Oleh Sekar*
Matahari bersinar hangat di muka, angin berhembus membuai, dan tak satupun pelanggan datang. Kondisi sempurna untuk tidur siang (sore). Gadis penjaga toko menggeser bantal di kursinya dan menutup mata, menunggu mimpi-
”RINA!”
Rina membuka mata sambil menggerutu, ”Ya, Ma?”
”Kenapa rak-rak belum distok lagi?” Ibu Rina berkacak pinggang.
Rina menahan uap, membenarkan postur dan berusaha terlihat tidak mengantuk, ”Udah
hampir jam 5, Ma, bentar lagi juga toko tutup. Lebih enak nyetok pas ga ada pelanggan kan?”
”Aduh kamu ini malasnya minta ampun! Ga usah alasan, Mama tahu kamu cuma ngulur
waktu aja! Sana cepat isi stok! Semuanya!” Ibu Rina menariknya dari kursi dan bantal yang nyaman menuju gudang stok.
Rina dengan enggan mengeluarkan stok satu per satu, menghitung jumlah dan
menyocokkan inventaris. Sementara itu, Ibu Rina menyibukkan diri mengecek transaksi
yang Rina buat, memastikan tidak ada yang terlewat oleh anaknya yang pengantuk, ”Mika borong banyak ya. Mau bikin pesta?”
Rina menjaga kedua mata birunya pada inventaris. ”Iya, katanya kali ini panennya banyak, sampai mau undang seluruh desa biar termakan.”
Ibu Rina mengangguk dengan senang, ”Mika rajin banget. Padahal cuma sendiri ngurus
lahan seluas itu, tapi bisa panen sukses sekaligus aktif di desa.”
Rina mengangguk saja, menunggu komentar yang sudah pasti akan datang.
”Ga kayak kamu.” Ibu Rina geleng kepala, menghembuskan napas panjang.
Rina terus mengangguk, tidak mengatakan apapun. Tangannya meletakkan barang terakhir yang perlu distok dan membalik tanda ”BUKA” di depan toko menjadi ”TUTUP”.
”Coba kalau Mika anakku, Mama bisa tenang, ga usah teriak-teriak capek-capek mulu.” Ibu
Rina melanjutkan, menghembuskan napas panjang untuk kesekian kalinya.
Rina sudah tidak memperhatikan, badan setengah keluar dari pintu.
”RINA! Kalau orang ngomong dengar, jangan kabur! Ampun anak ini!”
Rina turut menghembuskan napas panjang, menarik badannya yang hampir berhasil ke
dalam toko lagi. Kapan dia bisa bebas dari teguran ini? Ibu lucu, bilang ingin berhenti teriak capek-capek, tapi langsung teriak lagi.
”Ibu bukannya mau marah-marah, tapi kamu itu-”
Pikiran Rina sudah mengambang lagi, suara Ibunya masuk telinga kiri keluar telinga kanan.
Kapan dia bisa bebas? Dari teguran, dari ekspektasi, dari desa sempit dengan
pemandangan sama dan orang sama tiap hari. Alangkah senangnya jika dia bisa pergi dari
sini, pergi ke kota yang penuh hal baru, pemandangan baru, dan orang baru yang tidak selalu menyebutnya pemalas tiap kali dia istirahat sedikit. Bebas…
*Penulis merupakan peserta tantangan menulis Sigupai Mambaco 2026 periode Maret
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini















