Oleh Aswan Nasution
Kabupaten Simalungun sering kali dimulai dengan adegan yang sangat sinematik seperti sebuah semesta yang sedang menguap. Kabut tipis turun pelan-pelan dari perbukitan, memeluk pucuk-pucuk pohon teh di Sidamanik, lalu perlahan merayap menuju tepian danau Toba yang airnya tampak tenang, namun menyimpan jutaan rahasia purba.
Di bawah selimut kabut itu, Simalungun bernapas. Petani mulai memanggul harapan menuju ladang, pedagang membuka pintu warung dengan bunyi berderit yang khas, dan anak-anak sekolah bersiap-siap dengan seragam yang rapi, seolah-olah mereka adalah prajurit masa depan yang siap menaklukkan dunia. Namun, jika di perhatikan kalender di dinding rumah warga, ada lingkaran merah yang mencolok di tanggal 11 April 2026.
Hari ini, Simalungun bukan sekadar kabupaten. Ia adalah seorang sesepuh sakti yang genap berusia 193 tahun. Sebuah usia yang jika dihitung secara manusiawi, mungkin sudah memiliki cicit hingga ke planet Mars. Tapi bagi tanah ini, 193 tahun hanyalah satu tarikan napas panjang dari perjalanan sejarah yang berliku, mulai dari rimbunnya hutan Nagur, hingga menjadi raksasa administrasi di Sumatera Utara.
Sejarah Simalungun tidak lahir dari dinginnya meja birokrasi, melainkan dari hangatnya peradaban di lembah-lembah hijau. Dahulu, wilayah ini dikenal sebagai Nagur. Namanya terdengar seperti mantra kuno, bukan? Nagur bukan sekadar nama, ia adalah akar.
Di sinilah berdiri tujuh kerajaan yang dalam istilah lokal disebut Raja Marpitu. Ada Kerajaan Siantar, Tanoh Jawa, Silou, Raya, Panei, Purba, dan Kerajaan Dolok Silou. Mereka ini unik. Tidak sebesar Majapahit yang punya armada kapal raksasa, tapi mereka punya sesuatu yang lebih awet: Identitas.
Nama Simalungun sendiri punya filosofi yang rada melankolis. Berasal dari kata Lungun, yang artinya sepi, sunyi, atau rindu yang mendalam. Jangan bayangkan tempat ini sunyi karena ditinggal penghuninya pindah ke Jakarta. Sunyi di sini artinya masyarakatnya dahulu hidup berpencar di kampung-kampung kecil yang dipisahkan oleh hutan belantara yang angker, namun asri. Mereka sunyi, tapi hidupnya “berisi”. Mereka jauh dari tetangga, tapi dekat dengan Tuhan dan alam.
Inilah romantisme ala Simalungun: kesepian yang menghasilkan kebijaksanaan.
Mengapa 11 April dipilih jadi hari lahir? Ini bukan hasil kocokan arisan, Kawan. Tanggal ini adalah penanda lahirnya sistem pemerintahan modern. Secara hukum, posisi Simalungun diperkuat lewat Undang-Undang Darurat Nomor 7 Tahun 1956. Dan baru-baru ini, “surat lahir” kabupaten ini diperbarui lewat Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2024.
Hukum mungkin memberi kepastian di atas kertas yang kaku, tapi rakyatlah yang memberi makna di atas tanah yang basah. Simalungun sekarang adalah raksasa dengan luas 4.372 kilometer persegi. Bayangkan, itu luas sekali! Saking luasnya, dari Ujung padang sampai Sarang Padang jika kita naik motor dari ujung ke ujung tanpa henti, mungkin pinggang akan minta pensiun dini sebelum sampai di tujuan.
Dan ada satu fenomena geografis yang bikin para ahli tata kota garuk-garuk kepala tapi warga lokal santai saja: Kota Pematangsiantar. Kota ini seperti telur mata sapi—Siantar adalah kuning telurnya yang otonom, sementara Simalungun adalah putih telurnya yang mengelilingi dengan setia. Pematangsiantar adalah “pulau” di tengah samudra Simalungun. Unik, menantang, dan sedikit bikin bingung kalau Anda pakai GPS tapi sinyalnya lagi “ngambek”.
Dulu, bangsa Belanda melirik tanah ini bukan karena pemandangannya yang cantik buat selfie, tapi karena tanahnya yang “subur gila-gilaan”. Maka dibukalah perkebunan-perkebunan besar. Dampaknya? Terjadilah migrasi besar-besaran. Ribuan pekerja dari tanah Jawa didatangkan, disusul etnis Toba, Karo, Melayu, Minang, hingga Tionghoa.
Jadilah Simalungun sebuah kuali besar berisi “Gado-Gado Manusia”. Di sini, bisa mendengar logat Simalungun yang lembut bersahut-sahutan dengan logat Toba yang berapi-api, dibumbui sapaan “Kulonuwun” dari warga keturunan Jawa. Keberagaman ini awalnya mungkin bikin canggung, tapi lama-lama menjadi kekuatan. Simalungun adalah miniatur Indonesia tanpa filter. Semuanya melebur menjadi satu karakter: Terbuka, jujur, dan kalau bicara selalu ada kedalaman di balik setiap kata.
Di tengah kemajemukan itu, ada satu jangkar yang menahan mereka supaya tidak hanyut: Habonaron Do Bona. Artinya: “Kebenaran adalah dasar dari segala sesuatu.”
Falsafah ini bukan sekadar stiker di mobil dinas Bupati atau tulisan di gapura kantor camat. Ini adalah sistem operasi (OS) di dalam otak orang Simalungun. Dalam adat, dalam bergaul, bahkan dalam menyelesaikan masalah “senggol bacok” di kedai kopi, prinsip ini yang dipakai. Kebenaran bukan untuk diperdebatkan, tapi untuk dijadikan pijakan. Jika Anda benar, Anda berdiri tegak; jika Anda salah, semesta Simalungun akan mengingatkan Anda dengan cara yang terkadang getir tapi mendewajakan.
Bicara ekonomi, Simalungun adalah “gudang” yang penuh harta karun. Pertaniannya? Jangan ditanya. Mulai dari padi yang menguning hingga sayuran yang segar-segar, semuanya ada. Perkebunannya? Sawit dan karetnya adalah urat nadi ekonomi.
Tapi primadonanya adalah Pariwisata. Kita punya Parapat, gerbang cantik menuju Danau Toba yang melegenda itu. Kita punya Kawah Putih Tinggi Raja yang airnya panas dan pemandangannya putih bersih bak salju turun di khatulistiwa—sangat Instagrammable! Lalu ada Bah Damanik, mata air yang jernihnya lebih bening daripada janji-janji mantan. Jika potensi ini digarap dengan “setengah dewa”, Simalungun bisa jadi pusat gravitasi dunia!
Nah, bicara soal pemimpin, kepercayaan masyarakat Simalungun saat ini tertambat pada pasangan Bupati Dr. H. Anton Achmad Saragih dan Wakil Bupati Benny Gusman Sinaga, S.T. pilihan rakyat hasil Pilkada 2025. Dengan perolehan suara Mereka memenangkan pemilihan dengan perolehan suara 228.925 (52,34%) dari total suara sah yang cukup untuk bikin lawan politik migrain berjamaah, mereka kini memikul beban harapan dari 1.067.499 jiwa Penduduk Simalungun.
Prioritas pembangunannya tidak main-main. Pertama, SDM. Sekolah diperbaiki bukan cuma catnya, tapi juga kualitas otaknya. Kedua, Infrastruktur. Ini dia! Jalan-jalan kecamatan yang dulu mirip lintasan off-road kini mulai dipoles. Ketiga, Pertanian. Petani disubsidi supaya kantongnya tidak “sepi” lagi. Dan keempat, Pariwisata Danau Toba. Ayo Pak Bupati, buktikan kalau Simalungun bukan cuma penonton di pinggiran Danau Toba, tapi pemain utama!
Tentu saja, ada “lagu lama” yang sering diputar kembali: Pemekaran Wilayah. Karena wilayahnya terlalu luas, warga di pelosok sering merasa pemerintah itu seperti bayangan—ada tapi jauh. Muncul gagasan Simalungun Hataran atau Simalungun bawah. Namun, hingga saat ini, Jakarta masih “mengunci pintu” (moratorium). Selain itu, syaratnya berat, Kawan. Bukan cuma soal bagi-bagi kursi, tapi soal sanggupkah daerah baru itu “makan” sendiri tanpa disuapi pusat?
Di usia ke-193 ini, tantangan memang masih berbaris. Masih ada jalan yang kalau dilewati mobil, rodanya bisa “berjoget” saking hancurnya. Masih ada masalah lingkungan karena hutan yang mulai botak dipangkas kebun.
Tapi rakyat Simalungun itu rendah hati. Mereka tidak minta dibuatkan gedung pencakar langit atau jembatan kaca menyeberangi danau. Harapan mereka sederhana saja: Jalan diaspal sampai ke pelosok desa. Rakyat ingin jalan yang mulus dan rapi, supaya hasil ladang tidak rusak di jalan, dan supaya ibu-ibu yang mau melahirkan tidak harus merasakan “sensasi balapan” di atas lubang-lubang jalanan. Muluskan jalan kami, maka kami akan muluskan masa depan daerah ini!
Hari jadi bukan cuma soal seremoni potong tumpeng atau pidato yang bikin mengantuk. Ia adalah cermin. Kita melihat ke belakang untuk belajar dari Nagur, dan melihat ke depan untuk membangun Raya. Simalungun telah menempuh perjalanan hampir dua abad. Dari tanah sunyi yang diselimuti kabut, menjadi kabupaten raksasa yang disegani.
Selama prinsip Habonaron Do Bona tetap menyala di dada setiap orang yang menghirup udara Simalungun, tanah ini tidak akan kehilangan arah. Kebenaran adalah kompas. Dan di tanah ini, kebenaran adalah harga mati.
Selamat ulang tahun yang ke-193, Simalungun! Teruslah tumbuh, teruslah “bersuara” di tengah kesunyianmu, dan jadilah rumah yang paling nyaman bagi satu juta impian. Ayoo! Simalungun Jaya!
Horas Hubanta Haganupan.
Horas …Horas … Horas
Aswan Nasution adalah penulis yang menaruh minat pada cerita reflektif tentang kehidupan, cinta, dan perjalanan batin manusia. Melalui tulisan berusaha menangkap emosi sederhana yang sering terlewat dalam kehidupan sehari-hari. Baginya, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Saat ini bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta. Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa di panggil “Ketua” Apabila ingin menghubunginya bisa di nomor Whatshaap nya 083163237234 atau ke emailnya : aswannasution091@gmail.com

























Diskusi