Barisan Orang-orang yang Tertipu

IMG_0688
Ilustrasi: Barisan Orang-orang yang Tertipu

Oleh Fery Ferdian

ADVERTISEMENT

Pagi itu, kota masih berselimut kabut tipis. Di sudut jalan yang sibuk, Ahmad berdiri diam, menatap kerumunan manusia yang terburu-buru. Wajah-wajah mereka tegang, mata mereka tertuju pada layar ponsel, dan langkah kaki mereka ritmis, seolah dikejar oleh sesuatu yang tak kasat mata.

Ahmad tersenyum getir, menyadari bahwa ia pernah menjadi bagian dari barisan panjang itu—barisan orang-orang yang tertipu oleh fatamorgana dunia.

Dunia, pikir Ahmad, adalah panggung sandiwara yang menawan. Ia menawarkan perhiasan yang menyilaukan mata: jabatan tinggi, tumpukan uang, pengakuan manusia, dan kenyamanan tanpa batas. Banyak yang mengira bahwa memiliki segalanya adalah puncak kebahagiaan.

Namun, Ahmad teringat pada dirinya tiga tahun lalu. Ia adalah seorang manajer sukses, mengendarai mobil mewah, dan disegani. Tapi hatinya kering. Ia menipu dirinya sendiri dengan percaya bahwa kebahagiaan sejati bisa dibeli.

Di barisan itu, ia melihat seorang pria muda yang menatap layar saham dengan gemetar. Pria itu mempertaruhkan seluruh tabungannya, terpedaya oleh janji keuntungan instan yang ternyata hanyalah investasi bodong, salah satu modus penipuan yang kerap merampas harta rakyat. Ada pula seorang wanita paruh baya yang sibuk memamerkan tas bermerek di media sosial, mencari validasi dari orang asing, sementara rumah tangganya sendiri terasa dingin dan hampa. “Mereka tertipu,” bisik Ahmad pada diri sendiri. “Mereka mengejar bayangan, mengabaikan esensi.”

Dunia ini menipu dengan menampilkan yang fana sebagai sesuatu yang abadi. Penipu sesungguhnya bukanlah orang yang mencuri uang di dompet, melainkan waktu dan perhatian yang habis untuk hal-hal yang tidak dibawa mati. Mereka terjerat oleh ambisi yang tak pernah puas, menukarkan kedamaian hati dengan angka-angka di rekening bank.

Ahmad melangkah meninggalkan kerumunan, berjalan menuju taman kota. Ia memutuskan untuk keluar dari barisan itu. Ia belajar bahwa kebahagiaan bukan tentang seberapa banyak yang ia miliki, melainkan seberapa sedikit ia membutuhkan.

Sementara di belakangnya, barisan manusia masih terus berjalan, bergegas mengejar kemilau dunia yang perlahan-lahan merenggut ketulusan mereka, tanpa sadar bahwa mereka hanyalah pion dalam permainan yang menipu.

  1. Sang Pengejar Sanjungan
    Di barisan depan, ada sosok yang zahirnya alim dan ahli ilmu. Ia rajin beribadah dan bersedekah, namun hatinya kering dari keikhlasan. Ia tertipu oleh tepuk tangan manusia. Ia membangun kesalehan bukan untuk Tuhan, melainkan untuk dipandang baik. Ibarat membangun istana pasir yang megah, namun ia lupa bahwa ombak waktu akan menghancurkan segalanya, menyisakan penyesalan karena tak ada sebutir pun amal yang diterima. Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an, QS. Al-Bayyinah Ayat 5:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…”

QS. Al-Bayyinah: 5

Ayat ini menegaskan ikhlas sebagai inti ajaran agama yang lurus.

  1. Sang Optimis yang Gegabah
    Di tengah barisan, berjalan seseorang dengan tatapan kosong. Ia adalah sosok yang memiliki hati terlalu baik, mungkin terlalu lurus, sehingga ia menganggap semua orang memiliki niat yang sama sucinya. Ia tertipu oleh kemasan luar—senyum manis, janji palsu, dan jabat tangan erat rekan bisnis yang ternyata serigala berbulu domba. Ia kehilangan miliaran rupiah dan kebahagiaan, bukan karena bodoh, tapi karena terlalu percaya pada topeng manusia.
  2. Merasa Aman dengan Amalnya
    Merasa diri sudah suci atau pasti masuk surga sehingga meremehkan dosa dan tidak lagi berupaya meningkatkan ketakwaan.
  3. Sang Pemburu Harta Haram
    Ada pula kelompok yang berjalan tergesa-gesa, terengah-engah membawa beban. Mereka tertipu oleh angan-angan kemewahan. Mereka merasa bisa beribadah sambil mempertahankan gaya hidup yang haram. Mereka tertipu oleh tipu daya setan, mengira bahwa derma yang berasal dari harta yang tidak halal dapat membersihkan diri, padahal kebaikan itu justru menjadi bumerang yang tidak diterima. Kita diperintahkan untuk memakan yang halal dan menjauhi yang haram sebagaimana dalam doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

اللَّهُمَّ اكْفِني بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan karunia-Mu dari bergantung pada selain-Mu.”

HR. Tirmidzi No. 3563; Ahmad; Al-Hakim
  1. Ibadah Fisik Tanpa Makna
    Rajin beribadah secara zahir (fisik), namun tidak diiringi dengan perbaikan hati dan akhlak, bahkan sering menyakiti sesama (misalnya menyakiti tetangga). Nabi Muhammad SAW bersabda: “Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman.” Kemudian sahabat bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman karena keburukan-keburukannya.” (HR. Bukhari No. 6016).
  2. Sang Pencari Akhirat di Jalan yang Salah
    Terakhir, mereka yang merasa sudah berbuat benar, mengikuti tren ibadah tanpa pernah bertafakur atau merenungi makna penghambaan. Mereka berjalan lurus mengikuti arus, tertipu oleh rutinitas, dan lupa membersihkan hati. Barisan itu terus berjalan menuju titik temu, di mana semua topeng akan dilepas. Tertipu bukan sekadar kehilangan materi, melainkan kehilangan kesempatan untuk menjadi diri yang tulus.

Pesan Moral Narasi :

Narasi ini menyoroti bagaimana keserakahan, ambisi duniawi, dan keinginan untuk terlihat mewah sering kali membuat manusia tertipu oleh ilusi kebahagiaan materi. Kejujuran, ketulusan, dan rasa syukur seringkali terabaikan, menyebabkan penyesalan di kemudian hari.

Orang yang tertipu adalah orang yang menukar akhirat yang abadi dengan dunia yang fana, dan beramal tidak berdasarkan keikhlasan. Kunci agar tidak termasuk dalam barisan ini adalah ilmu yang benar, ikhlas, dan menjaga kehalalan hidup.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.