Oleh Yani Andoko
Ketika Hati Terasa Kosong di Tengah Dunia yang Hiruk-pikuk
Tengah malam. Jam menunjukkan pukul 00.23. Rina (24) baru saja menggulir media sosial selama dua jam non-stop. Ia melihat teman SMP-nya liburan ke Eropa, sepupunya baru saja mempromosikan bisnis online dengan omzet miliaran, dan seorang influencer yang ia ikuti sedang pamer tas baru.
Rina lalu menatap langit-langit kamar kontrakannya yang sempit. “Apa aku ini gagal?” bisiknya. Padahal, gajinya bulan ini naik. Ia baru saja membeli ponsel baru. Tapi mengapa hatinya terasa seperti dijemur setengah matang? Tidak segar, tidak juga mati.
Sementara itu, di sebuah desa di Jawa Timur, Slamet (45) sedang gelisah. Sebagai petani, ia biasa hidup sederhana. Tapi akhir-akhir ini ia sering bertengkar dengan istrinya soal utang motor. “Lha kok Pakdhe konco deso iso tuku motor anyar, aku ora?” keluhnya. Ia tahu konsep nrimo menerima dengan ikhlas. Tetangganya itu juga petani. Jadi kenapa ia bisa? Hmm.
Kisah Rina dan Slamet hanyalah dua dari jutaan orang Indonesia yang tengah mengalami apa yang saya sebut sebagai lara ati ing zaman edan sakit hati di zaman yang gila. Secara ekonomi, hidup mungkin lebih baik daripada 20 tahun lalu. Secara teknologi, kita terhubung dengan siapa pun kapan pun. Tapi secara batin? Kita justru semakin rapuh.
Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa 6,1 persen penduduk Indonesia berusia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental emosional. Angka itu meningkat drastis pada 2023, dengan lebih dari 11 juta orang mengalami depresi dan kecemasan, menurut laporan Kementerian Kesehatan.
Sementara itu, survei dari polling institute Jakpat (2024) mengungkapkan bahwa 73 persen generasi Z dan milenial merasa tekanan untuk sukses secara finansial membuat mereka kehilangan kedamaian batin.
Di tengah kegalauan massal ini, muncullah pertanyaan yang sederhana namun dalam: Apa sebenarnya bahagia itu?
Mari kita bertanya pada seorang filsuf Jawa yang mungkin jarang kita dengar namanya di bangku sekolah, tapi ajarannya sangat membumi: Ki Ageng Suryomentaram.
Mengenal Ki Ageng, Sang “Plato Dari Indonesia”
Siapa Dia? Seorang Pangeran yang Memilih Hidup Rakyat Jelata, Ki Ageng Suryomentaram lahir pada 20 Mei 1892 di lingkungan Keraton Yogyakarta. Nama kecilnya adalah Raden Mas Kudiarmadja. Ia adalah putra dari Sultan Hamengkubuwono VII. Tentu, sebagai pangeran, ia bisa hidup mewah, dikelilingi abdi, dan menikmati segala fasilitas istana.Tapi ia memilih jalan yang berbeda.
Pada usia 22 tahun, ia memutuskan untuk meninggalkan keraton. Ia melepas semua gelar kebangsawanan dan hidup sebagai rakyat biasa. Ia bertani, berdagang, dan bergaul dengan rakyat kecil. Dari sanalah ia mulai merenungkan hakikat kebahagiaan. Mengapa orang kaya bisa tetap sengsara? Mengapa orang miskin bisa hidup tenang? Mengapa keinginan itu seolah tak pernah puas?
Pertanyaan-pertanyaan itu membawanya mendirikan Paguyuban Kawruh Jiwa pada tahun 1930-an. Kawruh Jiwa secara harfiah berarti “ilmu tentang jiwa”. Tapi jangan bayangkan ini semacam mistik atau tahayul. Ini adalah ilmu praktis untuk mengenali diri sendiri, mengamati bagaimana keinginan bekerja, dan pada akhirnya mencapai kebahagiaan sejati.
Para ahli kemudian menjulukinya sebagai “Plato dari Indonesia” karena kedalaman pemikirannya. Inti Ajarannya: Bahagia Itu Sederhana, Tapi Tidak Gampang
Ki Ageng mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak bergantung pada hal-hal di luar diri kita. Bukan pada harta, bukan pada jabatan, bukan pada pujian orang lain. Bukan pula pada status sosial atau berapa banyak like yang kita dapatkan di media sosial.
Kebahagiaan sejati murni muncul dari kesadaran dan pemahaman terhadap diri sendiri. Ini mungkin terdengar klise. Tapi mari kita renungkan: berapa kali kita berpikir, “Aku akan bahagia kalau punya mobil baru.” Lalu setelah punya mobil baru, ternyata kita cuma bahagia sebentar. Setelah itu muncul lagi keinginan: “Aku akan lebih bahagia kalau punya rumah.” Setelah rumah tercapai, muncul lagi: “Kalau naik jabatan.” Dan seterusnya. Ki Ageng menyebut fenomena ini dengan istilah yang indah: mulur-mungkret.
Filosofi Mulur-Mungkret dan Rumus 6S
Mulur-Mungkret: Ketika Keinginan Tak Pernah Puas. Dalam bahasa Jawa, mulur berarti memanjang atau meluas, sementara mungkret berarti menyusut atau mengerut. Ki Ageng mengamati bahwa sifat dasar keinginan manusia adalah mulur begitu satu keinginan terpenuhi, ia akan melebar menjadi keinginan lain yang lebih besar.
Bayangkan Anda sedang gaji Rp5 juta. Anda ingin gaji Rp10 juta. Begitu gaji Rp10 juta tercapai, Anda menginginkan Rp20 juta. Begitu seterusnya. Tidak ada batasnya. Inilah yang oleh psikolog modern disebut sebagai hedonic treadmill atau adaptation level theory kita cepat terbiasa dengan pencapaian baru dan kemudian membutuhkan lebih banyak lagi untuk merasa bahagia.
Ki Ageng mengatakan bahwa kebahagiaan yang didasarkan pada pemenuhan keinginan yang terus mulur adalah kebahagiaan semu-semu berarti tidak sejati, hanya bayangan. Untuk mencapai kebahagiaan sejati, kita harus bisa mungkret-menyusutkan keinginan, tidak memaksakan kehendak, dan belajar hidup proporsional.
Bukan berarti kita tidak boleh bermimpi atau berusaha. Bukan berarti kita harus pasrah dan tidak produktif. Mungkret di sini lebih pada sikap batin: tidak terobsesi, tidak gelisah jika keinginan tidak tercapai, dan tidak kehilangan kedamaian ketika hal-hal di luar tidak berjalan sesuai rencana.
Rumus 6S: Panduan Hidup Proporsional
Agar lebih mudah diingat, Ki Ageng merumuskan konsep kebahagiaan dalam Rumus 6S, yaitu hidup dengan prinsip:
Sakbutuhe (seperlunya saja) ambil sesuatu sesuai kebutuhan, bukan keinginan berlebihan.
Sakperlune (seperlunya) lakukan sesuatu karena memang diperlukan, bukan karena gengsi.
Sakcukupe (secukupnya) cukup itu sudah baik, tidak perlu kekurangan juga tidak perlu kelebihan.
Sakbenere (sebenar-benarnya) jalani hidup dengan jujur dan apa adanya.
Sakmesthine (sepantasnya) bertindak sesuai dengan porsi dan norma yang berlaku.
Sakpenake (senyamannya) lakukan yang membuat nyaman, tanpa melukai diri dan orang lain.
Rumus ini mengajarkan keseimbangan.
Dalam budaya Jawa, ini selaras dengan konsep sepélé tapi penting hal-hal kecil yang sering diabaikan justru kunci kebahagiaan.
Tiga Musuh Bahagia: Semat, Drajat, Keramat
Ki Ageng dengan tegas mengingatkan bahwa ada tiga hal yang sering menjadi penghalang kebahagiaan. Beliau menyebutnya tri gegodhongan atau tiga godaan besar:
Semat (harta kekayaan) uang itu penting, tapi jika dikejar dengan mati-matian, ia akan menjadi tuan yang kejam.
Drajat (kedudukan dan kemuliaan) jabatan dan status sosial bisa membuat kita lupa diri dan kehilangan koneksi dengan sesama.
Keramat (kekuasaan dan pengaruh) keinginan untuk dipandang istimewa, dihormati secara berlebihan, atau memiliki kuasa atas orang lain.
Jika kita menyadari, ketiga “musuh” ini justru menjadi ukuran “kesuksesan” di zaman sekarang. Media sosial merayakan mereka yang punya semat (mobil mewah, tas mahal), drajat (jabatan menteri, direktur), dan keramat (pengaruh, banyak pengikut). Tanpa sadar, kita telah terjebak dalam permainan yang dirancang untuk membuat kita terus merasa tidak cukup.
Ketika Masyarakat Jawa Mulai Meninggalkan Ajarannya
Dari Nrimo ke Nggoyo: Pergeseran Nilai Yang Sunyi Dahulu, di desa-desa Jawa, konsep nrimo ing pandum (menerima dengan ikhlas apa yang menjadi bagiannya) adalah nilai luhur yang diajarkan turun-temurun. Orang Jawa diajarkan untuk ora ngaya-aya (tidak berbuat berlebihan), ajining diri ana ing lathi (harga diri seseorang ada pada tutur katanya), dan rumangsa melu handarbeni (rasa memiliki terhadap lingkungan sosialnya).
Tapi sekarang, nilai-nilai itu perlahan memudar. Sebuah penelitian oleh Maisyatul Azizah (2024) dalam tesisnya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menunjukkan bahwa generasi muda Jawa di perkotaan cenderung meninggalkan konsep nrimo karena dianggap “menghambat kemajuan”. Mereka lebih memilih etos ngoyo (berusaha keras tanpa batas) yang dipromosikan oleh kapitalisme global.
Budayawan sekaligus pemerhati kebudayaan Jawa, S. Margana, dalam sebuah diskusi di Universitas Gadjah Mada (2024), mengatakan bahwa “kita sedang menyaksikan cultural shift yang cukup drastis. Bahasa Jawa halus krama inggil hampir tidak digunakan lagi oleh anak-anak di Yogyakarta dan Surakarta. Upacara slametan mulai ditinggalkan, terutama di kalangan kelas menengah urban yang menganggapnya kuno dan tidak efisien.”
Data dari RRI (2025) juga melaporkan bahwa minat generasi muda terhadap kebudayaan Jawa, termasuk mempelajari falsafah hidup seperti ajaran Ki Ageng, terus menurun. Hanya 30 persen remaja di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang masih bisa berbicara bahasa Jawa krama secara aktif.
Akibatnya: Krisis Bahagia di Tanah Sendiri
Apa dampak dari pergeseran ini? Ironisnya, di saat masyarakat Jawa mulai meninggalkan ajarannya sendiri, justru tingkat stres, kecemasan, dan depresi meningkat.
Data dari Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (2024) menunjukkan bahwa kasus gangguan kecemasan di kalangan dewasa muda meningkat hingga 40 persen dalam lima tahun terakhir. Di Jawa Timur, kasus bunuh diri yang terkait dengan tekanan ekonomi dan sosial juga menunjukkan tren naik.
Inilah yang saya sebut sebagai krisis makna. Kita berhasil mengejar semat, drajat, dan keramat, tapi kehilangan ayem (ketenteraman) dan tentrem (kedamaian). Kita menjadi wong Jawa sing lali Jawane orang Jawa yang lupa pada ke-Jawa-annya.
Seorang tokoh budaya, R. T. S. M.
Sudarsono, dalam sebuah seminar di Solo (2025), mengungkapkan keprihatinannya: “Ki Ageng Suryomentaram sudah memberikan peta jalan kebahagiaan yang sangat relevan. Tapi sayangnya, peta itu tidak lagi dibaca oleh generasi kita. Mereka lebih sibuk mengikuti peta dari luar yang ternyata ujungnya hanya membuat mereka tersesat.”
Menemukan Kembali Ajaran Ki Ageng di Zaman Now
Relevansi yang Tak Lekang Waktu
Di tengah kegelapan krisis makna ini, ada secercah harapan. Mulai bermunculan gerakan untuk kembali menggali dan melestarikan ajaran Ki Ageng Suryomentaram.
Di Universitas Gadjah Mada, misalnya, Fakultas Filsafat secara rutin mengadakan diskusi tentang Kawruh Jiwa dan kebahagiaan menurut perspektif Jawa. Bahkan ada penelitian tentang penerapan konsep Ki Ageng dalam fisioterapi dan kesehatan mental (Fakultas Teknik UGM, 2025).
Di Surakarta, beberapa komunitas kebatinan dan budaya mulai menggelar srawung (pertemuan) untuk mempelajari ajaran Ki Ageng. Mereka tidak hanya datang dari kalangan tua, tapi juga anak-anak muda yang sadar bahwa kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang atau diunduh dari internet.
Media sosial pun mulai dimanfaatkan. Akun-akun seperti @kawruhjiwa di Instagram (yang memiliki puluhan ribu pengikut) secara rutin membagikan petikan ajaran Ki Ageng dalam bahasa yang kekinian. Generasi Z yang selama ini akrab dengan mental health awareness mulai menemukan bahwa apa yang diajarkan Ki Ageng seabad lalu sangat sejalan dengan konsep mindfulness, self-compassion, dan gratitude yang populer saat ini.
Praktik Sederhana ala Ki Ageng untuk Sehari-hari
Lalu bagaimana cara praktis menerapkan ajaran Ki Ageng di zaman yang serba cepat ini? Berikut beberapa langkah sederhana:
Berhenti sejenak dan merem (pejamkan mata) Lakukan ini beberapa menit setiap hari. Amati apa yang Anda rasakan. Jangan menghakimi. Cukup amati. Ini adalah awal dari kawruh jiwa mengenal diri sendiri.
Kurangi multut (banyak bicara) dan mlebu (terlalu dalam terlibat) di media sosial Bandingkan hidup Anda dengan hidup Anda yang kemarin, bukan dengan hidup orang lain yang di-highlight.
Tanyakan pada diri: “Apa ini sakbutuhe atau sekadar kepenakke karep (ikut-ikutan keinginan)?” Sebelum membeli sesuatu atau mengejar suatu posisi, bedakan antara kebutuhan dan keinginan yang tak berujung.
Latih mungkret secara sadar Misalnya, ketika Anda merasa “harus” membeli kopi kekinian setiap hari, coba sesekali mungkret dengan minum air putih atau kopi tubruk di rumah. Rasakan apakah kebahagiaan Anda benar-benar berkurang?
Bangun kembali gotong royong di lingkup kecil Kebahagiaan kolektif lebih kuat daripada kesenangan individual. Ikut serta dalam kegiatan sosial, sekecil apa pun, bisa mengembalikan rasa handarbeni (memiliki) dan hangrungkebi (menjaga) yang selama ini hilang.
Bahagia Bukanlah Tujuan, Melainkan Cara Hidup
Mari kita kembali ke Rina. Setelah membaca dan merenungkan ajaran Ki Ageng Suryomentaram, ia mulai melakukan perubahan kecil. Ia mengurangi waktu menggulir media sosial. Ia mulai menulis jurnal setiap malam, bertanya pada dirinya: “Apa yang membuatku benar-benar tenang hari ini?”
Ia belajar untuk meniteni rasa mengamati emosinya tanpa terjebak di dalamnya. Perlahan, rasa kosong itu mulai terisi. Bukan dengan like atau pujian, tapi dengan penerimaan bahwa ia cukup.
Slamet juga akhirnya duduk bersama istrinya. Mereka menghitung ulang utang-utang.
Mereka memutuskan untuk menjual motor barunya dan membeli yang bekas namun layak pakai. Mereka belajar nrimo bahwa tetangganya mungkin punya rezeki lebih, tapi itu bukan berarti mereka gagal. “Kebahagiaan itu dudu ono nduwene, nanging ono sing dirasakne,” kata Slamet suatu malam kebahagiaan itu bukan pada apa yang dimiliki, tapi pada apa yang dirasakan.
Apa sebenarnya bahagia itu?
Ki Ageng Suryomentaram mengajarkan: Kebahagiaan tidak tergantung pada waktu, tempat, atau keadaan. Kebahagiaan murni muncul dari pemahaman terhadap diri sendiri.
Ia juga berpesan dalam salah satu ajarannya yang terkenal: Mboten wonten barang ingkang pantes dipun padosi kanti mati-matian tidak ada barang yang pantas dicari dengan mati-matian.
Karena apa pun yang dikejar dengan mati-matian pada akhirnya hanya akan membuat kita lelah dan kecewa.
Kebahagiaan bukanlah tujuan yang harus kita raih setelah sekian lama berjuang. Kebahagiaan adalah cara kita menjalani hidup saat ini juga, di sini, dengan apa yang ada.
Maka, mari berhenti sejenak. Tarik napas. Lepaskan semua kejar-kejaran yang tak berujung. Dan tanyakan pada diri sendiri: “Apa aku sudah cukup bahagia?”
Jika jawabannya belum, mungkin saatnya kita belajar kembali kawruh jiwa. Selamat menemukan kebahagiaanmu yang sesungguhnya.
Batu, 20 Januari 2026



























Diskusi