• Latest
Dua Ekor Ayam dan Darah yang Mengering - 1000486727_11zon | POLRI | Potret Online

Dua Ekor Ayam dan Darah yang Mengering

April 8, 2025
Dua Ekor Ayam dan Darah yang Mengering - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | POLRI | Potret Online

Geopolitik Empati: Bagaimana Kekuasaan Menentukan Siapa yang Boleh Menderita

April 1, 2026
IMG_0573

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Dua Ekor Ayam dan Darah yang Mengering - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | POLRI | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Dua Ekor Ayam dan Darah yang Mengering - 1000486727_11zon | POLRI | Potret Online

Dua Ekor Ayam dan Darah yang Mengering

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
April 8, 2025
in POLRI, POTRET Budaya, Puisi Essay
Reading Time: 3 mins read
0
591
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Gunawan Trihantoro

Pelaku pencurian ayam berinisial T (37) tewas dikeroyok warga di Desa Rancamanggung, Kecamatan Tanjungsiang, Subang, Jawa Barat, Selasa (1/4/2025) malam sekitar pukul 23.30 WIB. [1]


Malam itu bersuara seperti gerimis yang jatuh di atas genting,
sepi, tapi berisik.
Lalu ada langkah-langkah tergesa,
bayangan yang merangkak di antara kandang ayam,
dan tangan-tangan yang menggapgap dalam kegelapan.

“Siapa?!” teriak seseorang dari dalam rumah.
Tapi maling itu sudah lari,
membawa dua ekor ayam yang terjaga,
kaki mereka diikat, paruh mereka ternganga.

Tapi desa ini bukan tempat untuk lari.
Desa ini punya mata di setiap pojok,
punya telinga di balik jendela,
punya pentungan dan bambu runcing
yang sudah lama tak dipakai.

-000-

Mereka kejar dia seperti kejar tikus yang masuk lumbung.
“Tangkap! Maling!”
Suara itu bergulung-gulung di jalan tanah,
menggulung lehernya seperti tali.

Dia lari,
ke kiri, ke kanan,
ke dalam selokan,
ke bawah jembatan.
Tapi desa ini terlalu sempit untuk dosa.

Sampai akhirnya dia terjatuh,
dan kerumunan itu datang:
“Ini dia! Hajar!”

-000-

Pentung pertama mengenai punggungnya.
Pentung kedua pecahkan kepalanya.
Pentung ketiga, keempat, kelima,
tidak ada yang berhenti menghitung.

Dia berteriak,
tapi suaranya tenggelam dalam dengus nafas massa.
Dia merangkak,
tapi kakinya patah seperti ranting kering.

“Bunuh saja! Maling!”
“Dia sudah maling sejak lama!”
“Kasihan? Dia tidak kasihan waktu mengambil ayam kita!”
Dan darahnya mengalir ke selokan,
bercampur dengan air kotor dan bulu ayam yang rontok.

-000-

Polisi datang ketika tubuhnya sudah dingin.
Delapan orang mereka tangkap,
bukan delapan pentung,
bukan delapan amarah,
tapi delapan nama yang kebetulan ada di tempat salah,
di waktu yang salah.

“Kami hanya warga,” kata mereka.
“Kami hanya membela hak.”
“Dia maling, Pak. Sudah sering.”

Tapi siapa yang menghitung ayam-ayam yang hilang
sebelum darah ini tumpah?
Siapa yang menimbang:
berapa nilai nyawa
untuk dua ekor ayam?

-000-

Kini kandang ayam itu kosong lagi.
Tidak ada yang berani mencuri,
tidak ada yang berani berteriak.

Hanya ada bau anyir yang menempel di tanah,
dan daftar nama delapan orang
yang harus menjawab di pengadilan.

ADVERTISEMENT

Di sudut desa, seorang ibu menggumam:
“Dia memang maling, tapi anaknya masih kecil…”


Rumah Kayu Cepu, 4 April 2025

Baca Juga

76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
Dua Ekor Ayam dan Darah yang Mengering - 5de97004 0731 46d3 b7a2 38575dadc077 | POLRI | Potret Online

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026

CATATAN KAKI:
[1] Puisi esai ini terinspirasi dari peristiwa penangkapan delapan warga Subang atas dugaan penganiayaan hingga tewas terhadap pencuri ayam,
https://lampung.tribunnews.com/2025/04/04/maling-ayam-di-subang-tewas-dikeroyok-warga-polisi-tangkap-8-orang?page=2 dan Polres Subang menangkap pelaku penganiayaan setelah viralnya video kejadian tersebut https://www.tintahijau.com/megapolitan/aniaya-maling-ayam-hingga-tewas-polres-subang-tangkap-8-orang-pelaku/

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 361x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 358x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 320x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 268x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 215x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236Tweet148
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Baca Juga

Dua Ekor Ayam dan Darah yang Mengering - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | POLRI | Potret Online
Artikel

Geopolitik Empati: Bagaimana Kekuasaan Menentukan Siapa yang Boleh Menderita

April 1, 2026
IMG_0573
Sejarah

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Next Post
Dua Ekor Ayam dan Darah yang Mengering - CFDCC9DE 10AF 480D 9946 43AEFE60A1F2 | POLRI | Potret Online

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com