Oleh Rosadi Jamani
Ada dua tulisan saya terkait UEA yang mulai suram. Namun, selalu ada counter narasi begini, “Ah, di sini normal aja kok. Kamu emang ada di Dubai?” Seolah-olah imbas perang Iran vs Israel-AS itu tidak ada. Semua hidup seperti biasa. Baik saya coba ulas lagi lebih dalam, tidak hanya di UEA, tapi juga tetangganya, Qatar. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Real Madrid tumbang 1–2 dari RCD Mallorca di La Liga. Bukan sekadar kalah, tapi runtuhnya aura tak terkalahkan. Itulah vibe yang sekarang menyelimuti Teluk. Dua raksasa pasir, UEA dan Qatar, yang dulu main di level dewa ekonomi. Kini seperti tim besar yang lupa cara menang setelah dihantam realitas bernama perang.
Dulu, UEA tampil seperti galacticos versi Timur Tengah. Burj Khalifa berdiri bak trofi abadi. Sementara Dubai jadi panggung pertunjukan kapitalisme tanpa rem. Tapi sejak badai rudal Iran akhir Februari 2026, permainan mereka berubah total. Bukan lagi tiki-taka ekonomi, tapi bertahan mati-matian di kotak penalti sendiri.
Pasar saham? Hancur seperti lini belakang yang kebobolan di menit akhir. Lebih dari 120 miliar dolar lenyap dalam hitungan minggu. Indeks Dubai jatuh sekitar 16 persen, Abu Dhabi 9 persen, angka yang bukan sekadar statistik, tapi jeritan panik yang menggema di setiap lantai bursa. Sektor non-minyak yang dulu jadi andalan, seperti pariwisata, properti, penerbangan, sekarang seperti striker mandul yang tak bisa cetak gol.
Bandara internasional yang dulu riuh kini senyap seperti stadion kosong. Maskapai kebanggaan seperti Emirates dan Etihad Airways terpaksa “memarkir” armadanya. Bukan karena strategi, tapi karena tak ada lagi permainan. Hotel-hotel mewah kosong melompong, pantai kehilangan denyut hidupnya. Bahkan ikon seperti Burj Al Arab dan Jebel Ali Port kini terasa seperti stadion megah tanpa penonton, indah, tapi hampa.
Lalu datang momen paling menyakitkan, eksodus massal. Puluhan ribu ekspatriat seperti banker, entrepreneur, turis Barat, pergi seperti fans yang meninggalkan stadion sebelum laga usai. Mereka angkat koper, naik jet pribadi, atau kabur lewat darat ke Oman dan Saudi. Mall-mall mewah berubah jadi lorong sunyi. Sekolah internasional kehilangan murid dan guru. “Safe haven” yang dibangun puluhan tahun runtuh hanya dalam hitungan minggu. Pemerintah coba menyuntik stimulus. Tapi, rasanya seperti menambal kebobolan dengan plester kecil. Dari “visi 2030” berubah jadi “visi bertahan hidup”.
Kalau UEA seperti tim besar yang kalah dramatis, maka Qatar adalah kapten yang langsung kehilangan jantung permainan. Di Ras Laffan Industrial City, mesin uang terbesar mereka, rudal Iran menghantam tanpa ampun. Hasilnya brutal. Kapasitas ekspor LNG hilang 17 persen, dengan kerugian tahunan mencapai 20 miliar dolar. Perbaikan? Butuh 3 sampai 5 tahun. Itu bukan cedera ringan, itu ACL putus versi ekonomi.
QatarEnergy sampai harus menyatakan force majeure. Mereka menghentikan pengiriman ke Eropa dan Asia. Negara yang menyumbang hampir 20 persen LNG global kini seperti striker utama yang tiba-tiba out semusim. GDP diprediksi menyusut hingga 9 persen sepanjang 2026. Di tengah semua itu, Strait of Hormuz berubah dari jalur emas menjadi lorong maut.
Efeknya menjalar ke mana-mana. Harga energi global melonjak liar. Biaya impor makanan naik 40–120 persen. Bahkan Qatar Airways yang dulu seperti tim elite tak tersentuh, kini harus menghadapi langit yang kosong dan rute yang terganggu. Premi asuransi melambung, biaya hidup naik, dan daya tarik internasional perlahan memudar seperti klub besar yang kehilangan sponsor.
Akhirnya, dua raksasa ini yang dulu saling pamer gedung dan gas, berdiri di lapangan yang sama. Tertunduk, terpukul, dan kehilangan arah. Seperti Madrid yang kalah dari Mallorca, ini bukan sekadar skor. Ini tentang runtuhnya ilusi superioritas.
Dari oasis impian menjadi panggung tragedi. Dari surga ekspatriat menjadi pelajaran mahal. Di April 2026, Teluk bukan lagi cerita kemenangan, tapi highlight kekalahan yang diputar ulang berkali-kali.
Kita cuma bisa menatap, seperti fans di tribun, sambil bergumam pelan, yang paling kaya pun… bisa kalah. Apalagi yang kuat makan.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
















