• Latest
dc7b6933-d445-40b2-9886-71a08edbedd9

Menghalau Petaka Intelektual: Refleksi Sains dan Iman ala Al-Ghazali.

April 12, 2026
IMG_0751

Macet Menulis? Jangan Paksa! Lakukan Ini Saja (Resep dari Larry L. King)

April 12, 2026
de17d6a0-a45b-4472-ab39-12da2eea3a53

Perundingan Damai Gagal, Siap-siap Iran vs Amerika Perang Lagi

April 12, 2026
ilustrasi stereotip budaya komunikasi Aceh

Benarkah Orang Aceh Kasar? Tinjauan Psikologi dan Budaya

April 12, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Antara Efek Jera dan Keadilan

April 12, 2026
Illegal mining and corruption in Indonesia

Tambang Ilegal dan Absennya Negara

April 12, 2026
IMG_0749

Bergerak Tanpa Arah: Ekonomi Rakyat dan Erosi Kepercayaan Publik

April 12, 2026
9e4c2e7e-0172-4eb6-a039-cfee9d749784

Selangkangan Borjuis dan Sungai yang Menangis 

April 12, 2026
aae23064-88ca-4d48-aaf0-7f0b0aa2bad5

Falsafah Telur: Retakan yang Melahirkan Kebersamaan 

April 12, 2026
  • #22859 (tanpa judul)
  • Al-Qur’an
  • Disclaimer
  • Home
  • Kirim Naskah
  • Penulis
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • ToS
Minggu, April 12, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
dc7b6933-d445-40b2-9886-71a08edbedd9

Menghalau Petaka Intelektual: Refleksi Sains dan Iman ala Al-Ghazali.

Redaksi by Redaksi
April 12, 2026
in Kajian, Agama Islam
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh: Tgk. H. Erli Safriza Al Yusufiy, Lc.

Peradaban manusia (Al-Umran) tidak pernah tegak di atas ruang hampa. Ia senantiasa berpijak pada fondasi ilmu pengetahuan yang kokoh. Namun, dalam sejarahnya, persilangan antara nalar sains dan keyakinan agama sering kali menjadi medan tempur yang melelahkan.

Melalui mahakarya Al-Munqidh min al-Dalal, Imam Al-Ghazali memberikan navigasi cerdas untuk kita yang hidup di era banjir informasi ini. Beliau membedah bagaimana madu pengetahuan bisa berubah menjadi racun jika disikapi dengan nalar yang cacat.

Baca Juga:
  • Cahaya Gramatika: Menata Nahwu dalam Arsitektur Peradaban Islam
  • Reposisi Pesantren: Menjadi Kompas di Tengah Badai Dekadensi Moral
  • Fardu Ain: Benteng Ideologi di Tengah Arus Disrupsi Modernitas

Sains itu Netral, Nalar yang Sering Kali Binal.

Dalam memetakan pengetahuan, Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya membagi ilmu menjadi dua: ilmu yang bersumber dari akal (Aqliyah) dan yang bersumber dari wahyu (Naqliyah). Senada dengan itu, Al-Ghazali menegaskan bahwa sains seperti matematika, geometri, dan astronomi adalah ilmu yang bersifat netral dan demonstratif (burhani).

Baca Juga

addb07c6-6086-4dc9-adf0-89149da48f97

Cahaya Gramatika: Menata Nahwu dalam Arsitektur Peradaban Islam

April 11, 2026
5d956ca3-9c7f-40fe-9646-15e1e1e2a0dc

Reposisi Pesantren: Menjadi Kompas di Tengah Badai Dekadensi Moral

April 10, 2026
addb07c6-6086-4dc9-adf0-89149da48f97

Fardu Ain: Benteng Ideologi di Tengah Arus Disrupsi Modernitas

April 9, 2026

Al-Ghazali secara tegas menyatakan bahwa kebenaran sains, seperti hitungan gerhana, adalah fakta yang tidak mungkin diingkari oleh siapa pun yang berakal. Namun, masalah muncul bukan pada sainsnya, melainkan pada “disorientasi nalar” para penuntutnya. Dari sinilah lahir dua malapetaka intelektual yang merusak individu maupun institusi agama.

Malapetaka Pertama: Silau Intelektual dan Taklid Buta.

Malapetaka pertama menyerang mereka yang terlalu kagum pada presisi sains. Al-Ghazali menggambarkan kondisi mental seseorang yang begitu terpesona dengan ketelitian matematika para filsuf, sehingga ia terjatuh pada prasangka baik yang kebablasan (Tahsinuz Zhan).

Logika mereka tergelincir: “Jika matematika mereka sedemikian presisi, maka pemikiran mereka tentang Tuhan pun pasti benar.” Akibatnya, mereka menelan mentah-mentah ideologi ateistik para filsuf hanya karena kagum pada rumus-rumus fisika mereka.

Al-Ghazali mengingatkan kita tentang pentingnya memahami spesialisasi keahlian. Ketajaman seseorang dalam mengolah data statistik tidak otomatis menjadikannya ahli dalam urusan ketuhanan. Ketidakmampuan membedakan wilayah kepastian sains (burhani) dengan wilayah spekulasi metafisika (takhmini) inilah yang memicu kekufuran berbasis taklid.

Malapetaka Kedua: Pembela Agama yang Jahil.

Jika petaka pertama merusak individu, malapetaka kedua jauh lebih destruktif karena merusak citra agama di mata publik. Al-Ghazali menyebutnya sebagai perilaku Shadiiq Jahil (Sahabat Islam yang Bodoh).

Tipe ini merasa bahwa membela Islam harus dilakukan dengan cara menabrak semua temuan akal dan sains. Mereka membantah fakta ilmiah—seperti penyebab terjadinya gerhana—hanya karena dianggap berasal dari kaum filsuf, lalu mengklaim bahwa bantahan mereka adalah suara syariat.

Tindakan ini dikecam keras oleh Al-Ghazali sebagai sebuah “kriminalitas agama” (Jinayah). Mengapa? Karena ketika seorang pembela agama membantah realitas nyata dengan dalih iman, ia justru memberikan amunisi bagi para penentang agama untuk mencibir bahwa Islam dibangun di atas kebodohan. Islam tidak butuh dibela dengan ketidaktahuan.

Penutup: Menjadi Sahabat Agama yang Berilmu
Melalui perspektif Al-Ghazali, kita diajak untuk menjadi pembela agama yang berilmu. Sains bukanlah lawan dari iman; ia adalah instrumen untuk menyingkap tabir keagungan Sang Pencipta di alam semesta.

Kejahatan intelektual terbesar bukanlah sains yang sekuler, melainkan dakwah yang anti-nalar. Islam tidak perlu dibela dengan cara memusuhi akal sehat. Sebaliknya, Islam hanya perlu dipahami dan disampaikan dengan kejujuran intelektual yang menempatkan wahyu sebagai pemandu nalar, bukan pembunuh nalar. Di persimpangan jalan peradaban ini, kejernihan berpikir adalah kunci agar kita tidak tersesat dalam delusi intelektual maupun fanatisme buta.

Penulis adalah Pimpinan Dayah Madinatuddiyah Babussa’adah dan Ketua HUDA Aceh Selatan.

Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Related Posts

IMG_0751
Artikel

Macet Menulis? Jangan Paksa! Lakukan Ini Saja (Resep dari Larry L. King)

April 12, 2026
de17d6a0-a45b-4472-ab39-12da2eea3a53
#Amerika

Perundingan Damai Gagal, Siap-siap Iran vs Amerika Perang Lagi

April 12, 2026
ilustrasi stereotip budaya komunikasi Aceh
Psikologi Sosial

Benarkah Orang Aceh Kasar? Tinjauan Psikologi dan Budaya

April 12, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
Artikel

Antara Efek Jera dan Keadilan

April 12, 2026
Silakan login untuk berkomentar
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com