Dari Pikiran ke Tindakan: Rantai Prasangka dan Diskriminasi di Sekitar Kita

Prasangka tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh dari cara kita berpikir, lalu menjelma menjadi tindakan diskriminatif yang sering kali tidak kita sadari dalam kehidupan sehari-hari.
Diskriminasi tidak selalu terlihat jelas—ia kerap hadir dalam sikap kecil yang dianggap wajar dalam pergaulan.
Sekelompok mahasiswa berbincang di ruang publik, sementara perbedaan latar belakang kerap memengaruhi cara mereka saling memandang tanpa disadari.

Pernahkah Anda merasa suasana tiba-tiba berubah canggung saat seseorang yang “berbeda” masuk ke dalam lingkungan obrolan Anda? Entah itu karena perbedaan cara berpakaian, dialek bicara yang asing, atau sekadar status sosial yang dianggap tidak setara. Di Aceh, kita punya budaya memuliakan tamu, namun jujur saja, di bawah permukaan keramahan itu, sering kali masih ada tembok prasangka yang kita bangun tanpa sadar.

Saya teringat sebuah kejadian di sudut kantin kampus. Ada bisik-bisik yang meremehkan seorang mahasiswa hanya karena ia berasal dari daerah pelosok dengan aksen yang kental. Di situlah saya sadar: diskriminasi tidak selalu soal pengusiran atau kekerasan fisik. Sering kali, ia menyelinap lewat tatapan mata yang merendahkan atau candaan rasis yang dianggap “biasa saja”.

Fenomena ini bukan sekadar pengalaman personal. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Indikator Sosial Budaya menunjukkan bahwa tingkat toleransi sosial di Indonesia masih menghadapi tantangan, terutama dalam penerimaan terhadap kelompok dengan latar belakang ekonomi, pendidikan, dan daerah asal yang berbeda. Ini berarti, apa yang kita anggap “candaan biasa” sebenarnya mencerminkan pola yang lebih luas dalam masyarakat.

Mengapa Kita Suka Mengotak-ngotakkan Orang?

Kalau kita mau sedikit membedah teori, fenomena ini sebenarnya klasik. Gordon Allport, dalam bukunya The Nature of Prejudice (1954), sudah lama mengingatkan bahwa otak manusia itu memiliki kecenderungan “malas”. Kita cenderung mengategorikan orang ke dalam kotak-kotak sederhana: “kelompok kita” atau “kelompok mereka”.

Celakanya, kotak-kotak ini sering kita isi dengan label negatif. Begitu label ini melekat, lahirlah prasangka. Dan ketika prasangka itu menentukan bagaimana kita bersikap—misalnya dengan tidak mau satu kelompok tugas dengan mereka—saat itulah kita sudah melakukan diskriminasi.

Dalam konteks Indonesia, kecenderungan ini sering muncul dalam bentuk stereotip terhadap daerah tertentu. Misalnya, anggapan bahwa mahasiswa dari daerah terpencil kurang kompetitif, atau bahwa dialek tertentu identik dengan rendahnya tingkat pendidikan. Padahal, data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menunjukkan peningkatan akses pendidikan di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) dalam beberapa tahun terakhir, yang berarti asumsi-asumsi tersebut semakin tidak relevan.

Bukan Sekadar Masalah “Sakit Hati”

Mungkin ada yang membela diri dengan berkata, “Ah, itu kan cuma perasaan dia saja yang baper.” Namun faktanya tidak sesederhana itu. Dalam berbagai literatur di Jurnal Psikologi Sosial, dijelaskan bahwa individu yang sering menerima perlakuan diskriminatif—meskipun dalam bentuk halus—dapat mengalami stres psikologis yang berkepanjangan.

Di Indonesia, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) juga mencatat bahwa laporan terkait diskriminasi sosial masih muncul setiap tahun, baik dalam konteks pendidikan, pekerjaan, maupun layanan publik. Hal ini menunjukkan bahwa diskriminasi bukan hanya persoalan individu, tetapi juga persoalan struktural yang masih berlangsung.

Bahkan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa diskriminasi berkorelasi dengan meningkatnya risiko kecemasan, depresi, hingga menurunnya rasa percaya diri. Bayangkan jika setiap hari seseorang harus membuktikan diri lebih keras hanya karena orang lain sudah memiliki stigma buruk tentang asal-usulnya.

Ini bukan sekadar soal sakit hati, tetapi tentang bagaimana potensi seseorang dapat terhambat secara perlahan oleh lingkungannya sendiri. Laporan media nasional seperti Kompas.com juga kerap menyoroti bahwa praktik diskriminasi masih menjadi tantangan besar dalam mewujudkan ruang publik yang inklusif di Indonesia.

Merobohkan Tembok di Kepala

Jadi, apa yang bisa kita lakukan? Jawabannya bukan dengan khotbah moral yang panjang lebar, tetapi melalui tindakan nyata yang dimulai dari hal-hal kecil:

  1. Tabrak Bias Anda: Jika Anda memiliki pikiran negatif terhadap kelompok tertentu, cobalah untuk berinteraksi langsung. Hipotesis Kontak dari Allport menunjukkan bahwa prasangka dapat berkurang melalui interaksi yang setara.
  2. Berhenti Jadi Penonton: Jika ada teman yang melontarkan candaan diskriminatif, jangan ikut tertawa. Tegur dengan santai tetapi tegas. Diam sering kali berarti persetujuan.
  3. Buka Mata di Lingkungan Sendiri: Perhatikan lingkungan sekitar, termasuk kampus dan tempat tinggal. Apakah fasilitas sudah ramah disabilitas? Apakah kita sudah cukup terbuka terhadap keberagaman latar belakang?

Penutup

Menjadi toleran tidak cukup hanya dengan kata-kata. Dibutuhkan keberanian untuk merobohkan tembok-tembok prasangka yang sudah terlanjur nyaman di dalam pikiran kita. Pada akhirnya, kemanusiaan tidak diuji saat kita bersama orang-orang yang serupa, tetapi saat kita mampu merangkul mereka yang berbeda.

Referensi:
  1. Allport, G. W. (1954). The Nature of Prejudice. Addison-Wesley.
  2. Taufik, T. (2020). “Dampak Psikologis Diskriminasi pada Kelompok Minoritas”. Jurnal Psikologi Sosial.
  3. BPS. (2023). Indikator Sosial Budaya Indonesia.
  4. Komnas HAM. (2023). Laporan Tahunan Hak Asasi Manusia.
  5. Kompas.com. (2023). “Laporan Tahunan Praktik Diskriminasi dan Toleransi di Indonesia”.
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Ayu Triana Dewi
mahasiswa Program Studi Psikologi di Universitas Syiah Kuala.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.