• Latest

Berkat Sebuah Kejujuran

Oktober 5, 2017
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Berkat Sebuah Kejujuran

Redaksiby Redaksi
Oktober 5, 2017
Reading Time: 2 mins read
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Diceritakan oleh Rizka Aulia Ramadhani
Kelas IX SMPN 2 Bandar Dua. Pidie Jaya

Pada zaman dahulu ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh raja yang adil dan bijaksana. Ia selalu berlaku adil kepada semua rakyatnya, juga keluarganya. Ia juga suka dengan orang jujur. Raja itu mempunyai burung yang disayanginya. Burung itu dikurung di dalam sangkar emas. Raja selalu melepas burung itu ke udara di pagi hari. Burung itu selalu pulang di sore hari.

Baca Juga

5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026

Tentang Malas, Kerja, dan Indonesia Terhormat.

Maret 23, 2026
Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Maret 14, 2026

Suatu hari burungnya tidak pulang. Raja pun mulai cemas. Ia memerintahkan prjuritnya untuk mencari burungnya itu. Sedang beberapa jam kemudian, salah seorang prajurut melapor bahwa ia menemukan bangkai burung yang sudah mati dan terkubur di tanah. Setelah mendengar kabar itu, raja pun menjadi sangat sedih. Kabar tentang kematian burung milik raja mulai terdengar hingga ke desa terpencil. Semua orang sangat sedih dengan kematian burung milik raja mereka.

Setelah beberapa hari kemudian datanglah seorang remaja lelaki ke istana. Ia ingin bertemu dengan raja. Setelah diizinkan masuk, lelaki tersebut bertemu raja yang kebetulan sedang makan siang. Lelaki tersebut dipersilahkan masuk sambil makan siang bersama raja. Raja tersebut menanyakan kepada laki-laki tersebut siapa namanya dan apa gerangan maksud kedatangannya ke Istana.

“ Nama saya Arsyil, maksud kedatangan saya kemari untuk memberitahukan tentang kematian burung tuanku” kata lelaki tersebut.

ADVERTISEMENT

“Baiklah, ceritakan siapa yang telah membunuh burungku” kata raja.

“sebenarnya saya yang telah menyebabkan burung tuanku mati.” Kata Arsyil memulai cerita.

“Pada suatu sore, saya sedang berjalan-jalan di hutan sambil bersiul merdu. Tiba-tiba saya melihat pohon mangga yang sangat banyak buahnya. Lalu saya mengambil batu dan melemparnya ke buah mangga tersebut agar jatuh. Akan tetapi batunya meleset dan mengenai burung yang terbang di samping pohon mangga tersebut, lalu burung itu pun jatuh dan mati.

Kemudian saya melihat burung tersebut, dan ternyata burung itu adalah burung yang mulia. Lalu saya mengubur burung tersebut, kemudian saya pergi dari sana dan pulang. Saat tidur saya tidak bisa memejamkan mata. Saya selalu merasa bersalah. Dan akhirnya saya membuat keputusan untuk menemui yang mulia dan menceritakan apa yang terjadi.”

“Jika yang mulia ingin menghukum saya, saya akan menerimanya dengan lapang dada” . Kata akhir mengakhiri ceritanya panjang lebar.

Saat mendengar cerita itu raja ingin marah kepada Arsyil, tetapi ia memaafkan Arsyil, karena sudah mengakui kesalahannya. Dan Arsyil pun tidak jadi dihukum, malah ia diberi hadiah oleh raja tersebut.

Jadi kita harus bersikap jujur dan mengakui kesalahan yang kita lakukan dan berani mengakui kesalahan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 334x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 296x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 278x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 250x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 189x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Selayaknya Anda Mengenal Majalah POTRET Lebih Dekat

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com