Ayah Sop dan Abon Buni: Jihad Politik Ulama dari Dayah hingga Akar Rumput.

a7df0fb6-18fb-4561-ae2c-a64ad2ae34ef
Ilustrasi: Ayah Sop dan Abon Buni: Jihad Politik Ulama dari Dayah hingga Akar Rumput.

Oleh: Tgk. Ilham Mirsal, MA.

Publik Aceh baru saja dikejutkan oleh sebuah kabar yang sekilas terdengar sederhana, namun sarat makna filosofis: Abon Buni terpilih sebagai Keuchik Gampong Tumpok Mesjid, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara. Bagi pengamat politik konvensional, fenomena ini mungkin dianggap sebagai “turun kasta”. Namun, bagi kita yang mendalami dinamika sosioreligius Aceh, ini adalah sebuah anomali yang menawarkan harapan baru di tengah kelesuan spiritualitas politik kita hari ini.

Sosok yang memiliki nama lengkap Tgk. H. Abubakar, S.Sos.I ini bukanlah tokoh sembarangan. Beliau adalah ulama karismatik, pimpinan Dayah, sekaligus motor penggerak Tarekat Raja Shalawat yang pengaruhnya merasuk hingga ke pelosok-pelosok desa di Aceh. Bayangkan, seorang pemegang tongkat estafet keilmuan tasawuf yang memiliki ribuan murid dan simpatisan setia, justru memilih “turun gunung” untuk memperebutkan kursi jabatan setingkat desa. Kemenangan telaknya dengan skor 117-29 menunjukkan bahwa umat merindukan kepemimpinan yang berlandaskan integritas spiritual.

Warisan Pemikiran Ayah Sop.

Sebelum fenomena Abon Buni muncul, Aceh telah lebih dulu memiliki sang dirigen pemikiran politik Islam modern, almarhum Tgk. H. M. Yusuf A. Wahab atau yang akrab kita sapa Ayah Sop Jeunieb. Beliau telah meletakkan fondasi yang sangat kuat bahwa politik bukanlah barang najis yang harus dijauhi oleh kaum sarungan. Melalui pemikiran pragmatis-transendentalnya, Ayah Sop mampu meyakinkan santri dan masyarakat bahwa kebaikan dalam politik hanya bisa terwujud jika orang-orang baik mau terlibat di dalamnya.

Ayah Sop mengajak kita melihat politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan sebagai instrumen untuk memperbaiki tatanan bangsa sesuai dengan ajaran Islam dan cita-cita luhur kemerdekaan. Beliau sukses menanamkan semangat bahwa setiap jengkal kebijakan harus selaras dengan nilai-nilai syariat. Namun, takdir berkata lain. Sebelum sempat membawa visi tersebut ke jenjang yang lebih tinggi di Pilkada 2024, beliau dipanggil oleh Sang Khalik akibat penyakit jantung yang dideritanya.

Kepergian beliau meninggalkan lubang besar. Muncul pertanyaan retoris di tengah umat: siapa yang akan melanjutkan estafet perjuangan ini? Apakah semangat politik santri akan padam seiring berlalunya musim kampanye, atau justru akan lahir “Ayah Sop – Ayah Sop” baru dengan metode yang berbeda?

Realitas “Gadoh Seumangat”

Pasca Pilpres 2024, Aceh seolah tenggelam dalam kondisi “Gadoh Seumangat” (kehilangan gairah). Dinamika politik nasional dan lokal yang penuh intrik, ditambah beban ekonomi pasca bencana alam dan efisiensi anggaran pemerintah, membuat masyarakat merasa apatis. Kita merindukan sosok pengayom yang mampu menenangkan dan memanggil kembali jati diri bangsa Aceh, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh besar masa lalu.

Dalam kegelisahan itulah, langkah Abon Buni hadir sebagai sebuah kejutan yang tak terduga. Secara kalkulasi politik yang dipelajari di bangku kuliah, keputusan beliau maju sebagai Keuchik mungkin tidak masuk dalam radar prediksi para pakar sekelas Rocky Gerung sekalipun. Seharusnya, dengan kapasitas keulamaan yang melintasi batas kabupaten, beliau layak tampil di panggung Gubernur. Namun, beliau justru memilih titik nol sebagai medan pengabdian.

Mengurai Filosofi Politik “Akar Rumput”.

Sebagai pemerhati Dayah, saya mencoba merekonstruksi niat di balik langkah Abon Buni melalui beberapa asumsi reflektif.

Pertama, ada semacam kritik bisu terhadap jalannya pemerintahan saat ini. Dari tingkat pusat hingga ke gampong, birokrasi kita seringkali terjebak dalam aktivitas seremonial belaka. Seremonial pembukaan dan penutupan kegiatan serta hiruk-pikuk publikasi di media sosial seringkali lebih dominan daripada aksi nyata yang pro-rakyat. Abon tampaknya ingin membuktikan bahwa tata kelola gampong pun memerlukan sentuhan “tangan dingin” seorang ulama.

Kedua, Abon sedang menjalankan strategi “memperbaiki dari bawah”. Jika Ayah Sop memulai visi besarnya dari panggung kabupaten dan provinsi (top-down), maka Abon Buni memulai dari akar rumput (bottom-up). Gampong adalah laboratorium kebijakan yang paling nyata. Jika gampong sebagai unit terkecil pemerintahan bisa diisi dengan nilai-nilai kejujuran dan amanah, maka perubahan besar di tingkat atas hanyalah masalah waktu.

Ketiga, ini adalah sebuah tamparan keras bagi para alumni Dayah dan kaum cendekiawan yang selama ini enggan mengambil peran di level bawah. Banyak santri yang sudah khatam Kitab Mahalli merasa “terlalu tinggi” untuk mengurusi jabatan Keuchik. Abon Buni mengajarkan bahwa tidak ada jabatan yang rendah jika tujuannya adalah pengabdian. Beliau yang menyandang gelar Grand Teacher saja bersedia mengabdi di Pilciksung, lantas apa alasan kita untuk sekadar berpangku tangan?

Mengambil Peran, Bukan Menunggu Peran.

Filosofi ini senada dengan firman Allah dalam Surah Yusuf ayat 55, di mana Nabi Yusuf AS menawarkan diri untuk menjadi bendaharawan negara karena beliau memiliki kapasitas dan integritas ($QS. Yusuf: 55$). Abon Buni menunjukkan bahwa ketika sistem sedang tidak baik-baik saja, maka menawarkan diri untuk memimpin adalah sebuah kewajiban moral, bukan bentuk ambisi pribadi.

Mengutip pesan almarhum Ayah Sop: “Jika kita tidak mengambil bagian untuk menciptakan masa depan kita sendiri, maka orang lain akan menggunakan kita untuk mewujudkan masa depan mereka.”

Kehadiran Abon Buni di kancah politik praktis tingkat gampong adalah cahaya kecil yang harus kita jaga apinya. Ini adalah “Langkah Memperbaiki Politik Edisi Kedua” yang lebih membumi. Harapannya, langkah ini menjadi mercusuar baru bagi para pejuang dakwah di Aceh agar tidak hanya pandai beretorika di atas mimbar, tetapi juga cekatan dalam melayani urusan administrasi dan kesejahteraan umat.

Semoga Abon Buni diberikan kesehatan dan kekuatan dalam memimpin masyarakat Gampong Tumpok. Semoga pula langkah ini memicu kesadaran kolektif agar cita-cita Syariat Islam di Bumi Serambi Mekkah tidak sekadar menjadi jargon politik, melainkan menjadi realitas yang dirasakan manfaatnya oleh setiap warga, mulai dari tingkat gampong hingga ke pelosok negeri. Amin ya Rabbal Alamin.

Penulis adalah Dosen STAI Tapaktuan dan Sekretaris Ikatan Pesantren Indonesia (IPI) Kabupaten Aceh Selatan.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tgk. Ilham Misal, MA (Ayah Ilham), Merupakan Dosen STAI Tapaktuan, dan Warga Gampong Ujung Batee (Terbangan Cut), Kemukiman Terbangan, Kecamatan Pasie Raja, Aceh Selatan.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.