Self-Diagnosed di Era Digital

Antara Kesadaran Diri dan Kesalahan Persepsi
IMG_0706
Ilustrasi: Self-Diagnosed di Era Digital

Di tengah maraknya konten kesehatan mental di media sosial, banyak orang mulai mendiagnosis dirinya sendiri. Namun, apakah semua yang terasa sesuai dengan apa yang kita alami benar-benar sebuah gangguan?

Akhir-akhir ini, istilah seperti anxiety, overthinking, dan burnout semakin sering muncul dalam percakapan sehari-hari. Banyak orang mulai mengaitkan apa yang mereka rasakan dengan gangguan mental tertentu, terutama setelah mengonsumsi konten di media sosial yang terasa menggambarkan pengalaman pribadi mereka.

Fenomena ini bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Di era digital, informasi tentang kesehatan mental menjadi sangat mudah diakses. Dalam hitungan detik, seseorang bisa menemukan penjelasan tentang berbagai kondisi psikologis. Namun, kemudahan ini juga membawa konsekuensi: informasi yang kompleks sering kali disederhanakan menjadi potongan-potongan singkat yang belum tentu menggambarkan kondisi secara utuh.

Konten-konten yang relatable memang terasa menenangkan. Ada perasaan “akhirnya ada yang ngerti”. Tapi di sisi lain, hal ini juga bisa membuat kita terlalu cepat menarik kesimpulan. Ketika satu atau dua gejala terasa cocok, kita cenderung langsung memberi label pada diri sendiri.

Secara psikologis, hal ini sebenarnya wajar. Manusia memiliki kebutuhan untuk memahami apa yang mereka rasakan. Kita ingin segala sesuatu terasa masuk akal. Selain itu, ada juga kecenderungan yang dikenal sebagai confirmation bias, yaitu saat kita lebih fokus pada informasi yang mendukung apa yang sudah kita yakini, dan mengabaikan kemungkinan lain. Akibatnya, kita semakin yakin bahwa label yang kita pilih adalah benar, meskipun belum tentu demikian.

Emosi vs Gangguan Mental

Di sinilah penting untuk membedakan antara emosi yang normal dan gangguan mental. Merasa cemas sebelum presentasi, sedih saat menghadapi masalah, atau lelah setelah menjalani hari yang berat adalah hal yang sangat manusiawi. Tidak semua perasaan tersebut merupakan tanda gangguan psikologis.

Dalam dunia psikologi, sebuah kondisi biasanya baru disebut gangguan ketika memiliki intensitas yang tinggi, berlangsung dalam waktu yang cukup lama, dan mengganggu fungsi sehari-hari seseorang. Selain itu, penetapan diagnosis juga perlu dilakukan oleh tenaga profesional, seperti psikolog atau psikiater, melalui proses asesmen yang menyeluruh.

Dampak Self-Diagnosis

Masalahnya, ketika kita salah memahami hal ini, dampaknya bisa cukup besar. Kita bisa terjebak dalam overgeneralisasi, yaitu menarik kesimpulan besar dari pengalaman yang sebenarnya masih dalam batas wajar. Lebih jauh lagi, label yang kita berikan pada diri sendiri bisa mulai terasa seperti identitas. Kalimat seperti “aku orangnya anxiety” atau “aku depresi” perlahan membentuk cara kita melihat diri sendiri.

Padahal, manusia tidak sesederhana satu label.

Namun, bukan berarti self-diagnosis sepenuhnya buruk. Dalam beberapa kasus, hal ini justru menjadi pintu awal bagi seseorang untuk lebih sadar akan kondisi mentalnya. Banyak orang yang akhirnya berani mencari bantuan profesional setelah sebelumnya tidak memahami apa yang mereka rasakan. Dalam konteks ini, self-diagnosis bisa dilihat sebagai langkah awal, selama tidak dijadikan kesimpulan akhir.

Pentingnya Bantuan Profesional

Di tengah banyaknya informasi yang kita terima setiap hari, penting untuk tidak langsung menyimpulkan kondisi diri sendiri tanpa dasar yang jelas. Jika perasaan seperti cemas, sedih, atau lelah mulai terasa berlebihan, berlangsung cukup lama, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya tidak diabaikan begitu saja.

Dalam kondisi seperti itu, memeriksakan diri ke tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater bisa menjadi langkah yang tepat. Dengan asesmen yang lebih menyeluruh, kita bisa mendapatkan pemahaman yang lebih akurat sekaligus penanganan yang sesuai.

Pada akhirnya, memahami diri sendiri tidak cukup hanya dari potongan informasi. Perlu proses yang lebih utuh dan, jika diperlukan, bantuan dari yang ahli.

Referensi

  • American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.).
  • Beck, A. T. (1976). Cognitive therapy and the emotional disorders.
  • Gazzaniga, M. S., Heatherton, T. F., & Halpern, D. F. (2016). Psychological science (5th ed.).
  • Grohol, J. M. (2010). The risks of self-diagnosis. Psych Central.
  • Kahneman, D. (2011). Thinking, fast and slow.
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Shahraz Aiya Sofia
Mahasiswi Program Studi Psikologi, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.