Harap-harap Cemas Menunggu Hasil Perundingan Iran vs AS

db5df19e-a49a-4379-86f9-5e88076f4172
Foto Ai hanya ilustrasi

Oleh Rosadi Jamani

Saya yakin kalian pasti menunggu hasil perundingan damai Iran vs Amerika di Pakistan. Saya juga begitu. Semua harap-harap cemas. Betapa tidak. Bila sukses, damai. Bila gagal, perang lagi. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Iran dan Amerika, dua negara selama puluhan tahun saling lirik kayak ormas rebutan lahan parkir. Tiba-tiba duduk satu meja. Meja bundar, dijaga ribuan aparat. Di luar sana? Selat Hormuz masih megap-megap. Lebanon masih dihujani bom kayak hujan di musim kemarau. Damai di dalam ruangan, chaos tetap jalan di luar. Kontrasnya nggak kira-kira.

Ironis? Jelas. Dari zaman Plato sampai Kant kita diajarin soal damai. Praktiknya, manusia tetap lebih jago lempar batu dari jabat tangan. Amerika datang bawa 15 poin tuntutan. Panjangnya kayak daftar belanja emak-emak pas diskon gede. Iran? Santai, bawa 10 poin “maximalist” yang kira-kira artinya, “kasih semua dulu, baru kita ngobrol baik-baik.”

JD Vance memimpin tim Amerika dengan optimisme ala Trump. Yang penting pede dulu, hasil urusan nanti. Di sisi lain, Mohammad Bagher Qalibaf datang dengan aura, “kami punya goodwill… tapi percaya sama kalian? Jangan mimpi.”

Lalu masuklah karakter penting yang malah nggak diundang, Israel. Ini lucu sih. Pihak yang paling sering nyalain api, malah disuruh nunggu di luar. Kayak mantan yang masih baper tapi nggak boleh masuk grup keluarga. Iran teriak, “Israel stop dulu gebuk Hizbullah di Lebanon!” Amerika jawab santai, “Lebanon bukan topik kita di sini, bro.” Damai rasa parsial, paket hemat.

Sementara itu, Pakistan mendadak jadi host paling sibuk sedunia. Statusnya, “make or break.” Jalan ditutup, keamanan ketat, vibe-nya kayak mau nyambut kiamat edisi premium. Padahal target realistisnya sederhana. Jangan sampai rapat bubar dengan meja terbalik. Syukur-syukur gencatan senjata dua minggu yang rapuh itu bisa diperpanjang. Damai abadi? Itu masuk kategori mimpi siang bolong.

Di sinilah inti dramanya. Damai itu bukan lahir dari hati yang tiba-tiba lembut. Enggak. Damai itu lahir karena semua pihak capek perang. Capek rugi, capek kehilangan, capek jadi headline. Jangan heran kalau senyum di meja itu tipis, lebih ke “yaudahlah” dari pada “kita saling percaya.”

Masalahnya, semua ini rapuh. Satu tweet ngawur, satu rudal nyasar, satu ledakan di Lebanon, langsung tamat. Kesepakatan bisa hangus lebih cepat dari mie instan diseduh setengah matang.

Nah, di tengah ketegangan global ini, hidup tetap berjalan dengan caranya sendiri. Di sudut lain dunia, ada harapan versi berbeda. Laga final Piala AFF Futsal 2026 yang mempertemukan Timnas Futsal Indonesia vs Thailand. Laga ini akan digelar Minggu, 12 April 2026 pukul 20.00 WIB di Nonthaburi Sports Complex.

Indonesia melaju ke final setelah menumbangkan Vietnam 3-2, sementara Thailand lolos usai menang dramatis 4-3 atas Australia. Di sana, ketegangan juga ada. Tapi bedanya, yang dipertaruhkan cuma trofi, bukan masa depan kawasan.

Dua panggung, dua jenis harap-harap cemas. Satu soal perang dan damai. Satu lagi soal gol dan gengsi.

Kembali ke Islamabad, dunia lagi nahan napas. Harga minyak, jalur Selat Hormuz, jutaan nyawa, semua seperti digantung di ruang rapat di Serena Hotel Islamabad. Pertanyaannya sederhana tapi menegangkan, mereka keluar bawa senyum tipis dan perpanjangan ceasefire, atau keluar dengan muka kusut dan ancaman perang babak dua?

Kita? Cuma bisa nonton. Sambil ngopi. Sambil berharap yang terbaik, tapi tetap siap dengan yang terburuk. Kalau gagal, dunia balik ke mode lama, api lebih cepat dari kata-kata. Kalau berhasil… ya paling kita dikasih jeda iklan. Bukan tamat, cuma pause.

So, dunia mau pilih apa kali ini? Damai yang rapuh, atau konflik yang konsisten? Kita tunggu saja. Pada akhirnya, damai itu memang harapan paling naif… tapi juga satu-satunya yang masih layak diperjuangkan.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Ketua Satupena Kalbar

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.