Oleh Tabrani Yunis
Persoalan kualitas pendidikan di Aceh, khususnya pada jenjang SMA selama ini sering menjadi hot isu dan menjadi bahan pembicaraan banyak orang di berbagai forum dan tempat. Kenyataan memang menunjukkan bahwa kualitas pendidikan jenjang SMA terus menghadapi krisis serius. Hal ini dibuktikan dengan data mutakhir dai hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025.
Hasil tes itu menempatkan Aceh di peringkat ke-26 dari 38 provinsi dengan skor rata-rata hanya 35,93. Bayangkan saja seperti apa hasil tes kemampuan Bahasa Inggris, 22,74 (sangat rendah) ditambah lagi dengan kemampuan Matematika: 34,39 dan bahkan Bahasa Indonesia: 50,67 (relatif lebih baik). Sangat ironis bukan?
Ya, tentu saja ini sebuah ironi yang seakan terus dipelihara, tanpa ada upaya serius untuk mengatasinya karena bisa jadi pihak Dinas Pendidikan Aceh tidak tahu apa akar masalah yang menyebabkan rendahnya kualitas lulusan SMA di Aceh hingga saat ini.
Semakin ironis lagi ketika kita mengetahui ada indikator lain dari Data BPS menunjukkan tingkat partisipasi sekolah menengah masih rendah dibanding provinsi maju, dengan ketimpangan akses antar daerah. Ini soal akses. Namun, hal yang selalu menghantui adalah soal kualitas yang selalu bermasalah. Seakan ini adalah dosa warisan para kepala Dinas Pendidikan Provinsi Aceh dari Kadis sebelumnya hingga kini.
Celakanya, berbagai analisis mungkin telah dilakukan, namun tampaknya Dinas Pendidikan Provinsi Aceh tidak menemukan apa akar masalah. Padahal, bila kita mampu mengidentifikasi dan menganalisis semua persoalan yang ada selama ini, Dinas Pendidikan Provinsi Aceh harus mengakui bahwa akar masalah yang paling sering diabaikan adalah semakin rendahnya belajar para siswa yang ditandai dengan rendahnya minat membaca, yang bermuara kepada rendahnya daya baca siswa.
Nah, ketika siswa memiliki minat membaca yang rendah, akan berdampak langsung pada kemampuan literasi, numerasi dan sains. Pertanyaannya adalah bagaimana kemampuan literasi siswa meningkat apabila para siswa setiap hari datang belajar ke sekolah, tetapi mereka tidak mau dan tidak banyak membaca? Apa artinya datang ke sekolah, yang katanya belajar, tetapi jarang dan bahkan semakin tidak mau membaca? Ya, bagaimana kemampuan literasi, numerasi dan sains bisa meningkat?
Oleh sebab itu, agar kemampuan literasi, numerasi dan sains bisa meningkatkan, Dinas Pendidikan Provinsi Aceh harus serius membangun gerakan literasi , numerasi dan sains di semua SMA dan SMK yang berada di bawah payung Dinas Pendidikan Aceh. Walau selama ini pernah ada Gerakan literasi sekolah (GLS), namun salah kaprah, karena setiap sekolah masing-masing sibuk menghiasi pojok baca, tapi tidak sibuk dengan kegiatan membaca. Namun, hal itu kita apresiasi, karena juga namanya usaha. Paling tidak, ada catatan kecil pernah berbuat, walau tidak membuahkan hasil.
Kegagalan itu harusnya menjadi pelecut dengan melakukan evaluasi oleh Dinas Pendidikan Provinsi Aceh. Evaluasi untuk mencari apa penyebab kegiatan itu tidak berjalan ideal.
Agaknya, kini bila kita benar ingin mengubah wajah pendidikan, terutama pada jenjang SMA yang selama ini menjadi news maker, Dinas Pendidikan Aceh harus serius membangun kemampuan literasi siswa dan bahkan termasuk guru-guru.
Ada banyak cara untuk membangun kemampuan literasi siswa. Satu kunci utama adalah merevitalisasi minat membaca. Artinya, Dinas Pendidikan Provinsi Aceh harus membangun kembali minat membaca para siswa yang telah layu sebelum berkembang. Untuk membangun minat baca, dapat dilakukan dengan cara membenah cara mengajar guru. Artinya teaching methodology guru harus berbasis kegiatan membaca.
Oleh sebab itu guru harus dilatih dengan model pembelajaran berbasis membaca. Ini penting untuk membiasakan siswa membaca dalam setiap kali tatap muka di ruang kelas atau di luar kelas. Setiap guru, apa pun mata ajaran yang ia ampu, harus berbasis aktivitas membaca.
Tentu ada banyak aktivitas lain yang harus dilakukan sekolah dalam upaya menyalakan kembali minat membaca di sekolah. Bukan kah sudah banyak masukan atau input yang diberikan para ahli dan pegiat literasi selama ini?
Sinergi Antar Lembaga
Selain cara-cara yang disebutkan di atas, sebenarnya Dinas Pendidikan Aceh, bila tidak mampu bekerja sendiri membangun gerakan literasi, maka Dinas Pendidikan Provinsi Aceh bisa mengajak Badan Arsip dan Perpustakaan bersinergi membangun gerakan literasi di Aceh. Bisa jadi, Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh selama
Ini juga tidak punya konsep yang jelas untuk membangun gerakan literasi di Aceh. Padahal Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh memiliki banyak sumber bacaan dan fasilitas yang konon sangat nyaman itu.
Idealnya kedua badan atau Dinas ini bisa membangun kerjasama sinergis untuk mengurai dan mencari solusi terhadap rendahnya kemampuan literasi, numerasi dan sain di kalangan siswa SMA di Aceh.
Sinergi itu, misalnya membuat program bersama membangun kemampuan literasi siswa dan lulusan SMA. Program-program yang dapat menumbuhkan kembali minat membaca, meningkatkan daya baca, kemampuan mengidentifikasi masalah, kemampuan analisis serta kemampuan untuk mencari solusi atas masalah-masalah yang dihadapi sehari-hari.
Selain membangun kembali minat membaca, Dinas Pendidikan Aceh dan Badan Arsip dan Perpustakaan bisa membuat program bersama untuk memotivasi atau mendorong minat para siswa untuk menulis. Program ini bisa melibatkan sejumlah media yang mau menampung tulisan para siswa di Aceh.
Bukan hanya itu, kerjasama sinergis ini juga bisa membuat program-program yang kompetitif, seperti mengadakan lomba membaca yang diikuti dengan lomba resensi serta lomba menulis dalam berbagai jenis tulisan. Tentu masih banyak kegiatan yang bisa dilakukan dalam kerjasama sinergis ini. Yang penting para pemangku kebijakan di Dinas Pendidikan Provinsi Aceh dan Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh memiliki kemauan, sikap kreatif dan semangat untuk berbuat.
Kemudian yang juga tidak kalah penting adalah Dinas Pendidikan Provinsi Aceh harus mengakui literasi sebagai akar masalah mutu SMA. Kemudian, sinergi strategis:• Badan Arsip & Perpustakaan Aceh dapat dilibatkan untuk menghidupkan kembali budaya membaca. Apakah dengan menghidupkan lagi Klub baca di sekolah atau seperti disebutkan di atas , melakukan kegiatan kompetisi menulis dan resensi buku. Juga bisa dengan kegiatan literasi berbasis komunitas (misalnya “Gerakan 1 Buku 1 Siswa”) dan lain-lain
Untuk itu, saatnya kota menanti terjadinya kerjasama kedua instansi yang sama-sama hadir untuk mencerdaskan bangsa. Namun, kerjasama sinergis ini akan bisa terjadi atau terjalin apabila memiliki masalah bersama, impian bersama serta tidak dikungkung oleh ego sektoral.
Sebenarnya bukan hanya antar dua lembaga, tetapi bisa tiga lembaga, yakni dengan melibatkan badan pengembangan sumber daya manusia Aceh atau BPSDM Aceh yang bisa menyediakan beasiswa bagi para siswa yang memiliki kemampuan literasi, numerasi dan sains yang tinggi.
Semoga akan ada kerja sama sinergis dari kedua atau tiga instansi ini, terwujud agar pendidikan Aceh tidak lagi mengikuti pola keledai yang jatuh di lubang yang sama.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
















Discussion about this post