Tianjin: 72 Jam Sunyi
Shiringul,
Tangan-tangan utara menjemputku dalam sunyi purba. Mereka membasuh tubuh, memangkas rambut, menyisakan sisa masa lalu remah. Tianjin kini ranjang besi berderit; ruang dengan lampu benderang membakar kelopak mata, meski maut terus memanggil kantukku.
Di sini, luka dirajut benang kaku. Namaku dieja mesin-mesin tuli, napas dipaksa tunduk pada detak aba-aba. Aku di barisan pagi; punggung lurus, rahang terkunci, menjaga jerit agar tiada tumpah sebagai daerah.
Kau ingat nama itu, Shiringul? Huruf-huruf bisikan kita dicabut paksa, diganti deretan abjad asing—tajam, beku, pembunuh rasa. Lidahku kini sekadar katup pembunyi perintah tanpa makna.
Orang-orang tua bicara setengah suara, seolah napas adalah pengkhianatan. Lidah mereka cemas, bunyi kandas di tenggorokan, terkubur sebelum udara menyentuhnya. Aku menulis di sela waktu, sebelum namaku baru tuntas menghapus keberadaanku.
Aku bertaruh pada jarum yang menyatukan daging. Percaya pada tangan yang menahan darah agar tak tumpah sia-sia.
Dari Kazakhstan kubawa debu kerja di sela kuku, berharap tanah mengenali berat langkahku. Namun, Oktober datang sebagai ruang interogasi: meja logam, kursi plastik, dingin yang mematuk sumsum tulang.
Namaku dipanggil, lalu dipatahkan—suku kata asing yang retak di udara. Mereka menghitung mata. Mereka mengukur napas; menghitung sisa hidup dalam angka-angka pendek. Di sisi dalam, ada pintu tanpa gagang.
Saat melangkah melalui pintu itu, suaramu tertinggal di luar, memuai bersama udara. Sesuatu yang tak bisa lagi kuhirup, tak bisa lagi kuulang. Kini, aku hanya sekumpulan angka yang menunggu giliran untuk dihapus.
Kursi besi menyambut punggung dengan dingin yang menghujam sumsum. Permukaannya kaku, memaku raga pada titik mati. Di langit-langit, pijar neon menggantung; putihnya menetes, mengapur udara, melenyapkan tepi ruangan. Malam tumpas di luar. Di sini, terang tegak tanpa kedip, menguliti setiap sudut gelap.
Aku duduk dan waktu kehilangan bentuk. Jarum jam berputar, namun detik-detik berhenti melangkah. Mereka menjelma beban, menumpuk di leher, mengendap di tulang belakang. Tujuh puluh dua jam membatu dalam jepitan besi.
Dengung listrik merayap ke pelipis. Tipis, namun terus hidup; memutar lingkaran duri di dalam kepala. Udara mengering di tenggorokan, gersang. Bau logam kursi bersetubuh dengan hangat napas sendiri.
Pengeras suara menyalak. Sebuah nama otoritas jatuh beruntun ke telinga—datar, keras, serupa godam. Bunyi itu memantul di dinding tengkorak, menyesakkan rongga yang kian sempit.
Pada jam-jam terakhir, wajah waktu berubah rupa. Ia tak lagi berjalan; ia mengendap di tengkuk, menekan rahang hingga terkunci. Pijar di atas kepala tetap menyala, kejam. Aku hanya mengenal satu bahasa: diam yang berat dan berkarat.
Perintah jatuh dari langit-langit tanpa wajah. Telapak tangan terbentang di meja logam; dinginnya merayap serupa akar tanah yang mencari retak tulang. Kening ditekan hingga napas membentur dinding dada.
Di ruangan ini, kata-kata adalah paku yang tegak. Tubuhku papan, tempat mereka ditancapkan satu demi satu hingga kebas.
Ayat-ayat yang lama menetap di lidah dipaksa tanggal; dipisahkan dari mulut serupa ternak yang digiring ke jagal. Huruf-huruf diseret menjauh dari rumahnya.
Kertas menjadi lahan yang dipaksa menelan benih racun. Sebuah lagu berputar di udara; suaraku disekrup ke dalam nadanya, serupa serpihan kayu yang tersedot pusaran arus tanpa arah.
Ketukan meja memancung setiap kantuk yang jatuh; pendek dan tajam. Tubuh ditegakkan kembali, serupa sisa pagar yang dipaksa berdiri di tengah badai.






















Komentar