Oleh Risna Helty
Mahasiswi Prodi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala(USK) Banda Aceh
Pernah tidak kita sadari, ketika mulai merasa cemas atau tertekan. Hal pertama yang terlintas di pikiran, justru sesuatu yang serba instan. Cukup satu klik, makanan langsung datang. Lalu, apa yang paling sering dipilih? Yap, makanan cepat saji. Tanpa disadari, hal ini telah menjadi salah satu bentuk pelarian bagi remaja di era digital.
Masa Remaja merupakan fase peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa yang ditandai dengan berbagai perubahan. Seperti hormon, fisik, psikologis dan sosial. Pada tahap ini, individu sedang aktif mencari jati diri sekaligus menghadapi berbagai tuntutan, seperti tekanan akademik, hubungan pertemanan, hingga perubahan emosi yang tidak stabil.
Kondisi tersebut tidak jarang memunculkan kecemasan, yang kemudian berdampak pada berbagai aspek kehidupan, termasuk pola makan sehari-hari.
Namun, akhir-akhir ini masalah kesehatan mental di kalangan remaja juga menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Sebuah survei yang dilakukan oleh Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada tahun 2022 menunjukkan bahwa sekitar 15,5 juta atau 34,9% remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Sejalan dengan itu, data dari WHO juga mengungkapkan bahwa 1 dari 7 anak berusia 10–19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi emosional remaja merupakan isu yang serius dan perlu mendapat perhatian, karena dapat memengaruhi berbagai perilaku sehari-hari, termasuk kebiasaan makan.
Kecemasan pada remaja tidak selalu tampak secara jelas. Ia tidak hanya hadir dalam bentuk rasa gelisah atau khawatir berlebihan, tetapi juga tercermin dalam perilaku, salah satunya kebiasaan mengonsumsi junk food.
Dalam situasi tertekan, remaja cenderung mencari kenyamanan instan (comfort), dan makanan cepat saji menjadi pilihan yang mudah diakses, praktis, serta memberikan kepuasan sesaat. Bahkan, pada tahun 2021 Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa sekitar 47,7% remaja di Indonesia mengalami gangguan kecemasan, yang menunjukkan bahwa kondisi ini bukanlah masalah kecil dan berpotensi memengaruhi berbagai aspek perilaku remaja, termasuk pola konsumsi makanan.
Di sisi lain, junk food umumnya mengandung gula, lemak, dan garam dalam jumlah tinggi, namun rendah nilai gizi. Jika dikonsumsi secara berlebihan, makanan ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis.
Menariknya, pola konsumsi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh lingkungan atau kemudahan akses, tetapi juga berkaitan erat dengan kondisi emosional dan kemampuan individu dalam mengontrol diri (self-control).
Self-control merupakan kemampuan individu dalam mengendalikan dorongan, keinginan, serta perilaku agar tetap sejalan dengan tujuan jangka panjang. Pada remaja, kemampuan ini masih berkembang, sehingga mereka cenderung lebih impulsif dan mudah tergoda oleh hal-hal yang memberikan kepuasan instan.
Ketika kecemasan meningkat dan self-control rendah, remaja lebih rentan mengalami emotional eating, yaitu kebiasaan makan yang didorong oleh kondisi emosi, bukan karena kebutuhan fisik. Akibatnya, konsumsi junk food menjadi lebih sering dan sulit dikendalikan.
Sebaliknya, remaja dengan self-control yang baik cenderung mampu menahan dorongan tersebut, meskipun berada dalam kondisi emosional yang tidak stabil.
Lebih jauh, dampak konsumsi makanan tidak sehat juga berkaitan dengan fungsi otak dan kesehatan mental. Konsumsi makanan cepat saji dapat memengaruhi kerja otak dengan menurunkan proses neurogenesis, yaitu kemampuan tubuh dalam memproduksi sel-sel saraf baru untuk menggantikan sel yang rusak.
Penurunan fungsi ini dapat berdampak pada kemampuan kognitif dan regulasi emosi individu. Selain itu, individu yang terbiasa mengonsumsi makanan dengan kualitas gizi rendah juga lebih rentan mengalami gangguan mental, seperti depresi. Hal ini menunjukkan bahwa kebiasaan makan tidak sehat bukan hanya berdampak secara fisik, tetapi juga memiliki konsekuensi psikologis yang serius.
Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan ini, di antaranya:
1. Melatih self-control sejak dini.
Remaja perlu dibiasakan untuk mengendalikan keinginan sesaat, misalnya dengan tidak langsung membeli makanan yang diinginkan serta mulai mempertimbangkan dampaknya bagi kesehatan. Kebiasaan menunda keinginan delay of gratification dapat membantu memperkuat kontrol diri. Selain itu, penguatan self-control juga perlu didukung dengan pemahaman pola makan yang tepat. Salah satunya melalui program “Isi Piringku” yang diperkenalkan pemerintah sebagai pengganti konsep “empat sehat lima sempurna”.
Program ini menekankan gizi seimbang, yaitu 1/3 piring makanan pokok, 1/3 sayuran, serta masing-masing 1/6 lauk pauk dan buah. Pola ini penting untuk memenuhi kebutuhan gizi remaja sekaligus membantu mereka lebih bijak dalam memilih makanan.
2. Mengelola kecemasan
Setiap remaja pada dasarnya memiliki cara masing-masing dalam menghadapi tekanan atau perasaan tidak nyaman, yang sering disebut sebagai mekanisme koping (coping mechanism). Cara ini membantu mereka menenangkan diri dan menjaga keseimbangan emosi saat menghadapi situasi yang menekan.
Namun, tidak semua bentuk koping memberikan dampak yang baik. Sebagian remaja justru memilih cara yang kurang sehat, seperti melampiaskan emosi dengan makan berlebihan, atau melakukan hal-hal impulsif lainnya.
Oleh karena itu, diperlukan cara-cara yang lebih sehat, seperti mengenali sumber masalah, berolahraga, menyalurkan emosi melalui hobi, serta melakukan self-care seperti istirahat yang cukup dan relaksasi.
3. Membangun hubungan yang sehat
Kesehatan mental yang baik membantu remaja menjalin hubungan yang positif dengan keluarga, teman, dan lingkungan sekitarnya. Dukungan sosial ini penting karena dapat menjadi tempat berbagi dan mengurangi beban emosional, sehingga remaja tidak mencari pelarian melalui kebiasaan makan yang tidak sehat.
Dari beberapa upaya di atas dapat kita simpulkan bahwa self-control tetap menjadi kunci utama yang menentukan apakah seorang remaja akan mengikuti dorongan tersebut atau mampu mengendalikannya. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran remaja mengenai hubungan antara kondisi emosional dan pola makan.
Dengan pemahaman ini, remaja diharapkan mampu lebih bijak dalam merespons tekanan yang dialami tanpa harus menjadikan junk food sebagai pelarian.
Daftar Pustaka
- Francis, H., & Stevenson, R. (2013). The longer-term impacts of Western diet on human cognition and the brain. Appetite, 63, 119-128.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024, November 28). Pentingnya kesehatan mental bagi remaja dan cara menghadapinya.
- Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta. (2023). Gizi seimbang pada remaja. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
- Transkanen, A., Hibbeln, J. R., Tuomilehto, J., Uutela, A., Haukkala, A., Viinamaki, H., Lehtonen, J., & Vartiainen, E. (2001). Fish consumption and depressive symptoms in the general population.


























Diskusi