Dengarkan Artikel
Oleh: Afridal Darmi, SH, LLM
Empat puluh tahun yang lalu, tidak ada rasa manis dalam masakan utama di dapur-dapur Aceh. Manis hanya untuk minuman, dessert, kue-kue, bukan untuk hidangan utama. Kami orang Aceh yang memiliki preferensi rasa yang tegas dalam masakan: gurih, asin, asam dan pedas. Orang Aceh menganggap rasa manis dalam hidangan utama adalah sesuatu yang canggung, bahkan asing.
Gulai atau hidangan lainnya, bahkan sambal lado atau terasi yang terasa manis sedikit saja, langsung dicemberuti dan ditinggalkan, gagal disantap.Masakan daging seumpama gulai kari, sie reuboh, bahkan rendang, demikian juga masakan berbahan ikan atau sayuran, tidak memasukkan pemanis apapun dalam bumbunya.
Warung nasi atau warung mie Aceh sederhana, bahkan di dapur-dapur rumah tangga Aceh mengandalkan kecap asin produksi Langkat atau Medan seperti “Cap Panah” atau “Cap Singa”. Mereka digunakan secukupnya, fungsional, tanpa mengubah karakter dasar dari rasa masakan Aceh yang kuat dan berkarakter.
Ikan bakar dengan sambal colek pedas? Pasti dengan kecap asin dan potongan cabe rawit. Mie instan rebus atau mie kocok? Kecap asin juga. Bahkan rujak mangga muda, atau anyang pepaya mengkal juga berbumbukan kecap asin bersama cabe dan kucuran jeruk nipis.
Kami percaya filosofi rasa di Aceh mencerminkan ketegasan dan keberanian, seperti watak perjuangannya. Bukan rasa manis yang melalaikan, meninabobokan sampai lupa pada lingkungan dan penderitaan sekitar.
Lalu pada akhir tahun 1980-an kecap manis mulai hadir dalam sachet-sachet di warung-warung kelontong dan kedai bumbu. Kecap manis ABC adalah pioneer dalam arah baru ini, disusul tak terhitung merek lain seumpama kecap Indofood dan Bango. Tetapi kami, anak dan orang dewasa pada generasi itu, bergeming. Kami acuhkan kecap-kecap manis itu dan bertahan dengan kecap asin kami yang tercinta.
Sekarang jika dibayangkan kembali, mungkin penetrasi pasar yang dicoba oleh produsen kecap manis itu di Aceh dan Sumatera Utara betul-betul parah. Hanya sedikit produk mereka yang dibeli oleh konsumen. Namun di sinilah menariknya upaya dagang itu. Sebagaimana kami bergeming tak mau berpindah rasa, mereka pun tak kalah persisten, tidak menyerah, tetap menghadirkan sachet demi sachet atau botol kecil kecap manis itu, siapa tahu ada yang mulai mencoba rasa baru yang asing itu.
Ketika satu edisi kecap mendaluwarsa, langsung ditarik dari pasaran dan penggantinya yang lebih segar didatangkan untuk mengis irak-rak jualan.
Lalu kita memasuki zaman kejayaan televisi swasta pada dekade 1990-an dan 2000-an, konsumen pun diserbu kampanye pemasaran dan distribusi yang masif oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Indofood dan Unilever.
Produk mereka bukan hanya diiklankan untuk dijual, tapi juga dimasukkan dalam narasi kehidupan sehari-hari: iklan yang menawarkan keajaiban mengubah masakan sederhana menjadi luar biasa, asalkan juru masak menuangkan kecap ABC; iklan keluarga harmonis yang memasak bersama dengan Bango; bintang sinetron yang menyuapkan ayam kecap ke anaknya dengan senyum penuh kasih; hingga restoran cepat saji lokal yang mulai memadukan bumbu-bumbu manis ke dalam menunya. Perlahan, tapi pasti, aroma kecap manis mulai menyusup ke dapur Aceh.
Di saat yang sama, generasi baru Aceh tumbuh dengan dipandu oleh televisi nasional, migrasi urban, dan keterhubungan dengan budaya Indonesia lainnya yang lebih terbuka terhadap rasa manis. Dan “serbuan pelengkap” adalah ketika Tsunami 2004 menghantam, bantuan logistik dari luar Aceh membawa serta makanan siap saji, mie instan, dan bumbu instan—semuanya dengan profil rasa manis-umami khas Indonesia.
Maka hari ini, setelah empat puluh tahun serbuan itu dimulai, tak lagi sulit menemukan mie Aceh dengan cita rasa agak manis, nasi goreng dengan kecap manis, bahkan masakan rumah yang sesekali dimasukkan sedikit Bango atau ABC. Kecap asin Langkat dan Medan yang pernah demikian melegenda, perlahan surut di sudut-sudut berdebu warung kelontong.
📚 Artikel Terkait
Rasa manis mulai biasa dan bahkan menurut gejala akan meraja dan menguasai lidah dan perasa orang Aceh kontemporer.
Hegemoni dalam Sejumput Rasa
Contoh ini bukanlah sekadar kisah tentang pergeseran selera. Ini adalah contoh kecil dari hegemoni budaya—strategi dominasi yang tidak dilakukan dengan paksaan, melainkan melalui infiltrasi perlahan dan halus yang mengubah cara berpikir, merasa, bahkan makan.
Antonio Gramsci, seorang pemikir Italia, pernah menjelaskan konsep hegemoni sebagai dominasi yang diperoleh bukan melalui kekerasan atau senjata, melainkan lewat persetujuan sosial dan budaya.
Penguasa tidak perlu memaksakan kehendak dengan paksa jika mereka berhasil membuat nilai-nilai mereka dianggap “normal” oleh masyarakat. Ia menggunakan konsep ini untuk menggambarkan kepemimpinan ideologis dan budaya yang dilakukan oleh kelas dominan terhadap kelas yang didominasi, bukan hanya dengan kekuatan koersif (militer, hukum), tetapi dengan persetujuan sukarela dari masyarakat melalui institusi seperti pendidikan, media, agama, dan budaya.
Gramsci menjelaskan teorinya tentang dominasi dan hegemoni terutama dalam karyanya yang terkenal berjudul Prison Notebooks (Quaderni del Carcere). Buku ini bukan satu karya utuh yang ia tulis dan terbitkan secara sistematis, melainkan kumpulan catatan yang ia tulis selama dipenjara oleh rezim fasis Mussolini antara tahun 1929 hingga 1935. Dalam bahasa Indonesia, buku ini telah diterjemahkan sebagai: Catatan dari Penjara oleh penerbit Marjin Kiri.
Dalam contoh kecap manis di atas, pergeseran preferensi rasa itu terjadi. Lama-kelamaan, generasi muda Aceh yang mulai belajar memasak tidak lagi merujuk sepenuhnya pada tradisi lisan atau petuah nenek. Mereka mulai memasak dari bungkus bumbu instan, dan menyamakan kecap manis dengan”kewajaran”.
Hal ini menciptakan bentuk baru dari“normalitas rasa” yang sebelumnya asing. Yang menarik, perubahan ini tidak disadari sebagai “penjajahan rasa”, karena tidak ada kekerasan, tidak ada paksaan, bahkan terasa “alami”.
Inilah kekuatan hegemoni: ia membuat dominasi terasa seperti pilihan pribadi. Sesuai dengan kata Gramsci dalam bukunya itu: “Hegemoni adalah seni memimpin masyarakat tanpa paksaan, tetapi dengan persetujuan yang diraih melalui pengaruh budaya.”
Apa yang terjadi pada rasa masakan orang Aceh sebenarnya adalah potret kecil dari dinamika yang lebih besar. Budaya lokal dihadapkan pada arus kuat budaya dominan nasional atau global, yang dibungkus dalam kemasan modernitas, kenyamanan, dan keterjangkauan.
Jika dulu hegemoni politik dilakukan melalui militer atau administrasi kolonial, hari ini ia hadir lewat logistik pasar, jaringan distribusi, iklan, dan perubahan gaya hidup. Kita tidak lagi hanya “diminta patuh”, tapi diajak “ikut menikmati”.
Selain wataknya yang sebenarnya hendak menguasai wala udengan tanpa paksaan, ada dua komponen utama dalam upaya hegemoni itu, katakanlah modal agar hegemoni itu sukses, yaitu: persistensi dan waktu yang lama. Seakan penguasa di balik layar yang menjadi dalang semua penguasaan dan perubahan itu berkata: “Pelan-pelan saja, tak perlu buru buru. Tak usah pakai kekerasan. Yang penting sabar dan terus berusaha. Lama-lama mereka akan takluk juga”.
Mengapa Ini Penting?
Menelusuri perubahan kecil seperti kecap manis dalam dapur orang Aceh, bukan sekadar nostalgia atau perkara rasa. Ini adalah cermin bagaimana dominasi budaya bekerja perlahan, mengendap, dan mengakar dalam kehidupan sehari-hari.
Jika kita tidak sadar, kita akan kehilangan bukan hanya rasa asli, tapi juga identitas kolektif yang menyertainya.
Hegemoni tidak selalu jahat. Tapi memahaminya adalah langkah penting agar kita bisa memilih dengan sadar, bukan hanya sekadar mengikuti arus.
Dalam setiap tetes kecap manis yang kita tuangkan hari ini, ada cerita tentang bagaimana dunia pelan-pelan mengubah kita. Tak ada yang salah mencintai rasa baru—selama kita tahu apa yang telah berubah dan mengapa itu terjadi.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






