Bahaya “Self-Diagnosis” di Balik Layar TikTok: Mengapa Remaja Aceh Butuh Validasi Profesional?

29e05edd-7320-4d1e-bee4-7bd4496720de
Ilustrasi: Bahaya “Self-Diagnosis” di Balik Layar TikTok: Mengapa Remaja Aceh Butuh Validasi Profesional?

Oleh Sausan  Kamilah

Mahasiswi Prodi Psikologi UIN At-Raniry, Banda Aceh 

Apakah anda memahami bagaimana algoritma media sosial bekerja?. Hanya menonton sebuah vidio dengan tema tertentu, maka dalam beberapa saat, beranda aplikasi akan dipenuhi dengan konten serupa. Hampir seluruh aplikasi penyedia layanan vidio seperti TikTok, YouTube, Instagram dan lainnya memiliki algoritma yang sama. Media ini sangat digandrungi oleh remaja.

Hal ini karena kelompok remaja adalah kelompok yang berada pada fase sedang mencari jati diri. Fenomena ini memiliki dua sisi yang sama, di satu sisi kesadaran untuk menjaga kesehatan mental meningkat, dan di sisi lainnya lahir sebuah tren yang jauh lebih berbahaya yaitu self diagnosis atau mendiagnosis diri sendiri hanya berdasarkan konten yang di tonton 60 detik.

Tren ini bukan hanya sekadar fenomena biasa. Di ruang-ruang tunggu RSJ Aceh, di poliklinik psikologi dari berbagai rumah sakit besar, di setiap kabupaten kota di Aceh, menilai tren ini sudah sangat mengkhawatirkan. 

Jumlah kunjungan pasien remaja pasca pandemi Covid-19, menunjukkan peningkatan yang signifikan. Banyak dari kunjungan tidak dengan keluhan awal yang abstrak, melainkan sudah membawa self labeling sendiri, seperti ; “Dok, saya sepertinya Bipolar,” atau “Saya menderita depresi klinis, karena ciri-cirinya mirip di video TikTok yang saya tonton.”

Terjebak dalam Cyberchondria Digital

Dari sudut pandang saya sebagai mahasiswa psikologi, hal ini menunjukkan sebuah kondisi kecemasan berlebihan yang dipicu dari pencarian info media yang dilakukan secara mandiri untuk mendiagnosis perasaan atau gejala yang dialami, dan sering disebut dengan istilah Cyberchondria

Aplikasi yang sedang sangat populer saat ini dan di kunjungi banyak pengguna adalah TikTok. Dengan visualnya yang secara halus meyakinkan siapapun yang menontonnya tertarik untuk terus melanjutkan tontonan yang dengan algoritmanya sama.

Ditambah dengan narasi yang emosional seringkali membuat membuat informasi tentang gangguan emosional yang komplek tampak menjadi sederhana dan keren.

Diagnosis kesehatan mental bukanlah daftar ceklis belanjaan yang dengan mudah di putuskan. Kondisi emosional manusia sangatlah luar, dipengaruhi oleh berbagai macam faktor yang harus di pertimbangkan dan ditarik kesimpulan oleh profesional yang kompeten.

Ketika seorang remaja melabeli diri tanpa melakukan konsultasi profesional dengan label Bipolar atau Depresi, mereka sebenarnya sedang menzalimi diri sendiri.

Pelabelan negatif yang di sematkan pada diri sendiri, justru membuat kondisi klinis semakin memburuk. Istilah self-fulfilling prophecy sering digunakan dalam psikologi untuk menggambarkan kondisi seseorang yang mencari pembenaran untuk mulai memvalidasi perilaku-perilaku yang mendukung labeling yang mereka buat, dan menjebak diri dalam lingkaran kesedihan yang seharusnya bisa ditangani lebih sederhana jika konsultasi dengan ahli dilakukan lebih dini.

TikTok Bukan Ruang Konsultasi

Kencanduan pada aplikasi TikTok perlu harus diakui telah mengubah cara mencari referensi hidup pada remaja Aceh. TikTok sudah dijadikan sebagai buku induk petunjuk utama untukmenentukan kesehatan mental yang baru dari berbagai konten yang muncul dengan algoritmanya. 

Konten-konten yang muncul biasanya hanya bersifat umum, subjektif dan seringkali konten di buat oleh kreator yang tidak memiliki keahlian pada bidangnya, hanya difokuskan untuk mengejar interaksi dengan penonton.

Penilaian individual bersifat emosional, tidak bisa digunakan untuk menggantikan observasi klinis yang bersifat ilmiah dan empirik. Seorang psikolog atau psikiater mendapatkan ilmu dan keprofesionalannya dari hasil belajar bertahun-tahun, membedakan antara kesedihan biasa dengan depresi klinis, perubahan suasana hati dengan gangguan bipolar dan banyak masalah mental lainnya. 

Penggunaan instrumen tes yang tervalidasi, wawancara mendalam dalam konteks klinis, observasi perilaku perilaku, yang semua langkah tersebut tida mungkin bisa digantikan oleh algoritma mana pun.

Hal ini terjadi secara kompleks di Aceh. Faktor religiusitas sering kali dijadikan sebuah alasan perbandingan. Remaja yang merasa mengalami gangguan mental setelah melihat konten vidio di media sosial merasa kebingungan memperkirakan kondisinya dalam konteks

media atau karena kurangnya ibadah. 

Kebingungan ini makin parah dengan perilaku diagnosis mandiri yang mereka dapatkan dari menonton konten-konten singkat yang menjauhkan mereka dari solusi yang tepat.

Urgensi Validasi Profesional dan Peran Orang Tua

Mengembalikan Marwah ahli pada tempatnya menjadi pintu untuk membuka tabir kesehatan mental yang terjadi di Aceh. Konsultasi profesional perlu diperjelas sebagai langkah penegasan yang tidka bisa ditawar. Validasi yang akurat hanya bisa didapatkan melalui diagnosa objektif, bukan perasaan subjektif setelah menonton konten video viral.

Dinas Kesehatan Aceh dan lembaga pendidikan sebagai perwakilan pemerintah dalam ranah permasalahan ini perlu menggalakkan kampanye untuk menunjukkan cara kepada masyarakat

secara umum dan remaja-remaja Aceh khususnya mengenai cara mencari bantuan profesional yang benar. 

Fasilitas tingkat pertama di seluruh kabupaten kota di Aceh harus mulai membuka diri dan lebih peka terhadap isu kesehatan mental, agar TikTok tidak dijadikan pelarian untuk mencari jawaban atas kegelisahan jiwa para remaja.

Peran keluarga tidak kalah penting, orang tua harus membuka diri dan menjadi sahabat bagi anak, menjadi pendengar keluh kesah mereka tanpa penghakiman ego sebagai orang tua. Jika anak mengeluhkan tentang kesehatan mentalnya, ajaklah mereka ke profesional, jangan biarkan mereka mencari jawaban sendiri di internet. Berikan akses ke psikolog atau psikiater sebagai bentuk kasih sayang dan perlindungan dalam keberhasilan mendidik.

Penutup: 

Mencari Kesembuhan, Bukan Label 

Kesehatan mental adalah harta yang harus dijaga dengan hati-hati bagi remaja perempuan dan laki-laki di Aceh. Ingatlah dirimu jauh lebih kompleks dan berharga daripada sebuah labeling di media sosial. Syariat Islam mengajarkan kita untuk bertanya kepada ahli dari setiap perkara yang ingin diketahui. Hal ini berlaku mutlak dalam kesehatan. Kejujuran pada diri sendiri menumbuhkan ketenangan jiwa dan kecantikan aqidah serta membiasakan berani untuk mencari bantuan yang tepat. 

Ingatlah bahwa dirimu jauh lebih kompleks dan berharga daripada sebuah label di media sosial. Jangan biarkan layar ponsel menentukan siapa dirimu dan apa gangguan yang kamu idap.

Syariat Islam mengajarkan kita untuk bertanya kepada ahlinya jika kita tidak mengetahui suatu perkara. Hal ini berlaku mutlak dalam dunia kesehatan. Kecantikan aqidah dan ketenangan jiwa didapatkan saat kita jujur pada diri sendiri dan berani mencari bantuan yang tepat.

Manfaatkan teknologi sebagai alat untuk meningkatkan literasi, jangan jadikan sebagai referensi tunggal dalam menentukan kondisi kejiwaan. Kita putus rantai self-diagnosis dengan kembali mengutamakan konsultasi profesional. Pada akhirnya, kesembuhan bermula dari diagnosis yang tepat dan ketenangan hati dalam lindungan Allah Subhanahu Wata’ala

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.