• Latest
Selamat Datang di Negeri Para Pengangguran - 2025 05 07 18 38 37 | #Menganggur | Potret Online

Selamat Datang di Negeri Para Pengangguran

Mei 7, 2025
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Selamat Datang di Negeri Para Pengangguran - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | #Menganggur | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Selamat Datang di Negeri Para Pengangguran - 2025 05 07 18 38 37 | #Menganggur | Potret Online

Selamat Datang di Negeri Para Pengangguran

Ririe Aiko by Ririe Aiko
Mei 7, 2025
in #Menganggur, sarjana
Reading Time: 2 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Ririe Aiko

Eza, 28 tahun, lulusan universitas negeri ternama, penuh prestasi dan berlembar-lembar sertifikat dari TK hingga kuliah—kini harus menelan kenyataan pahit: ia masih menganggur.

Bukan karena malas. Justru sebaliknya, Eza lebih rajin dari sebagian orang yang sudah punya pekerjaan. Ia bangun pagi, rapi berpakaian, menata berkas lamaran seperti hendak berangkat kerja. Tapi bukan ke kantor tujuannya—melainkan ke tempat fotokopi, atau sekadar duduk di warung kopi, menanti kabar lowongan dari grup pencari kerja.

Lima tahun berlalu sejak ia lulus. Ratusan lamaran telah dikirim, puluhan wawancara dijalani. Ia hafal bentuk-bentuk penolakan, yang intinya sama: “Maaf, bukan kamu yang kami cari.” Bahkan, mungkin map coklat yang ia beli lebih sering jadi bungkus gorengan ketimbang sampai ke tangan HRD.

Padahal, IPK-nya cumlaude. Di SMA, ia langganan olimpiade, membawa pulang medali demi medali. Namanya sempat dibanggakan sekolah, dipajang di media sosial oleh para guru. Tapi kini, semua penghargaan itu tersimpan rapi dalam laci—berdebu, nyaris dilupakan.

Dompetnya pun lebih sering berisi catatan utang daripada uang. Semua demi ongkos cetak, fotokopi, dan transport mencari kerja. Kadang ia bertanya dalam hati: Apakah semua perjuangan itu sia-sia?

Lebih menyakitkan lagi, Eza mencari kerja di tengah gelombang PHK massal. Ribuan kehilangan pekerjaan—sementara ia bahkan belum pernah diberi kesempatan untuk memulai.

Baca Juga

Selamat Datang di Negeri Para Pengangguran - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | #Menganggur | Potret Online

Cum Laude, Standar Global, dan Kesadaran Pendidikan Abad ke-21

September 6, 2025
Selamat Datang di Negeri Para Pengangguran - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | #Menganggur | Potret Online

Cum Laude, Standar Global, dan Tantangan Pendidikan Abad ke-21

Agustus 28, 2025

Satu Keluarga (miskin) Satu Sarjana

Juli 31, 2025

Ia mulai bertanya-tanya:
Apakah negeri ini tak lagi butuh orang berpotensi?
Apakah nilai tinggi dan piagam penghargaan kini cuma formalitas?
Atau, jangan-jangan negeri ini hanya ramah bagi yang punya koneksi, bukan kompetensi?

Kisah Eza memang fiktif. Tapi getirnya nyata. Ia satu dari sekian banyak “Eza-Eza” lain—terjebak dalam siklus lamaran, wawancara, lalu ditolak.

Sementara itu, negeri ini terus bicara soal bonus demografi, generasi emas, dan kebanggaan atas prestasi anak bangsa. Tapi lupa, bahwa banyak anak-anak berprestasi kini duduk termenung di kamar—bukan karena menyerah, tapi karena tak pernah diberi ruang untuk membangun masa depan. Kesempatan tertutup oleh kualifikasi yang kadang tak masuk akal.

Selamat datang di negeri para pengangguran
—tempat di mana sertifikat hanya hiasan, ijazah jadi pelengkap, dan masa depan? Entah di mana.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 342x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 312x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet147
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Baca Juga

feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
Next Post

HABA Si PATok

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com