Sisi Gelap Bermain Toponimi, Kala Pepatah Bertransformasi Menjadi Stereotip

IMG_0683
Ilustrasi: Sisi Gelap Bermain Toponimi, Kala Pepatah Bertransformasi Menjadi Stereotip

Oleh Afridal Darmi

Penulis tersenyum-senyum membaca postingan seorang teman di status WA-nya. Lingkok Manggeng, Pasie Peulumat, Haba mangat di Samadua. Demikian postingan itu.

Tidak bisa, tidak postingan status itu tentu dimaksudkan untuk dibaca orang seluruh dunia. Namun agaknya teman saya itu sengaja mengabaikan fakta bahwa pembaca statusnya yang bukan orang Aceh tidak akan tahu arti dan konteksnya. 

Orang Aceh sekalipun, yaitu mereka yang bermukim di luar Aceh Selatan raya, mungkin tidak mengenal atau tidak pernah mendengar potongan pepatah itu. Bahkan mungkin banyak orang Aceh Selatan raya sendiri juga tidak mengetahuinya. 

Manggeng, Peulumat dan Samadua adalah nama-nama kecamatan di Aceh Selatan. Pencantuman nama tempat di dalam folklor seperti itu merupakan bagian dari kajian toponimi (Toponymy) dalam ilmu sosial dan humaniora, khususnya antropologi dan linguistik. 

Tapi apakah maknanya? Atau merujuk kepada apa? Atau bahkan, apakah potongan “hadih maja” yang dikutip kawan saya itu akurat?

Akuratkah Toponimi itu?

Jauh sebelum ini, sebelum sang teman memposting pepatah itu di status WA-nya, Penulis  pernah bertanya kepada salah seorang tokoh adat yang dianggap otoritatif di Aceh Selatan tentang asal-usul folklor di atas. Sang Tokoh Adat mengomentari pengutipan pengutipan yang tidak akurat. 

Yang akurat adalah dan sesuai dengan sejarahnya adalah:

Likok Manggeng (bukan lingkok)

Puseng Peulumat (bukan pasie)

Suara mangat di Samadua (bukan haba mangat)

Perbedaan itu terutama terlihat  mencolok dari makna. “Lingkok” dalam Bahasa Aceh bermakna jalan berliku atau tikungan. Agaknya pengubahan kata ini terjerumus dalam conformity (cocok-logi)  karena jalan-jalan besar di pegunungan Manggeng Aceh Selatan itu berkelok-kelok. Namun sebenarnya kata “Likok” merujuk pada tarian Likok Pulo, sebuah kreasi seni warisan indatu moyang yang sangat indah, energetik, dan spektakular. 

Dan Manggeng sudah lama dikenal sebagai pusat perkembangan seni tari ini. Diagungkan sebagai salah satu puncak kesenian Aceh dan Indonesia, bahkan sudah dipertunjukkan di manca negara. 

Kata “Pasie” yang disebut dalam “folklor versi bid’ah” itu bermakna pantai, baik pantai lautan ataupun tepian sungai yang landai. Namun penyebutan kata Pasie dengan Pelumat di situ tidak memiliki makna relevan apapun. Sedangkan “Puseng” dalam folklor versi yang akurat di atas semakna kata aslinya yaitu berputar. 

Ternyata menurut penjelasan ini kata “puseng” itu merujuk pada tarian Seudati yang salah satu gerakannya adalah para penari bersama-sama bergerak cepat berbentuk lingkaran besar lalu terpecah berpasangan saling bergantian mengelilingi (berpusing) dengan pasangannnya sebagai titik pusat perputaran. 

Pergerakan cepat dan transformasi dari putaran besar ke kecil, bergantian antar pasangan dan kembali ke putaran besar, adalah gerakan yang sulit dan membutuhkan koordinasi tinggi, stamina, kecekatan dan inteligensi. Jika tidak tabrakan antar pemain Seudati akan terjadi, bencana gagal pertunjukan, kobong. Hanya mereka yang sudah berlatih lama yang mampu melakukannya. 

Pertunjukan itu menjadi semakin spektakular manakala ia baru kali itu diperkenalkan di pentas Seudati.

Dan “suara mangat” bermakna “suara yang indah dan enak didengar”. Tidak kurang-tidak lebih. 

Ratu Wilhelmina of the Netherlands dan Toponimi Aceh Selatan

Jawaban dari Sang Tokoh Adat tentang asal-usul folklor itu cukup menarik, namun juga mengecewakan bagi Penulis yang masih sangat muda waktu itu. 

Penulis semula berharap ada kaitannya dengan legenda, melibatkan mistis atau bahkan tokoh sakti mandraguna. Jika toponimi kota Tapaktuan melibatkan pertapa sakti Tuan Tapa, naga raksasa bersisik emas dari China, dan seorang putri cantik dari Negeri Bharata (India sekarang). 

Ternya penyebutan Samadua, tanah kelahiran dan kampung halaman tercinta, dalam folklor itu tidak ada mistis-mistisnya sama sekali. Bahkan cenderung kering, sekering administrasi negara yang menyertai kelahiran kisahnya.

Syahdan pada tahun 1930-an, menjelang akhir masa kekuasaan administrasi Belanda di Aceh (by proxy, tentu saja), seorang Uleebalang (raja lokal) yang berkuasa pada waktu itu di Aceh Selatan menyelenggarakan pesta rakyat. Pesta ini adalah untuk menghormati Ratu Wilhelmina, ratu Negeri Belanda yang pada waktu itu memperingati hari ulang tahunnya. 

Lazim setiap tahunnnya, hari ulang tahun Sang Ratu diselenggarakan pesta besar-besaran di Belanda sana, termasuk seluruh negeri jajahan, seperti Hindia Belanda, Suriname dan lainnya. 

Di Aceh, sebagai bagian dari “piasan raya” (festival, pertunjukan besar) dalam pesta rakyat negeri jajahan itu dilakukan perlombaan seni. Berbagai group seni tari dan suara dari berbagai mukim(sekarang setara kecamatan) di Aceh Selatan mendapat undangan untuk tampil di Padang Seumantok (pusat Kecamatan Meukek sekarang). Lalu raja dan panitia dari kerajaan menilai kehebatan para seniman itu. 

Ketika saatnya pengumuman pemenang perlombaan Uleebalang yang berkenan menjadi pihak yang memutuskan pemenang dalam pidatonya menyitir untaian kata-kata indah untuk menyebutkan pemenang lomba seni. 

Lomba Tari Likok Pulo dimenangkan oleh group tari dari Manggeng, Lomba Tari Seudati dimenangkan oleh tim Seudati dari Peulumat dengan gerakan berpusingnya yang spektakuler. Dan Lomba melantunkan Seulaweut (membaca Selawat indah) dimenangkan oleh seniman dari Samadua. 

Maka di atas podium Padang Seumantok itu Sang Ulee balang bertutur: “Likok Manggeng, Puseng Peulumat, Suara Mangat di Samadua”.

Toponimi dan Stereotipe atawa Cap Bangsa 

Tak ada pertapa sakti dan rencongnya yang ditancapkan dan kelak menjadi Gunung Seulawah, tak ada naga sakti bersisik emas, dan tak ada putri jelita yang lahir dari ruas bambu betung dalam kisah ini. Sama sekali tak fenomenal. 

Toh, hampir seratus tahun berlalu (1930-2026) sejak pepatah itu disitir oleh Sang Uleebalang di Podium Padang Seumantok ituhingga kini ia bertahan, walau mungkin sudah tidak seakurat semula dan terlepas dari konteks, makna dan fungsi aslinya. Itu biasa terjadi dalam folklore. Seiring waktu semua folklore mengalami pergeseran ini. Gejala pergeseran ini dikenal sebagai Folklorization dalam ilmu sosial. 

Folklor yang terkenal untuk pantai utara Aceh juga mengalami Folklorization. Anda sering mendengar kutipan pepatah Pidie prak, Samalanga walak-walak“, bukan? Akuratkah itu dibanding ungkapan aslinya? 

ADVERTISEMENT

Ternyata menurut salah satu penuturan dalam versi yang beredar di Aceh, ungkapan itu adalah plesetan dari “Pidie perang, Samalanga wallahu a’lam”. 

Sebenarnya ini adalah ungkapan historis dari masa DI/TII (1950-1960-an). Seorang Engkoh dari etnis China yang berdagang di Pidie dan mengungsi ke Banda Aceh karena perang ingin mengabarkan situasi kacau balau di Pidie sekitarnya. Namun, karena keterbatasan pengucapan huruf “r”, kata “perang” berubah menjadi “prak” dan wallahu a’lam (entah bagaimana nasib, hanya Tuhan yang tahu) berubah menjadi “walak-walak”.Namun seiring waktu pula, makna asli ini bergeser. 

Masalahnya dengan toponimi Pidie dan Samalanga ini, di dekade-dekade belakangan pepatah ini difungsikan untuk memberi penanda bagi sifat dan karakter bagi dua kelompok masyarakat di Aceh ini. Orang-orang yang berasal dari Pidie dituduh sebagai “prak”, atau tidak bisa dipercaya dan licik. Sedangkan orang Samalanga dituduh sebagai “walak-walak”, yang dimaknai kebingungan sendiri atau tidak bersikap. 

Penggunaan toponimi dalam folklor pada awalnya hanya berfungsi sebagai penanda tempat, namun melalui proses sosial dan pergeseran makna, ia dapat bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih gelap. Masalahnya bukan pada toponiminya, melainkan pada bagaimana ia dimaknai ulang dan disederhanakan, dan juga dapat berubah menjadi alat pelabelan sosial yang problematik.

Dalam Sosiologi, pelabelan atau cap ini disebut stereotip (stereotyping) yaitu keyakinan, asumsi, atau generalisasi yang terlalu disederhanakan (overgeneralized) mengenai karakteristik tipikal dari suatu kelompok orang tertentu. 

Stereotip sering kali didasarkan pada karakteristik seperti ras, etnis, jenis kelamin, agama, atau pekerjaan, dan cenderung mengabaikan keunikan individu di dalam kelompok tersebut.Stereotip memberi cap atau label bagi orang lain sesuai persepsinya sendiri.

Dan tentu saja ini tidak benar dan tidak fair bagi orang Pidie dan Samalanga yang menjadi sasaran stereotip ini. Stereotip menyederhanakan kenyataan kompleks tentang individu menjadi satu label kelompok yang kaku (cultural essentialism), dan hanya mengagungkan gambaran sesat di kepala si stereotiper itu sendiri. 

Ahli Sosiologi Walter Lippmann menyebut stereotip sebagai gambaran di dalam kepala kita—cara kita menyederhanakan dunia yang rumit untuk mempermudah pemahaman sosial. Walau itu merugikan orang lain. 

Dalam konteks ini melabeli etnis tertentu dengan sifat-sifat tertentu (misalnya: pemalas, pekerja keras, kasar dan sebagainya) yang sering menimbulkan prasangka. Stereotip jika berlanjut berdampak buruk karena dapat menimbulkan ketegangan sosial, menghambat komunikasi antarbudaya, menyebabkan prasangka, dan memicu tindakan diskriminatif yang merugikan kelompok minoritas atau kelompok tertentu.

Jadi, Saudara Pembaca, jika Anda mendengar stereotip terhadap orang Samadua adalah haba mangat, pandai bermulut manis dan memberikan harapan palsu maka anda sekarang sudah tahu dari mana asalnya, dan bagaimana sesatnya cap dan stereotip itu. 

Leluhur orang Samadua memiliki suara yang indah dalam melantunkan Seulaweut dan memenangkan hati Sang Raja di awal abad ke-20 lalu. Sesimpel itu….

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Afridal Darmi, SH, LLM. Seorang advokat profesional dan penulis amatir. Pernah menjejakkan kaki di berbagai sudut Bumi di negeri-negeri yang jauh di empat benua dalam menjalankan misinya sebagai Human Right Defender. Tapi selalu mendapati dirinya merindu Aceh, tempat perahu hatinya tertambat dan membuang sauh, tempat ketiga anak dan istrinya bermukim. Menyukai kopi dan bacaan. Segelas seduhan kopi Aceh dan sebuah buku, serta pojok yang tenang untuk membaca, hanya itu yang diperlukan untuk membuatnya bahagia. Afridal Darmi berkediaman di Aceh Besar. Alamat email: afridaldarmi@gmail.com

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.