POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Bahasa

Kesopanan (dalam) Dunia Tulis

Redaksi by Redaksi
Mei 14, 2025
in Bahasa, Budaya, kebudayaan, Menulis, POTRET Budaya
0
Kesopanan (dalam) Dunia Tulis - 1000561439_11zon | Bahasa | Potret Online


Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya

Dunia ini panggung paradoks. Kita membaca dan menulis, mendengar dan berbicara—dua keping mata uang yang tak terpisahkan.

Saya menulis karena membaca. Saya berbicara karena mendengar. Keduanya adalah bahasa; satu menari lewat aksara, satu mengalun lewat suara.

Baca Juga
  • Kesopanan (dalam) Dunia Tulis - ad860d9c 8c83 453d 9696 a530c5fb068a | Bahasa | Potret Online
    Cerpen
    Kanjeng dan Pohon Keramat
    13 Des 2023
  • 02
    Aceh
    Menulis Berhadiah di Majalah Anak Cerdas
    16 Apr 2024

Sama-sama alat untuk menyampaikan isi hati, pikiran, maksud dan tujuan. Tapi dunia terus berubah, dan bahasa pun terguncang.

Bahasa tulis—yang dulu mungkin hanya milik para pujangga dan cendekia—kini ada di genggaman siapa saja. WhatsApp, email, Instagram, semua menjadikan bahasa tulis alat komunikasi utama.

Baca Juga
  • 01
    Bener Meriah
    Festival Panen Kopi Bener Meriah 2018
    21 Nov 2018
  • Kesopanan (dalam) Dunia Tulis - IMG_9052 | Bahasa | Potret Online
    POTRET Budaya
    Hanya Sejenak
    24 Jan 2025

Undangan tak lagi diucapkan, cukup dikirim lewat gambar digital dengan huruf-huruf yang didesain manis.

Bahkan konfirmasi kehadiran diminta hanya dengan satu klik. Tak perlu bertatap muka, tak perlu menundukkan kepala atau membungkukkan badan.

Baca Juga
  • Kesopanan (dalam) Dunia Tulis - 89E629EB 8496 4F2E A13A 02BF4B0B7FE5 | Bahasa | Potret Online
    POTRET Budaya
    Senerai Puisi Jonson Effendi
    25 Apr 2022
  • 02
    POTRET Budaya
    Di Balik Topeng Narsisme
    22 Mei 2024

Datang, terima kasih. Tidak datang, tidak apa-apa.

Di sinilah paradoks itu menggeliat. Sampai di mana bahasa tulis menggusur bahasa lisan?

Di Bali, etika dan sopan santun adalah napas dalam setiap tutur kata. Dalam bahasa lisan, bukan hanya isi yang penting, tapi cara menyampaikannya juga tak kalah pentingnya. “Tityang sadia meriki,” bukan sekadar datang, tapi niat dan hormat yang ditegaskan.

Dalam kabar duka, tidak ada kalimat ajakan, hanya “matur piuning”—memberi tahu, bukan mengundang. Karena dalam lisan, rasa dan relasi dijalin, bukan sekadar informasi yang dipindahkan.

Namun kini, sopan santun semakin kabur di balik layar. Bahasa lisan, yang selama ini mengajarkan adab dan empati, perlahan surut digantikan teks-teks dingin tanpa intonasi.

Siapa yang bertanggung jawab atas pergeseran ini? Kita semua, mungkin. Atau mungkin pula tidak ada yang betul-betul bersalah, hanya zaman yang terus melaju tanpa menunggu.

Paradoks ini tak meminta jawaban, hanya kesadaran. Bahwa dalam setiap kata yang kita tulis dan ucapkan, ada nilai yang harus dijaga. Karena bahasa bukan sekadar alat, tapi cermin dari siapa kita.

Denpasar, 14 Mei 2025

Previous Post

Mengenal Ir. Kasmudjo, Dosen Pembimbing Akademik Jokowi

Next Post

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Next Post
Kesopanan (dalam) Dunia Tulis - 1000579147_11zon | Bahasa | Potret Online

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah