Sudah lama aku merindukan satu hal: menulis. Bukan sekadar merangkai kata, tetapi menyuarakan diri—sesuatu yang selama ini terasa jauh dari jangkauan perempuan seperti aku. Keinginan itu sederhana, tetapi tidak pernah benar-benar mudah untuk diwujudkan.
Selama ini, perempuan Aceh lebih sering menjadi objek cerita daripada penulisnya sendiri. Kisah tentang kami ditulis oleh orang lain, ditafsirkan dari sudut pandang luar, dan disebarkan tanpa memberi ruang yang cukup bagi kami untuk berbicara. Padahal, siapa yang lebih memahami kehidupan perempuan Aceh selain kami sendiri?
Masalahnya bukan pada kemampuan, melainkan pada ruang yang sejak lama tidak pernah benar-benar tersedia. Perempuan kerap ditempatkan dalam lingkaran yang sempit—dapur, sumur, dan kasur—yang tidak hanya membatasi gerak, tetapi juga membungkam suara. Dalam situasi seperti itu, menulis bukan sekadar sulit, tetapi bahkan nyaris tidak terpikirkan.
Perubahan mulai terasa ketika kesempatan itu akhirnya datang. Aku mengikuti pelatihan yang difasilitasi oleh Center for Community Development and Education (CCDE) di Banda Aceh, dan untuk pertama kalinya aku merasa diberi ruang untuk belajar menulis. Di sana, aku tidak hanya belajar teknik, tetapi juga mulai percaya bahwa suaraku layak untuk didengar.
Melalui pelatihan kreatif di WTC–CCDE, aku dan banyak perempuan lainnya mulai menyadari bahwa kami mampu menulis dan memiliki pengalaman yang penting untuk dibagikan. Dari situlah keberanian itu tumbuh, perlahan tetapi pasti.
Kehadiran Majalah POTRET menjadi langkah penting dalam perjalanan ini. Media tersebut bukan sekadar tempat menerbitkan tulisan, tetapi juga ruang yang selama ini hilang bagi perempuan Aceh. Tulisan-tulisan kami tidak lagi berhenti sebagai catatan pribadi, melainkan menjadi bagian dari percakapan yang lebih luas.
Untuk pertama kalinya, perempuan Aceh tidak hanya hadir dalam cerita, tetapi mulai menulis ceritanya sendiri. Ini adalah perubahan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya sangat mendasar.
Aku merasakan perubahan itu secara pribadi. Dari seseorang yang hanya memiliki keinginan, kini aku mulai menulis secara rutin, bahkan di tengah kesibukan sehari-hari. Aku menyempatkan diri menulis di sela waktu, sering kali pada malam hari ketika pekerjaan lain telah selesai.
Dulu, alasan seperti tidak ada waktu terasa begitu nyata. Namun sekarang aku menyadari bahwa yang selama ini kurang bukanlah waktu, melainkan dorongan dan kesempatan. Ketika ruang itu ada, keinginan pun menemukan jalannya.
Perjalanan ini juga membawaku pada hal lain. Selain menulis, aku mulai belajar membangun usaha kecil melalui pelatihan yang sama. Dari yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan sendiri, kini aku mampu berusaha meski dalam skala sederhana, dan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada penghasilan suami.
Pengalaman paling berkesan adalah ketika tulisanku dimuat untuk pertama kalinya di POTRET. Ada rasa haru, bangga, sekaligus tidak percaya bahwa sesuatu yang dulu hanya menjadi keinginan kini benar-benar terjadi. Sejak saat itu, menulis bukan lagi sekadar keinginan, tetapi menjadi bagian dari hidupku.
Kebanggaan itu semakin bertambah ketika mengetahui bahwa tulisan-tulisan di POTRET juga tersimpan di KITLV Leiden, Belanda. Dari sebuah desa kecil, suara itu ternyata bisa sampai ke ruang yang lebih luas, bahkan melampaui batas negara.
Majalah POTRET juga membuka banyak wawasan baru. Di dalamnya terdapat berbagai informasi penting, mulai dari kesehatan, usaha, bahaya narkoba, hingga isu HIV/AIDS. Semua disampaikan dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga mudah dipahami dan terasa relevan.
Lebih dari itu, POTRET juga memperlihatkan perubahan dalam peran perempuan. Kini, perempuan tidak hanya berada di ranah domestik, tetapi juga mulai mengambil peran di ruang publik. Kehadiran keuchik perempuan hingga camat perempuan menjadi bukti bahwa perubahan itu benar-benar terjadi.
Perubahan tersebut mungkin tidak datang secara tiba-tiba, tetapi tumbuh dari keberanian-keberanian kecil, termasuk keberanian untuk menulis dan bersuara. Dari situlah kesadaran mulai terbentuk dan perlahan mengubah cara pandang.
Aku berharap semakin banyak perempuan Aceh yang berani menulis dan menyuarakan pengalaman hidupnya. Karena melalui tulisan, kita tidak hanya berbagi cerita, tetapi juga sedang membangun ingatan kolektif—tentang siapa kita dan bagaimana kita ingin dikenang.



























Diskusi