Oleh: Ilham Mirsal, MA
Dosen STAI Tapaktuan dan Peneliti Sejarah Lokal
Pasie Raja bukan hanya nama kecamatan di Kabupaten Aceh Selatan. Ia adalah lembaran terbuka dari narasi panjang Aceh yang terlupakan. Di pesisir barat ini, jejak darah, dakwah, dan keberanian perempuan berpadu dalam satu rentang sejarah yang menggetarkan.
Jejak Kerajaan Inong: Cutma Fatimah Sang Penguasa Laut
Dalam tradisi lisan yang masih hidup di kalangan masyarakat tua, Pasie Raja diyakini pernah dipimpin oleh seorang perempuan ulama sekaligus panglima, Raja Inong Cutma Fatimah. Nama ini tidak banyak tercatat dalam arsip kolonial, namun disebut dalam hikayat rakyat sebagai pemimpin yang adil, tangguh, dan penuh karamah.
Raja Inong Cutma Fatimah memerintah sebuah kerajaan kecil di pesisir, di mana perempuan memiliki ruang kepemimpinan yang dihormati. Di bawah kepemimpinannya, hukum Islam ditegakkan, hubungan dagang dengan dunia luar dibangun, dan keamanan laut dijaga dari gangguan bajak laut dan kolonial, perdangan lada terbesar berpusat disini.
Apakah ini dongeng semata? Atau bagian dari sejarah yang sengaja disisihkan karena patriarki dan kolonialisme?
Mungkin keduanya. Tapi yang pasti, Pasie Raja menyimpan memori kekuasaan perempuan yang belum tuntas digali. Ini tantangan bagi generasi muda: menggali dan mengangkat kembali kisah lokal sebagai bagian dari sejarah besar Aceh.
Jejak Darah: Tumbangnya Kapten Molenaar di Terbangan
Bicara Pasie Raja juga berarti menyingkap perlawanan berdarah terhadap Belanda. Di Terbangan, tanah basah dekat perbukitan dan rawa, tercatat terbunuhnya seorang perwira tinggi Belanda, Kapten Molenaar, dalam sebuah serangan mendadak yang dilancarkan oleh pejuang lokal.
Ini bukan sekadar insiden militer. Ini adalah simbol bahwa rakyat di wilayah ini tidak pernah tunduk. Tercatat dalam laporan Kolonial, Pasie Raja merupakan “wilayah keras” di mana penyebaran agama, pendidikan, dan perjuangan seringkali bertumpu pada satu sosok: teungku dayah dan ulama rakyat.
Sayangnya, peristiwa ini luput dari buku sejarah sekolah. Tidak ada patung pahlawan, tidak ada tugu resmi. Namun, darah yang mengering di tanah Terbangan tetap menjadi saksi bahwa kemerdekaan itu dibayar mahal.
Jejak Dakwah: Said Shaleh dan Islamisasi Rasian
Satu nama lain yang tak boleh dilupakan adalah Said Shaleh, seorang muballigh yang datang ke Rasian, salah satu kemukiman penting di Pasie Raja. Dalam ingatan masyarakat, Said Shaleh bukan hanya membawa Islam secara formal, tapi juga membentuk karakter masyarakat dengan nilai-nilai tasawuf, pendidikan, dan keteladanan.
Melalui pendekatan personal dan jaringan keilmuan dayah, Said Shaleh memperkenalkan Islam sebagai cahaya yang membebaskan: dari syirik, dari ketakutan terhadap penjajah, dan dari kebodohan yang membelenggu.
Jejak dakwah beliau hari ini masih bisa dirasakan: dalam syair-syair zikir, dalam bacaan dalail, dan dalam penghormatan masyarakat terhadap ilmu agama. Dan sebuah makam mulia yang terdapat di Pasie Rasian, menjadi saksi abadi atas dedikasinya terhadap perjuangan dan dakwah.
Penutup: Menggali Ulang Kuta Sejarah
Pasie Raja bukan hanya kecamatan administratif. Ia adalah kuta sejarah—benteng peradaban yang dibangun dari darah syuhada, air mata perempuan pemberani, dan doa para ulama.
Kini, saat generasi muda sibuk mengejar digitalisasi, jangan sampai kita kehilangan jejak siapa diri kita. Mari kembali membaca hikayat, mendengar cerita orang tua, meneliti sumber-sumber tua, dan merangkai kembali kepingan sejarah kita sendiri.
Karena sejarah yang tidak ditulis, akan ditulis orang lain. Dan bisa jadi, ditulis bukan untuk kita.
Catatan Redaksi
Tulisan ini merupakan bagian dari inisiatif pelestarian sejarah lokal di Aceh Selatan. Kami membuka ruang bagi Anda yang memiliki sumber lisan, foto lama, manuskrip, atau informasi tambahan terkait sejarah Pasie Raja.
Silakan hubungi penulis melalui STAI Tapaktuan.
💬 Diskusi Pembaca LIVE
Jadilah yang pertama berbagi opini dengan santun











