```php Perempuan Di Warung Kopi - POTRET

Perempuan di Warung Kopi

Perempuan di Warung Kopi - IMG_3472 | Artikel | Potret Online
penulis bersama teman-teman alumni bahaasa inggris USK di Gerobak Arabica, Pango, Banda Aceh

Oleh Tabrani Yunis

Pagi ini, usai megantarkan anak-anak ke sekolah, mampir sejenak ke POTRET Gallery untuk mengecek apakah petugas toko sudah buka atau belum. Ternyata belum buka, pada pukul 08.15 WIB.

Karena belum sempat sarapan, penulis mengajak anak tertua, Ananda Nayla Tabrani Yunis untuk ke warung kopi. Pilihannya ke Solong Jepang. Kami pun berjalan kaki ke Solong Jepang.

Saat masuk ke halaman parkir kendaraan, penulis langsung bertemu dengan beberapa orang perempuan dan tiga lelaki di meja depan. Satu di antara beberapa perempuan itu menyapa penulis mengajak atau menawarkan tempat duduk. Ya, penulis bersama anak memilih tempat di dalam, dekat kasir.

Saat itu langsung mendapat ide untuk menulis, tentang kehadiran perempuan di warung-warung kopi. Namun penulis ingat bahwa tema ini sudah pernah ditulis dan dipublikasikan juga di Potretonline.com, atau di Kompasiana dengan judul “Perempuan di Waroeng Kopi”

Selama dua hari ini, Potretonline.com, juga menurunkan sekitar tiga tulisan mengenai warung kopi dan cafe di Aceh. Sebuah esai yang ditulis oleh Dayan Abdurrahman pada tanggal 5 April 2026 dengan judul “Ketika Cafe Menjadi Kampus Kedua, Membaca Kembali Makna Ruang Belajar”.

Kemudian Yusri Abdullah menulis tema yang sama dengan judul “Antara Cafe dan Kelas: Saatnya Kampus Keluar Dari Kekakuan”. Lalu, penulis sendiri memuat kembali sebuah tulisan lama yang penulis publikasikan pada tahun 2009 di sebuah media lokal saat itu dengan judul tulisan “Sekolah Cafe”.

Sementara Dr(Cand) Kaipal Wahyudi, SJ, M.HUM, M.Ag telah menulis beberapa tulisan mengenai warung kopi di Aceh. Tulisan yang baru saja dimuat di Potretonline.com, edisi 7 April 2026 dengan judul “Warung Kopi Sebagai Ruang Belajar Publik”.

Tentu sudah banyak orang menulis tentang eksistensi warung kopi di Aceh di tengah perubahan gaya hidup orang-orang di Aceh saat ini.

Nah, pagi ini seperti penulis ceritakan di awal tulisan, kondisi atau wajah warung kopi di Aceh semakin memperlihatkan kepada kita ada gerak dinamis yang konstruktif dan destruktif dalam dinamika warung kopi di Aceh yang secara kasat mata semakin maju dan bahkan disebut modern, karena adaptif dengan perkembangan gaya hidup generasi masa kini.

Dalam tulisan ini, penulis tertarik melihat kembali tentang perubahan besar di warung kopi, ketika warung kopi dan cafe di Aceh sejak pasca tsunami, hingga kini di era digital di mana hampir tidak ada warung kopi dan cafe yang tidak melakukan digitalisasi dalam pelayanan terhadap para pengunjungnya.

Nah, apa yang sejak dahulu menarik untuk diamati dan banyak diperbincangkan adalah tentang perubahan besar dalam kehidupan perempuan di masyarakat kita.

Penulis membuat judul tulisan ini dengan judul “Perempuan di Warung Kopi”, sebuah tulisan yang ditulis berdasarkan amatan selama bertahun-tahun, hingga saat ini.

Dahulu, pada masa-masa awal pasca tsunami, kehadiran perempuan di waroeng kopi bisa jadi dikatakan sebagai sebuah fenomen baru di Aceh. Dikatakan demikian, karena bila kita merujuk pada perjalanan sejarah waroeng kopi, kita dengan mudah berkata bahwa waroeng kopi adalah tempatnya kaum laki-laki.

Entah untuk menikmati secangkir kopi dan beberapa potong kue, atau juga untuk keperluan lain. Karena dalam realitas seharian, waroeng kopi adalah sebuah kedai yang dijadikan oleh kaum laki-laki sebagai tempat melayani para tamu yang tidak dibawa atau diundang ke rumah.

Bukan hanya itu, waroeng kopi juga menjadi tempat atau wadah bagi kaum laki-laki untuk bersosialisasi dengan kaum laki-laki lainnya, sambil bercengkrama tentang bisnis, politik dan sebagainya.

Pendeknya, waroeng kopi lebih familiar dengan jenis kelamin laki-laki. Lalu bagaimana dengan perempuan?

Penulis jadi teringat kembali pada aktivitas masa lalu. Dalam beberapa pelatihan menulis kreatif bagi perempuan Aceh yang dilaksanakan oleh Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh di Women Training Center CCDE, penulis sering mengajukan pertanyaan kepada para perempuan tersebut.

Ada beberapa pertanyaan yang penulis lemparkan kepada mereka. Pertama, perempuan tidak minum kopi di waroeng kopi, sebagaimana halnya kaum laki-laki?

Secara umum, jawaban yang diperoleh adalah mereka merasa malu ke waroeng kopi. Apa yang membuat malu karena di waroeng kopi sangat jarang ada perempuan nongkrong mencicipi kopi.

Jadi ketika ada satu atau dua perempuan yang datang, maka terasa seperti sangatlah aneh. Rasa kecut dan malu pun muncul. Apalagi dalam kenyataannya, di waroeng kopi banyak laki-laki. Sehingga, perasaan yang menghantui pikiran perempuan adalah takut dikatakan atau dicap dengan hal-hal yang tidak diinginkan.

Maka, bila kita lihat ke belakang, dalam sejarah waroeng kopi, memang sangat jarang perempuan yang menghabiskan waktu di waroeng kopi sebagaimana layaknya laki-laki. Seakan waroeng kopi memang sudah menjadi bagian dari budaya kaum laki-laki di Aceh. Perasaan dan perspektif demikian, memang sudah lama ada di dalam masyarakat Aceh.

Benar bahwa sebelum bencana tsunami melanda Aceh, warung kopi memang menjadi tempat bagi kaum laki-laki mengadakan kontak sosial dan silaturahmi. Mereka menjadikan warung kopi untuk bisa saling berbincang tentang berbagai hal. Sambil menikmati secangkir kopi, para lelaki di warung kopi bisa mendapatkan informasi dari diskusi dengan rekan-rekan mereka.

Apalagi setelah semakin berkembangnya industri media surat kabar, warung-warung kopi tersebut menyediakan surat kabar yang dibaca oleh para pengunjungnya. Bahkan, ketika sulitnya masyarakat Aceh mendapatkan sinyal siaran televisi, hampir semua warung kopi memasang antena parabolic. Sarana ini semakin menambah banyaknya pengunjung warung kopi di Aceh. Apalagi ketika musim piala dunia berlangsung, semua warung kopi penuh dengan para pencinta bola yang umumnya adalah kaum laki-laki.

Namun, ketika zaman berubah, budaya waroeng kopi ikut berubah. Bukan hanya dari segi kuantitas atau jumlah, tetapi juga dari jumlah dan jenis orang yang datang ikut berubah. Perubahan itu justru terjadi sebagai akibat dari kedatangan banyak orang ke Aceh dari berbagai penjuru dunia. Jadi perubahan itu bukan terjadi secara disengaja dan terencana. Tetapi sejalan dengan peristiwa-peristiwa masuknya para pendatang ketika pasca bencana tsunami Aceh.

Sebagaimana kita ketahui bahwa pasca bencana tsunami, perkembangan waroeng kopi di Aceh, khususnya di Banda Aceh mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan. Banda Aceh ibarat kota seribu waroeng kopi. Apa yang menakjubkan adalah, semakin banyak waroeng kopi, semakin banyak orang yang datang nongkrong dan bercengkrama di waroeng kopi.

Tidak berlebihan kalau kita katakan bahwa jamaah warung kopi bisa lebih banyak dari jumlah jamaah masjid-masjid di Aceh. Pertumbuhan waroeng kopi dengan gaya dan style yang semakin menarik, dirancang oleh para pebisnis yang menjadikan minum kopi sebagai gaya hidup, para pengunjung dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang membuat orang senantiasa betah di waroeng kopi.

Sehingga, tidak pelak lagi kalau waroeng kopi menjadi tempat yang membuat sebagian orang menghabiskan waktunya di waroeng kopi. Sayangnya banyak yang hanya menghabiskan waktu di tempat ini dan mengabaikan kewajiban atau pekerjaan.

Yang paling menarik kita amati saat ini adalah ekspansi warung kopi semakin pesat. Seakan warung kopi menjadi bisnis andalan di Aceh. Pesatnya pembukaan dan pembangunan warung kopi yang menggunakan tempat yang luas dengan bangunan yang didesain begitu menggoda tumbuh subur bagai jamur di musim hujan. Bukan hanya di ibukota Aceh, Banda Aceh, kini setiap kabupaten dan kota di Aceh hingga di kecamatan dan desa semakin banyak hadir warung kopi besar.

Bahkan lebih menarik lagi kalau kita berada di Samalanga, Bierun yang dikenal sebagai kota Santri itu, kini hadir sejumlah warung kopi dan cafe dengan skala besar dan dikunjungi oleh pengunjung lintas generasi, lintas gender, lintas status sosial. Mulai dari anak-anak, hingga orang tua, baik laki-laki, maupun perempuan, mulai dari siswa dan santri hingga Teungku-Teungku. Sungguh sangat dahsyat perkembangannya.

Melihat fenomena atau bahkan realitas ini, penulis teringat pada Ibnu Mujib, MA, peneliti pada Center for Religious and Cross-cultural Studies, Pascasarjana UGM – Yogyakarta, dari Website The Aceh Institute edisi 1 April 2009. Mengatakan bahwa fenomena warung kopi muncul menjadi ajang sejarah baru yang selalu direkonstruksi, tidak saja pada tingkat orientasi transaksionistisnya, pola-pola estetis, performen yang khas, tetapi juga makna yang kini fungsinya semakin mendapatkan pengakuan baru di hati publik masyarakat Aceh.

Mulai dari anak muda, pejabat pemerintah, politisi, pekerja NGO, penjual bakso, tukang becak dan berbagai kelas sosial, mulai dari tingkat ekonomi masyarakat yang paling bawah hingga pada kelas-kelas elit yang beragam juga ikut menikmati longgarnya ruang kebudayaan warung kopi di Aceh.

Alasannya juga akan sangat beragam. Selain terjangkau harganya, nilai estetis sebuah warung kopi juga menjadi hiburan yang tak tergantikan dari kehidupan harian masyarakat Aceh. Tidak saja di perkotaan, tapi juga di sudut-sudut pedesaan banyak kita jumpai model-model penyangga akar kebudayaan masyarakat Aceh semacam ini.

Apa yang diungkapkan Ibnu Mujib MA di atas, tentang fungsi waroeng kopi di Aceh tidak jauh berbeda dari apa yang dipersepsikan oleh kebanyakan orang yang menggunakan waroeng kopi selama ini. Ketika kita tanyakan apa fungsi waroeng kopi selama ini, kita sering menemukan jawaban yang sama. Misalnya, sebagai tempat orang menjalankan bisnis minuman kopi. Secara sosial dan bisnis, waroeng kopi adalah titik temu antara satu orang, kelompok orang dengan orang dan kelompok lainnya.

Pertemuan itu akan memiliki kandungan isi sesuai dengan tujuan atau bahan pembicaraan mereka. Jadi sering warung kopi di Aceh saat ini disebut sebagai pusat sejuta cerita atau informasi bagi semua orang. Sehingga, datang ke waroeng kopi, seakan bisa melepas segala dahaga dan segala cerita.

Banyak Perempuan di Warung Kopi

Sebagaimana dipaparkan di atas, bahwa sebenarnya saat sebelum bencana tsunami terjadi di Aceh, para pengunjung waroeng kopi adalah laki-laki. Namun realitas lain terjadi pasca tsunami, ketika banyaknya para pendatang dari berbagai suku, ras dan bangsa datang membantu Aceh. Kedatangan mereka merubah waroeng kopi yang berjenis kelamin laki-laki berubah.

Ibnu Mujib menyebutnya bahwa warung kopi telah memperluas ruang kebudayaan (cultural space) di Aceh. Di satu sisi, dahulu para perempuan Aceh tidak banyak yang ikut dalam proses-proses pembudayaan warung kopi semacam ini, kini perempuan Aceh mulai banyak yang ikut mengisi ruang-ruang kebudayaan warung kopi di pedesaan Aceh.

Kehadiran perempuan mengisi ruang-ruang di waroeng kopi pada mulanya seperti masih dengan gerakan yang agak kaku dan dibayangi oleh rasa sungkan dan segalanya. Tetapi kehadiran para perempuan di waroeng kopi tersebut dipercepat dengan banyaknya para perempuan dari luar Aceh yang bekerja di berbagai NGO dan lembaga-lembaga internasional yang ada di Aceh.

ADVERTISEMENT

Sejak itu pengunjung waroeng kopi semakin banyak dari kalangan perempuan. Namun, perempuan yang hadir ke waroeng kopi tersebut pasca kepulangan para pendatang adalah dari kalangan masyarakat kota. Sementara dari kalangan perempuan perdesaan, waroeng kopi masih menjadi tempat yang tabu bagi mereka.

Namun kini, setelah semakin pesatnya pertumbuhan dan perkembangan warung kopi hingga ke pelosok Aceh, kehadiran perempuan terus mengisi ruang-ruang yang ada di waroeng kopi, sehingga telah menggeser perspektif waroeng kopi yang dahulunya sangat maskulin berubah menjadi lebih longgar.

Bukan lagi secara berangsur-angsur pengunjung waroeng kopi bukan hanya dominasinya laki-laki, perempuan juga bisa ikut serta. Kehadiran perempuan di waroeng kopi bisa setiap saat sebagaimana layaknya kehadiran kaum laki-laki. Mata orang-orang juga tidak lagi merasa asing ketika perempuan ikut nimbrung di waroeng kopi tersebut.

Kelihatannya tidak ada lagi yang canggung, apalagi tabu. Mereka bisa duduk berbarengan dengan kaum laki-laki, ikut terlibat dalam berbagai perbincangan atau diskusi yang berlangsung sepanjang hari.

Nah, ketika semakin banyak perempuan hadir ke waroeng kopi, ada yang bertanya, apa untungnya perempuan ada di waroeng kopi? Pertanyaan ini sangat sering terdengar, termasuk dari kalangan perempuan. Lalu, bagaimana cara menjawabnya?

Sebenarnya jawabnya sama seperti kita bertanya kepada kaum laki-laki, mengapa mereka ke waroeng kopi? Apa yang mereka cari dan apa keuntungan yang diperoleh oleh laki-laki ketika berada di waroeng kopi. Beberapa di antaranya, ya bisa menambah teman, menambah pengetahuan, menambah peluang keluar dari ranah domestik. Selebihnya mari kita gali bersama tentang hal ini, sebagaimana sejumlah penulis telah mengangkat realitas warung kopi di Aceh dalam berbagai sudut pandang. Namun selayaknya kita coba mencari jawabannya bersama.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.

Bio Narasi

Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari.

Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan”

Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak.

Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

``