Oleh Tabrani Yunis
Malam ini sambil menyeruput segelas kopi Arabica Gayo di Gerobak Arabica Gayo, tangan melakukan scrolling di layar HP. Namun sadar bahwa hal ini bukan aktivitas yang produktif, penulis teringat pada sebuah momentum penting bahwa bulan ini adalah bulan April. Bagi penulis, ini tanggal istimewa, karena pada tanggal 21 April 2008 lalu tercatat sebagai hari pernikahan.
Sementara dalam konteks Indonesia, tanggal tersebut adalah tanggal penting untuk memperingati hari Kartini. Hari yang dijadikan sebagai tonggak peringatan terbangunnya emansipasi perempuan di negeri ini yang sampai sekarang tetap diperingati.
Tidak hanya sampai di situ, ingatan pun menerawang pada sosok-sosok pahlawan perempuan Aceh, seperti Laksamana Keumalahayati, Cut Mutia serta Cut Nyak Dhien. Mereka adalah sosok pahlawan perempuan dari tanah Aceh yang sangat terkenal hingga kini. Nama mereka harum karena mereka adalah pejuang dan menjadi simbul perlawanan dalam mempertahankan wilayah di Aceh pada masa lalu. Selayaknya kita bangga dan mengambil pembelajaran dari perjuangan mereka.
Bulan Mai 2026 ini, tepatnya tanggal 12 menjadi momentum peringatan hari lahirnya pahlawan Aceh, Cut Nyak Dhien, perempuan Lampadang itu. Biasanya banyak kegiatan perayaan yang dilakukan untuk mengenang jasa pahlawan Aceh yang sangat membanggakan itu. Selataknya kita mengambil dan mengamalkan setiap butir pembelajaran dari hidup dan perjuangan Cut Nyak Dhien, terutama bagi kalangan perempuan Aceh masa kini.
Nah, ingatan kembali ke suatu masa, pascabencana tsunami, tatkala banyak NGO Internasional tag yang datang ke Aceh untuk membantu Aceh dan korban bencana tsunami Aceh 26 Desember 2004 itu. Kala itu sekitar 10 tahun pascatsunami, masih banyak organisasi masyarakat Sipil di Aceh dan organisasi lainnya melakukan kegiatan-kegiatan diskusi, seminar dan sejenisnya.
Nah, kala itu usai shalat dzuhur, langit di atas Ule Kareng, Banda Aceh, kelihatan berawan dan mendung. Saat itu, jam sudah menunjukkan jam 2 siang, terlihat tenda di bagian belakang warung kopi Solong, sudah dibersihalan dan berikan kursi yang rapi, karena akan ada acara diskusi publik yang diselengarakan oleh sebuah NGO local, SEFA.
Tak berapa lama kemudian panitia penyelenggara datang dan menyiapkan tempat dan logistik. Di tempat itu tampak penyiar radio Antero, the Most Vibrant Radio in Banda Aceh, telah siap untuk menyiarkan acara itu secara on air kepada para pendengar yang tidak sempat hadir pada acara itu.
Beberapa peserta diskusi berdatangan dan menempati bangku dan kursi yang sudah tersedia. Jumlah peserta yang hadir, terasa lebih banyak dari kalangan laki-laki yang masih kelihatan remaja. Hanya beberapa orang perempuan yang ikut berpartisipasi dalam diskusi itu.
Padahal, acara yang digelar pada hari Sabtu, tanggal 4 November 2010 itu mendiskusikan tentang agenda politik perempuan menjelang tahun 2011. Mungkin karena tempat acara dilaksanakan di warung kopi yang selama ini mejadi tempat kumpulnya para lelaki yang menikmati kopi pagi sambil bercengkrama dan berdiskusi informal sebagai bentuk jejaring social langsung.
Kegiatan diskusi publik siang itu terasa cukup menarik, karena menghadirkan dua tokoh perempuan yang sudah cukup dikenal kepiawaiannya dalam dunia politik yakni Hj. Illiza Saaduddin Djamal, SE yang kini menjabat sebagai wakil walikota Banda Aceh dan Theresia EE Pardede, anggota DPR RI. Keduanya adalah tokoh politik perempuan yang sudah alang melintang dalam dunia politik Indonesia yang sepi dari keterwakilan perempuan secara siginifikan.
Ketika mengawali acara diskusi tentang perjuangan perempuan, apalagi ketika berbicara soal perjuangan perempuan Aceh, maka selalu saja yang menjadi wacana latar belakang ( background ) dari mukadimah adalah tentang sejarah perjuangan perempuan Aceh masa lalu.
Tersebutlah nama-nama pahlawan perempuan Aceh, seperti Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Laksamana Keumalahayati dan lain-lain. Sementara dalam konteks nasional, yang menjadi rujukan adalah R,A.Kartini yang diklaim sebagai tokoh emansipasi itu. Keharuman nama mereka dalam berjuang di masa lalu, menjadi sebuah kebanggaan yang bukan saja menjadi kebanggan bagi kaum perempuan, tetapi juga bagi kembanggaan kaum laki-laki dan seluruh bangsa Indonesia.
Yuli Zuardi Rais, saat itu sebagai Direktur SEFA dalam kata pengantarnya di dalam diskusi publik itu berkata, selama ini di Aceh dikenal ada banyak pahlawan nasional atau pahlawan Aceh yg dulunya berjuang untuk nasional dan untuk Aceh sendiri, mereka sangat gigih berjuang di medan perang. Berbagai pertempuran, kebijakan dan juga posisi politik ditempati oleh perempuan-perempuan di Aceh.
Namun, seiring dekmokrasi yang berkembang saat ini, sepertinya posisi keberadaan perempuan semakin tenggelam keberadaannya. Posisi politik yang selama ini ada tidak lagi ditempati oleh perempuan. Tentu saja berbicara soal kapasitas, akses, dan kesempatan yang diberikan kepada perempuan.
Realitas politik perempuan Aceh, saat itu terlihat dalam jabatan politik di kursi parlemen. Sebagai contoh, untuk Aceh saja hanya ada 4 orang perempuan sebagai anggota DPRA dari 69 anggota DPRA. Sangat senjang bukan? Begitulah realitas yang terjadi saat ini. Belum lagi bila kita melihat realitas dalam dunia birokrasi. Bila kita mengarah kepada realitas itu, maka posisi politik kaum perempuan bagai teratai di atas air.
Banyak, tetapi terapung-apung. Bayangkan saja, dari 30 persen quota yang diberikan kepada perempuan, hanya 12 persen yang bisa diisi oleh perempuan. Ironis bukan?
Tentu saja demikian, sebab angka 30 persen itu bisa gaya sebagai pepesan kosong. Karena fakta menunjukkan hal-hal yang menyedihkan. Misalnya angka keterwakilan masih rendah secara keseluruhan: Di tingkat provinsi Aceh hanya 8,97% anggota parlemen adalah perempuan (2024). Ketimpangan antar daerah: Beberapa kabupaten/kota bahkan 0% keterwakilan perempuan, seperti Aceh Utara dan Nagan Raya.
Perempuan Aceh tampak belum mampu menghadapi hambatan struktural.
Partai politik belum konsisten mendukung kader perempuan, meski ada strategi khusus dari partai seperti Nasdem di Banda Aceh. Semakin berat karena faktor budaya patriarki belum seutuhnya terkikis. Sehingga alasan norma sosial masih membatasi ruang perempuan untuk tampil sebagai pemimpin politik.
Jadi, rendahnya persentase keterwakilan perempuan di legislative, menjadi indikator tentang partisipasi perempuan dalam dunia politik. Dunia politik kita masih terus didominasi oleh kaum laki-laki. Dunia politik kita, masih terus mengabaikan akses dan kontrol perempuan yang membuat posisi peempuan dalam dunia politik tetap marginal dan terabaikan karena banyak faktor yang menghambat ruang gerak politik perempuan menjadi tersendat.
Para perempuan dari berbagai kalangan, baik akademisi, maupun aktivis perempuan di negeri ini, sudah banyak mengidentifikasi dan menganalisis persoalan itu dengan berbagai model methodology. Hasilnya juga sudah banyak didesiminasi lewat berbagai media.
Berbagai strategi pula sudah dirancang untuk mengatasi berbagai persoalan, baik dalam bentuk peningkatan kemampuan atau kapasitas, self-development, hingga pada upya merubah kebjiakan yang dilakukan dengan strategi advokasi. Namun, hasilnya masih sangat belum memuaskan hati.
Cut Nyak pun Kecewa
Gerak langkah perjuangan perempuan untuk terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan gerakan politik di tanah air dan di Aceh khususnya memang masih berat dan panjang. Rintangan atau hambatan yang dihapadi oleh kaum perempuan bersumber dari dua kutub.
Dua kutub yang menghambat itu yakni internal dan eksternal. Secara internal, kemauan belajar yang kurang, yang berujung dengan kurangnya rasa percaya diri. Akibatnya, ketika gerbang partisipasi dibuka, maka tidak sedikit perempuan yang mundur karena merasa tidak mampu dan sebagainya. Ini adalah yang bersifat individual dari kaum perempuan.
Bukan berarti semua perempuan seperti ini, karena saat ini sudah sangat banyak intelektual dan ahli dari kalangan perempuan, namun sayangnya tidak membumi. Secara komunal, selama ini ada persoalan belum dipercayainya perempuan oleh perempuan sendiri. Misalnya terkait dengan kepemimpinan perempuan,.
Sebagai contoh adalah ketika musim Pemilu tiba, saat banyak calon-calon legislative dari kalangan perempuan, mereka tidak mendapatkan kepercayaan secara siginifacant. Banyak pemilih perempuan tidak memberikan suaranya kepada calon perempuan, tetapi lebih memilih laki-laki sebagai pilihan mereka. Ini terungkap dalam diskusi publik bersama kedua nara sumber itu.
Sudah banyak inisiasi dan upaya untuk meningkatkan kapasitas perempuan untuk berpartisipasi. Banyak pula kalangan ikut membantu, begitu juga dengan upaya yang dilakukan oleh para perempuan sendiri, baik atas nama individu sebagai aktivis perempuan, maupun atas nama organisasi seperti NGO yang bekerja untuk perempuan.
Namun sayangnya, ketika ada gerakan perempuan yang dibangun, persoalan yang muncul adalah tidak adanya synergy yang jelas dibangun sebagai sebuah gerakan yang memiliki musuh bersama, agenda bersama, media bersama serta hal lain yang saling mengisi. Akibatnya faktor-faktor ekternal seperti budaya patriarchal, kebijakan yang tidak berpihak kepada perempuan serta diskriminasi terhadap perempuan, atau ketidakadilan gender masih tumbuh subur.
Ini semua adalah musuh yang harus menjadi musuh bersama yang segera diberantas oleh perempuan. Dalam sebuah gerakan perempuan yang bersinergis, tanpa mengenyampingkan peran laki-laki untuk bersama melawan diskriminasi terhadap perempuan yang masih merajalela di dalam masyarakat kita. Jadi perjuangan kaum perempuan kontemporer, bukan berarti berjuang seperti apa yang dilakkuka Cut Nyak Dhien, Cut Mutia, Malahayati dan lainnya di masa lalu, tetapi perjuangan kini adalah perjuangan melawan ketidakadilan atau diksriminasi terhadap perempuan di berbagai sector kehidupan.
Andai hari ini Cut Nyak Dhien masih hidup dan melihat realitas perempuan yang belum berhasil meperjuangkan hak-hak perempuan secara optimal saat ini. Ia masih melihat bahwa perempuan masih belum mendapatkan kesempatan untuk memimpin bangsa ini sebagaimana ia tunjukkan kala itu, Cut Nyak Dhien pasti merasa sangat kecewa. Apa lagi, bila Cut Nyak Dhien tahu bahwa kita bangga akan perjuangannya, kita memperingati hari lahirnya, tetapi tidak memetik pelajaran dari perjuangannya, tidak mengambil dan menghargai nilai-nilai yang dibangun dalam perjuangannya, Cut Nyak Dhien pasti sangat kecewa.
Padahal, perjuangan Cut Nyak Dhien beserta para pahlawan perempuan lainnya telah mewariskan semuanya, semangat, nilai-nilai pelajaran dan hasil perjuangan serta strategi-strategi yang mereka bangun untuk berjuang. Para perempuan Aceh kini, bisa menjadikan perjuangan mereka sebagai landasan dan fundamen untuk melawan semua bentuk ketidak adilan atau segala bentuk diskriminatif terhadap perempuan saat ini.
Selayaknya, perempuan di era ini melanjutkan perjuangan itu. Satukan kekuatan dan tetaplah istiqamah atau konsisten dalam perjuangan. Dengan bersinergi, menyusun dan melaksanakan agenda bersama, perjuangan perempuan kini dan esok, akan berhasil. Pasti bisa.

























Diskusi