POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Teungku Chik Abbas Kuta Karang; Ulama Pejuang dan Penasehat Teungku Chik Di Tiro

Nurkhalis MuchtarOleh Nurkhalis Muchtar
February 4, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dr. Nurkhalis Muchtar, Lc. M.A

Nama aslinya Teungku Syekh Abbas Kuta Karang, namun masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan Teungku Chik Kuta Karang. Beliau merupakan ulama Aceh yang dituakan dalam perang Aceh yang dipimpin oleh Teungku Chik Di Tiro. 

Beliau dan Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee adalah ulama yang sangat diperhitungkan dalam perang Aceh selain pemimpin besarnya Teungku Chik Di Tiro. 

Tidak diketahui secara persis tahun lahirnya Teungku Chik Kuta Karang, namun secara pasti beliau lebih tua dari ulama yang segenerasi dengannya. Beliau lebih tua dari Teungku Chik Pantee Kulu, Teungku Chik Di Tiro dan Teungku Chik Pantee Geulima, dan beliau kemungkinan sebaya dengan Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee.

Teungku Chik Kuta Karang juga seorang Qadhi Kesultanan Aceh pada era terakhir. Masa awal mulai peperangan Aceh, beliau berada pada posisi Qadhi Malikul Adli. Sedangkan Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee sebagai Qadhi Rabbul Jalil.

Keduanya adalah ulama besar. Disebutkan bahwa Teungku Chik Abbas Kuta Karang mematangkan keilmuannya di Mekkah. 

Melihat kepada teman yang sebaya dengannya, maka Teungku Chik Abbas Kuta Karang belajar di Mekkah segenerasi dengan ulama besar nusantara lainnya yang berasal dari Tanah Banten, yaitu Syekh Nawawi al-Jawi al-Bantani. Syekh Nawawi diperkirakan lahir pada tahun 1813 dan wafat tahun 1897 dalam usia 84 tahun. 

Syekh Nawawi adalah ulama yang dikenal produktif dalam menulis. Ada yang menyebutkan karya beliau mencapai 114 judul. Umumnya ditulis dalam bahasa Arab dan sampai sekarang karyanya dicetak di berbagai percetakan Timur Tengah, termasuk di Kairo Mesir dan Bairut Libanon.

Sebagaimana Syekh Nawawi berguru kepada Syekh Sayyid Zaini Dahlan, maka kemungkinan Teungku Chik Abbas Kuta Karang juga belajar pada Syekh Zaini Dahlan. Sama halnya dengan Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee ,juga demikian. 

Selain Syekh Ahmad Zaini Dahlan, ulama lainnya yang berasal dari nusantara dan menjadi pengajar di Masjidil Haram pada masa itu adalah Syekh Ahmad Khatib Sambas yang juga merupakan Syekh Kamil Mukammil untuk Tarekat Qadiriah wa Naqsyabandiyah. Syekh Ahmad Khatib Sambas sendiri memiliki beberapa murid yang umumnya menjadi para ulama yang dikenal di wilayahnya masing-masing seperti Syekh Abdul Ghani Bima dan Syekh Abdul Karim Banten.

Syekh Ahmad Khatib Sambas yang disebut di sini berbeda dengan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau. Syekh Ahmad Khatib Minangkabau lahir sekitar tahun 1855. Beliau berguru kepada keluarga Syatta di antaranya Syekh Sayyid Bakhri Syatta yang lahir sekitar tahun 1844. Pengarang kitab Hasyiah I’anatuhthalibin dan beliau berguru kepada Syekh Ahmad Zaini Dahlan yang wafat tahun 1886 yang juga guru dari Syekh Nawawi al-Bantani dan gurunya para ulama Aceh yang umumnya bergelar teungku chik seperti Teungku Chik Kuta Karang dan ulama lainnya. 

📚 Artikel Terkait

SPPI Tandatangani Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Perlindungan Awak Kapal Perikanan di Taiwan

USIA

PENDISTRIBUSIAN BUKU CETAK MATA PELAJARAN DAN BAHAN SERAGAM SEKOLAH ERA PANDEMI COVID-19 VERSI SMP NEGERI 1 PONCOWARNO

Thailand Mengklaim sudah Melenyapkan 100 Tentara Kamboja

Jadi, pada era inilah Teungku Chik Kuta Karang hadir sebagai seorang penuntut ilmu yang kemudian menjadi seorang ulama yang diperhitungkan di Aceh. Setelah menyelesaikan masa belajarnya di Mekkah, pulanglah Syekh Haji Abbas Kuta Karang untuk menyebarkan ilmunya kepada masyarakat. 

Syekh Haji Abbas yang kemudian dikenal dengan sebutan Teungku Chik Kuta Karang. Beliau disebutkan pernah diangkat sebagai Syeikhul Islam atau Mufti Kerajaan Aceh pada kurun 1870-1874, karena mulai tahun 1873 awal perang terbuka antara Kerajaan Aceh dan Belanda yang ingin menjajah. 

Maka semenjak itu, Teungku Chik Abbas Kuta Karang dan para ulama lainnya bahu-membahu untuk mengusir penjajah. Dan perang yang paling sengit di Aceh terjadi dalam rentang 1881 sampai 1891. Perang ini dipimpin oleh seorang ulama besar dari Tiro Pidie yaitu Teungku Chik Di Tiro yang kemudian didukung oleh banyak para ulama besar lainnya seperti: Teungku Chik Abbas Kuta Karang, Teungku Chik Abdul Wahab Tanoh Abee, Teungku Chik Pantee Kulu, Teungku Chik Pantee Geulima, Teungku Chik Umar Diyan, Teungku Chik Ahmad Bungcala, Teungku Muda Kruengkalee dan juga para bangsawan Aceh seperti Tuwanku Hasyim Banta Muda, Teuku Panglima Polem Daud Syah, Tuwanku Raja Kemala dan lainnya. 

Selain para teungku chik yang telah disebutkan, di Aceh Barat juga hadir seorang tokoh pejuang yang sangat diperhitungkan oleh Belanda sepak terjangnya, yaitu Teuku Umar Johan Pahlawan yang juga akhirnya syahid di medan pertempuran. Adapun isterinya Cut Nyak Dien juga merupakan pahlawan hebat yang ditangkap dan diasingkan oleh Belanda ke Sumedang dan wafat di Sumedang Jawa Barat. Kuburnya sampai sekarang masih dirawat dan dijaga. 

Cut Nyak Dien sebagaimana disebutkan oleh masyarakat Sumedang, merupakan seorang wanita yang hafal Al-Qur’an dan seorang perempuan berkharisma. Walaupun Belanda menyembunyikan identitas asli Cut Nyak Dien kepada masyarakat setempat.

Demikian juga adapula seorang ulama wanita yang berpengaruh, pimpinan pasukan dan teman karibnya Cut Nyak Dien, beliau adalah Teungku Fakinah. Teungku Fakinah pada masa mudanya merupakan pejuang tangguh dan memimpin pasukan di medan peperangan. Beliau merupakan wanita yang memiliki kiprah yang besar dalam perjuangan. 

Selain itu, Teungku Fakinah juga seorang ulama yang memimpin dayahnya sendiri, dan ini digelutinya setelah Aceh mengalihkan perang fisik kepada jihad keilmuan dan intelektual. Tentunya dengan berbagai nama-nama besar yang telah disebutkan dalam perang Aceh, maka kiprah Teungku Chik Kuta Karang sebagai penasehat perang memiliki arti penting. 

Karena perang Aceh periode Teungku Chik Kuta Karang adalah perang yang paling kelam bagi Belanda, dengan banyak tewas pasukan Belanda, juga menelan biaya yang tidak sedikit bagi mereka. Teungku Chik Kuta Karang selain sebagai ulama, pejuang, penasehat perang, beliau juga penulis produktif pada masanya. Umumnya karya yang ditulis oleh beliau sangat berkenaan dengan keadaan Aceh pada masanya. 

Beliau menyusun Kitab Tazkirat al-Rakidin, sebuah kitab yang berisi nasehat dan seruan agar semua masyarakat Aceh bangkit melawan penjajahan Belanda. Karena bila Belanda resmi berkuasa, maka pasti tua, muda, perempuan, anak-anak akan menjadi budak dan agamapun akan hancur binasa. 

Kitab Tazkirat al-Rakidin ditulis oleh beliau setelah wafatnya Teungku Chik Di Tiro tahun 1891 dan Teungku Chik Tanoh Abee tahun 1894. Setelah wafat dua tokoh pejuang tersebut, maka Teungku Chik Kuta Karang turun bergerilya memimpin pasukan perang Aceh sesudah Teungku Chik Di Tiro.

Karya lainnya dari Teungku Chik Di Tiro adalah tentang obat-obatan yang ditulis oleh beliau dalam bahasa melayu lama/jawi. Selain sebagai ahli dalam ketabiban, beliau juga menyusun karya dalam ilmu falak dan ilmu miqat. 

Teungku Chik Kuta Karang dapat disebut sebagai tokoh awal dalam kajian ilmu falaq di Aceh, dimana pada era jauh sesudahnya masyarakat Aceh mengenal Abu Kruengkalee sebagai ahli falaq, Teungku Haji Usman Maqam, Teungku Muhammad Isa Peurupok dan Teungku Ali Irsyad yang dikenal dengan Abu teupin Raya. 

Adapun sekarang yang paling lihai dalam ilmu falak di Aceh adalah Teungku Abdullah Ibrahim yang dikenal dengan Abu Tanjong Bungong. 

Selain ahli dalam ilmu falaq, Teungku Chik Kuta Karang juga menguasai ilmu miqat, dengan ilmu miqat beliau mampu membaca tanda-tanda tertentu dari sebuah peristiwa yang akan terjadi, ilmu ini seperti ilmu firasat. Sehingga tidak mengherankan bila Teungku Chik Kuta Karang sangat ahli dalam mengatur siasat dalam peperangan. 

Maka dengan berbagai keahlian yang dimiliki oleh Teungku Chik Kuta Karang, tentu menempatkan beliau sebagai seorang ulama besar pada zamannya yang telah berhasil dengan perjuangannya. Beliau diperkirakan wafat di atas tahun 1900, dan dimakamkan di komplek perkuburan Teungku Lampeneu’en Aceh Besar.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Nurkhalis Muchtar

Nurkhalis Muchtar

Nurkhalis Muchtar, anak dari Drs H Mukhtar Jakfar dan Nurhayati binti Mahmud, lahir di Susoh, Aceh Barat Daya. Mengawali pendidikan di SD Negeri Ladang Neubok, Tsanawiyah di SMP Cotmane, lanjut ke MTsN Blangpidie. Kemudian merantau ke Banda Aceh dan bersekolah di MAS Ruhul Islam Anak Bangsa yang ketika itu masih di Lampeneurut. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAS RIAB, berangkat ke Bekasi Jawa Barat dan belajar di STID Mohammad Natsir pada jurusan Dakwah (KPI). Setahun ia di Bekasi, kemudian pulang dan melanjutkan di UIN Ar-Raniry pada jurusan Bahasa Arab. Mendapat beasiswa ke Mesir tahun 2006 ia dan menyelesaikan Strata Satunya di Universitas Al Azhar Kairo Mesir pada tahun 2010 pada jurusan Hadits dan Ulumul Hadits. Lalu, melanjutkan ke Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry konsentrasi Fiqih Modern dan selesai di tahun 2014 sebagai salah satu lulusan terbaik. Awal 2015 hingga akhir 2017 mengambil S3 di Universitas Bakht al-Ruda Sudan dan selesai di tanggal 10-10-2017 dalam usianya genap 31 tahun dengan nilai maksimal. Disela-sela penelitian S3, ia sempat mengenyam pendidikan di Pascasarjana IIQ Jakarta selama setahun pada kajian Al Qur'an dan Hadits. Pernah juga mengenyam pendidikan di beberapa pesantren, di antaranya adalah: Rumoh Beut Wa Safwan, Pesantren Nurul Fata dan Babul Huda Ladang Neubok, Dayah Mudi Cotmane, ketiganya masih di wilayah Aceh Barat Daya. Sambil mengikuti kuliah di Banda Aceh pada jenjang S2, ia sering mengikuti pengajian pagi di Dayah Ulee Titi, dan pernah mondok di Dayah Madinatul Fata Banda Aceh. Selain itu juga pernah belajar dan mengajar di Dayah Terpadu Daruzzahidin Lamceu dan Dayah Raudhatul Qur'an Tungkob Aceh Besar. Lalu, mendarmabaktikan ilmunya sebagai dosen dan pengajar di kampus negeri dan swasta, serta sebagai ustad di majelis-majelis taklim yang diasuhnya dalam pengajian TAFITAS Aceh, dan ia juga tercatat sebagai Ketua STAI al-Washliyah Banda Aceh,terhitung 2018-2022. Juga mulai berdakwah melalui tulisan, dan telah terbit beberapa tulisannya dalam bentuk buku dan karya ilmiyah lainnya. Salah satu buku yang ditulisnya adalah Membumikan Fatwa Ulama.  

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Mayat Bau Gas Ditimpa Tabung Melon

Mayat Bau Gas Ditimpa Tabung Melon

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00