Oleh : Azizah Irfan
Mahasiswa Prodi Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
Pernahkah kamu memikirkan sejauh mana efek media sosial memengaruhi kehidupan remaja? Di era digital saat ini, media sosial merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan remaja. Platform seperti Instagram, TikTok, dan Twitter bukan hanya digunakan sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai ruang untuk membentuk identitas diri.
Fenomena menurunnya kepercayaan diri pada remaja akibat kecanduan media sosial sangat menarik, karena berkaitan erat dengan perkembangan kepercayaan diri atau self-esteem pada remaja.
Kepercayaan diri (self-esteem) merupakan penilaian individu terhadap dirinya sendiri, baik secara positif maupun negatif. Pada masa remaja, self-esteem cenderung belum stabil, karena individu masih berada dalam proses pencarian jati diri. Oleh karena itu, pengaruh lingkungan, termasuk media sosial, menjadi sangat besar dalam membentuk cara remaja memandang dirinya.
Dari sudut pandang psikologi sosial, salah satu konsep penting yang dapat menjelaskan fenomena ini adalah socialcomparison yang dikemukakan oleh Leon Festinger. Teori ini menjelaskan bahwa individu memiliki kecenderungan untuk membandingkan dirinya dengan orang lain guna mengevaluasi kemampuan dan nilai dirinya.
Dalam konteks media sosial, remaja sering terpapar pada berbagai konten yang menampilkan kehidupan orang lain yang terlihat sempurna. Hal ini mendorong terjadinya perbandingan sosial, yang pada akhirnya dapat memengaruhi self-esteem mereka.
Jika perbandingan tersebut mengarah pada motivasi dan inspirasi, maka media sosial dapat meningkatkan kepercayaan diri. Misalnya, ketika remaja melihat orang lain berhasil mencapai sesuatu, mereka terdorong untuk mengembangkan potensi diri. Selain itu, media sosial juga memberikan ruang bagi remaja untuk mengekspresikan diri, mendapatkan dukungan sosial, serta merasa diterima dalam suatu komunitas. Dalam psikologi, hal ini berkaitan dengan kebutuhan akan penerimaan sosial (need for belongingness), yang berperan penting dalam pembentukan kepercayaan diri.
Namun, tidak semua dampak media sosial bersifat positif. Dalam banyak kasus, perbandingan sosial justru bersifat negatif, terutama ketika remaja membandingkan dirinya dengan standar yang tidak realistis seperti melihat kehidupan seseorang di media sosial yang memposting semua kesenangannya.
Konten yang telah melalui proses seleksi, filter, atau bahkan manipulasi dapat menciptakan ilusi kesempurnaan. Akibatnya, remaja merasa dirinya tidak cukup baik, yang dapat menurunkan self-esteem.
Selain itu, fenomena cyberbullying juga menjadi faktor yang signifikan dalam menurunkan kepercayaan diri. Cyberbullying (perundungan siber) adalah tindakan agresif, bertujuan, dan berulang yang dilakukan melalui teknologi digital seperti media sosial, chat, game, atau ponsel untuk menakuti, marah, atau mempermalukan korban.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan munculnya kecemasan sosial, rasa tidak aman, hingga penurunan harga diri.
Dari perspektif psikologi perkembangan, remaja merupakan fase yang rentan terhadap pengaruh eksternal karena identitas diri mereka belum terbentuk secara matang. Oleh karena itu, validasi dari lingkungan, termasuk dari media sosial, sering kali menjadi sumber utama penilaian diri. Ketika kepercayaan diri terlalu bergantung pada “like” atau “komentar”, maka individu menjadi lebih mudah mengalami fluktuasi emosi.
Namun demikian, penting untuk dipahami bahwa media sosial pada dasarnya bersifat netral. Dampak dari media sosial sangat bergantung pada bagaimana individu menggunakan dan memanfaatkannya. Remaja yang memiliki kontrol diri yang baik, pemahaman tentang literasi digital, serta dukungan sosial yang positif cenderung mampu memanfaatkan media sosial sebagai sarana pengembangan diri.
Sebaliknya, tanpa kontrol yang baik, media sosial dapat menjadi sumber tekanan psikologis bagi remaja karena mereka cenderung membandingkan diri dengan standar yang ditampilkan secara tidak realistis, seperti penampilan fisik, pencapaian, atau gaya hidup orang lain.
Hal ini dapat menimbulkan perasaan tidak percaya diri, kecemasan, hingga ketergantungan pada validasi berupa jumlah likes dan komentar.
Oleh karena itu, peran orang tua diperlukan untuk memberikan dukungan emosional, mengawasi penggunaan media sosial, serta menanamkan pemahaman bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh penilaian orang lain.
Pendidik juga berperan dalam menciptakan lingkungan belajar yang menghargai proses, memberikan apresiasi terhadap usaha siswa, serta mengedukasi tentang penggunaan media sosial secara bijak.
Selain itu, lingkungan sekitar, seperti teman sebaya, diharapkan dapat saling mendukung dan tidak saling menjatuhkan. Dengan demikian, remaja perlu diarahkan untuk membangun self-esteemyang sehat dengan cara mengenali kelebihan diri, menghargai proses perkembangan, serta tidak menjadikan standar sosial sebagai satu-satunya tolok ukur dalam menilai diri sendiri.
Secara keseluruhan, media sosial dapat berperan sebagai faktor yang meningkatkan maupun menurunkan kepercayaan diri remaja. Hal ini sangat dipengaruhi oleh proses social comparison, kebutuhan akan penerimaan sosial, serta kondisi perkembangan individu. Dengan penggunaan yang bijak dan kesadaran diri yang baik, media sosial dapat menjadi alat yang mendukung perkembangan psikologis remaja secara positif.
Referensi
Ferguson, C. J. (2017). Everything in moderation: Moderateuse of screens unassociated with child behavior problems. Psychiatric Quarterly, 88(4), 797–805.
Orben, A., & Przybylski, A. K. (2019). The associationbetween adolescent well-being and digital technology use. Nature Human Behaviour, 3(2), 173–182.
Sherman, L. E., Greenfield, P. M., et al. (2016). The power ofthe like in adolescence: Effects of peer influence on neural and behavioral responses to social media. PsychologicalScience, 27(7), 1027–1035.
Twenge, J. M., Martin, G. N., & Campbell, W. K. (2018). Decreases in psychological well-being among American adolescents after 2012 and links to screen time. Emotion, 18(6), 765–780.



























Diskusi