. Anda yang merintis koperasi dari yang skala yang paling kecil boleh jadi bukan Anda yang menikmati pencapaian puncaknya.


Penting untuk dipahami bahwa perbedaan mendasar antara sistem koperasi dan kapitalisme adalah: koperasi tidak menempatkan modal sebagai tujuan utama melainkan manusianya (people-based association), modal (kapital), melainkan hanyalah alat bantu; sedangkan kapitalisme menempatkan modal sebagai hal yang utama (capital-based association). Maka bukanlah profit (keuntungan) yang menjadi tujuan utama koperasi, melainkan benefit (kebermanfaatan). Dengan cara seperti itulah kita benar-benar menjalankan demokrasi dalam bidang ekonomi.

Suroto, tidak saja menulis koperasi sebatas teori, ia juga aktif mengadvokasi pelaku koperasi dengan menjadi konsultan independen dalam berbagai kegiatan kebijakan sosial-ekonomi dan koperasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Perjalanannya ke berbagai negara dalam mengamati jalannya koperasi menjadi jaminan terhadap bobot tulisannya.

Dua tahun sebelum buku ini terbit, saya sudah membaca buku berisi kumpulan karya dan pidato Bung Hatta mengenai koperasi yang diterbitkan oleh Kompas dengan judul “Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun”, yang kemudian diterbitkan kembali oleh LP3ES dan menjadi jilid ke-6 dari Karya Lengkap Bung Hatta. Buku berisi gagasan revolusioner Hatta dalam bidang ekonomi, hingga menjadi landasan konstitusi kita dalam menjalankan sistem ekonomi yang tertuang dalam pasal 33 UUD 1945.

Ternyata, Suroto menjadikan pula buku ini sebagai salah satu inspirasi tulisannya. Jadi sebelum Anda membaca jilid ke-6 tersebut, sangat direkomendasikan untuk baca buku Suroto ini. Atau sebaliknya yang sudah baca jilid ke-6, maka buku Koperasi Lawan Tanding Kapitalisme ini menjadi kontekstual untuk melihat pemikiran Hatta yang jauh melampaui zamannya.

Koperasi mengajarkan kepada bagaimana hidup di alam demokrasi yang sejati. Dalam bernegara, setiap orang harus menyadari, bahwa demokrasi politik tanpa demokrasi ekonomi sesungguhnya adalah negeri tanpa demokrasi. Maka dalam memahami Pancasila yang menjadi dasar filosofi NKRI itu saya berkesimpulan bahwa: kita perlu persatuan (sila ke-3) tetapi kita lebih perlu hak kita yang dihormati sekaligus kesejahteraan hidup kita yang dijamin (sila ke-3 dan ke-5).

Di akhir-akhir buku ini Suroto menjelaskan bahwa ada dua masalah utama kenapa koperasi di Indonesia tidak berkembang. (Hlm. 264-265).

Pertama adalah persoalan paradigma, masyarakat masih banyak yang tidak paham yang dimaksud dengan koperasi dan arti pentingnya bagi pembangunan yang berdaulat dan mandiri. Kenapa bisa sampai tidak paham? Sebab koperasi sebagai ilmu pengetahuan dan temuan penting peradaban tidak pernah diajarkan di bangku sekolah. Bahkan disingkirkan sejauh mungkin sebelum masuk ke pikiran.

Sebaliknya, sebagaimana diungkapkan oleh Prof. Sri-Edi Swasono dalam pengantar buku ini, bahkan: “Mahasiswa-mahasiswa pemula mengawali belajar ilmu ekonomi yang berhaluan persaingan dan mekanisme pasar, dengan supply dan demand yang bebas naik dan bebas turun. Artinya, mereka belajar ilmu ekonomi berdasar “kompetitivisme”, bukan berdasar “kooperativisme”.” (Hlm. xlii).

Kedua adalah soal regulasi dan kebijakan. Koperasi tidak diberi kesempatan untuk menjadi opsi bagi pengembangan bisnis di sektor layanan publik. Misal (1) koperasi tidak dijadikan sebagai pilihan badan hukum dalam UU BUMN; dan (2) dalam layanan kesehatan, investasi asing yang menanam modal di sektor kesehatan wajib berbadan hukum perseroan (tidak heran kalau layanan kesehatan sangat rentan dikapitalisasi).


Sebentar lagi kita memperingati hari koperasi, entah kapan negeri ini menjadikan koperasi sebagai soko guru perekonomiannya. Sebab jangankan soko guru, bahkan soko pinggiran pun belum sampai.[]

*Sukabumi, 23 Juni 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Sejarah Banda Aceh (Emperom dan Goheng) - Review Artikel

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00