HABA Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    884 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    871 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    884 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    871 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Belajar dari Depok: Tentang Kepercayaan, Kekuasaan, dan Nilai Agama

Novita Sari Yahya by Novita Sari Yahya
Maret 25, 2026
in Artikel, Agama, Kepedulian, Kepemimpinan
Reading Time: 4 mins read
0
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Novita Sari Yahya

Saya membaca sebuah status Instagram yang ditulis oleh seorang anak muda Indonesia berusia sekitar 35–40 tahun. Dalam tulisannya, ia mengungkapkan keresahan terhadap kondisi Indonesia saat ini. Ia juga dikenal sebagai pendukung setia Wali Kota Depok. Sosok wali kota tersebut dipandang sebagai antitesis dari pola kepemimpinan yang selama ini berkembang di Indonesia.

Baca Juga

Perang Hacker dalam Perang Iran vs Israel-AS

Perang Hacker dalam Perang Iran vs Israel-AS

Maret 25, 2026
Simbol di Tubuh, Makna di Pikiran

Simbol di Tubuh, Makna di Pikiran

Maret 24, 2026
Digempur +62 Siang Malam, Akhirnya KPK Jemput Gus Yaqut dan Jebloskan ke Rutan Lagi

Digempur +62 Siang Malam, Akhirnya KPK Jemput Gus Yaqut dan Jebloskan ke Rutan Lagi

Maret 24, 2026

Jejak karier Supian Suri berangkat dari dunia birokrasi. Ia termasuk birokrat senior yang, dalam pandangan banyak orang, relatif bersih dari praktik-praktik yang terindikasi korupsi maupun manipulasi selama menjalankan tugasnya sebagai pegawai negeri sipil di Depok. Reputasi itu bukan sesuatu yang datang secara tiba-tiba, melainkan terbentuk dari perjalanan panjang dalam struktur pemerintahan.

Dukungan terhadap dirinya untuk maju sebagai Wali Kota Depok tidak muncul dari ruang hampa. Banyak kalangan, terutama birokrat senior dan para pensiunan PNS, melihatnya sebagai figur yang layak untuk memimpin. Mereka menilai pengalaman, rekam jejak, dan integritas yang dimilikinya menjadi modal penting dalam menjalankan roda pemerintahan daerah. Dukungan tersebut kemudian meluas ke masyarakat Depok secara umum.

Pada akhirnya, ia benar-benar maju dalam kontestasi politik dan berhasil terpilih sebagai Wali Kota Depok untuk periode 2025–2030 Kemenangannya menunjukkan bahwa figur dengan latar belakang birokrasi yang panjang dan relatif bersih masih memiliki tempat di hati masyarakat. Ini sekaligus menjadi penanda bahwa publik tidak selalu terpaku pada figur populer, tetapi juga mempertimbangkan rekam jejak dan pengalaman.

Fenomena ini juga memperlihatkan satu hal penting dalam politik lokal, yaitu pengaruh para aparatur sipil negara, khususnya yang sudah pensiun. Di banyak daerah, termasuk Depok, mantan pejabat struktural seperti camat atau kepala desa tetap memiliki pengaruh sosial yang kuat. Meskipun mereka tidak lagi menjabat, suara dan pandangan mereka masih didengar oleh masyarakat.

Tidak jarang, masyarakat lebih mempercayai tokoh-tokoh yang pernah memimpin secara langsung di tingkat lokal. Kedekatan emosional, pengalaman berinteraksi, serta rekam jejak pelayanan menjadi alasan utama. Dalam konteks ini, dukungan dari para pensiunan PNS bisa menjadi faktor yang cukup menentukan arah pilihan politik masyarakat.

Bukankah hal seperti ini juga terjadi di Depok? Pertanyaan tersebut menjadi refleksi bersama bahwa politik tidak hanya ditentukan oleh kampanye atau popularitas semata, tetapi juga oleh jaringan sosial dan kepercayaan yang telah dibangun dalam waktu yang lama.

Pada tulisan ini, saya ingin mengalihkan pembahasan pada tema yang lebih mendasar, yaitu tentang pendusta agama atau kelompok yang dalam istilah umum sering disebut sebagai munafik. Tema ini menjadi penting, terutama ketika kita melihat bagaimana politik di Indonesia kerap dipenuhi oleh simbol, citra, dan narasi keagamaan.

ADVERTISEMENT

Dalam praktiknya, nilai-nilai agama justru bisa terpinggirkan ketika dijadikan sebagai bagian dari pencitraan. Akibatnya, esensi beragama menjadi jauh dari tindakan nyata.

Dalam Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Ma’un, dijelaskan tentang ciri-ciri orang yang mendustakan agama. Ayat-ayat tersebut memberikan gambaran yang sangat jelas dan tegas. Pendusta agama adalah mereka yang menghardik anak yatim dan tidak mau memberikan hak mereka. Selain itu, mereka juga digambarkan sebagai orang yang enggan memberi makan kepada fakir miskin.

Para ahli tafsir menjelaskan bahwa kata “menghardik” tidak hanya berarti membentak secara verbal, tetapi juga mencakup tindakan sewenang-wenang, tidak memberikan hak, serta melakukan penindasan terhadap pihak yang lemah. Dengan demikian, sikap abai terhadap anak yatim dan kaum miskin merupakan bentuk nyata dari pendustaan terhadap nilai-nilai agama.

Secara keseluruhan, Surah Al-Ma’un menggambarkan beberapa ciri utama pendusta agama. Pertama, berperilaku buruk terhadap anak yatim. Kedua, tidak memiliki kepedulian terhadap orang miskin, bahkan enggan untuk sekadar menganjurkan orang lain berbuat baik. Ketiga, lalai dalam menjalankan salat, bukan dalam arti meninggalkannya semata, tetapi menjalankannya tanpa kesungguhan. Keempat, melakukan ibadah dengan tujuan pamer atau ria. Dan terakhir, enggan melakukan kebaikan-kebaikan kecil yang sebenarnya sangat berarti bagi orang lain.

Jika kita menarik nilai-nilai tersebut ke dalam konteks kehidupan saat ini, khususnya dalam dunia politik, maka relevansinya menjadi sangat nyata. Kita dapat melihat bagaimana simbol-simbol keagamaan sering ditampilkan, tetapi tidak selalu diiringi dengan tindakan yang mencerminkan nilai-nilai tersebut.

Sebagai contoh, ketika terjadi bencana seperti banjir bandang yang menyebabkan ribuan orang harus mengungsi dan hidup di tenda-tenda darurat, perhatian dan empati dari para pemimpin menjadi sangat penting. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat membutuhkan kehadiran pemimpin yang benar-benar peduli, bukan sekadar menunjukkan citra.

Namun, jika di saat yang sama ada pejabat daerah setingkat gubernur yang justru menampilkan perilaku berlebihan dalam merayakan Hari Raya Idulfitri, maka hal tersebut patut dipertanyakan. Bukan karena perayaan itu salah, tetapi karena konteks sosial yang sedang terjadi menuntut kepekaan dan empati yang lebih besar.

Apakah tindakan tersebut tidak termasuk dalam kategori ria? Apakah tidak mencerminkan sikap abai terhadap mereka yang sedang menderita, termasuk anak yatim dan orang miskin yang terdampak bencana? Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk direnungkan bersama, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mengingatkan.

Saya pribadi jarang membawa tema agama dalam tulisan. Namun, dalam situasi seperti ini, rasanya penting untuk kembali mengingatkan diri sendiri dan juga orang lain. Agama bukan hanya tentang simbol atau identitas, melainkan tentang bagaimana kita berpikir, bertindak, dan berbicara dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai seorang Muslim, sudah seharusnya kita berusaha menyesuaikan diri dengan ajaran agama secara utuh. Bukan hanya dalam hal ibadah ritual, tetapi juga dalam sikap sosial. Kepedulian terhadap sesama, kejujuran, serta tanggung jawab merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keimanan.

Kita tentu tidak ingin menjadi bagian dari golongan yang disebut sebagai pendusta agama. Oleh karena itu, refleksi seperti ini menjadi penting, agar kita tidak terjebak pada hal-hal yang bersifat simbolik semata.

Pada akhirnya, tulisan ini bukan ditujukan untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan sebagai pengingat bersama. Bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama di tengah dinamika politik, kita tetap harus berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan keagamaan yang sejati.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 181x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 161x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 132x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 121x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 117x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235
Novita Sari Yahya

Novita Sari Yahya

Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Baca Juga

Filosofi Cinta ala Sapardi Yang Tak Pernah Usai
# Bedah Puisi

Filosofi Cinta ala Sapardi Yang Tak Pernah Usai

Maret 25, 2026
Perang Hacker dalam Perang Iran vs Israel-AS
# Kebijakan Trump

Perang Hacker dalam Perang Iran vs Israel-AS

Maret 25, 2026
Simbol di Tubuh, Makna di Pikiran
Artikel

Simbol di Tubuh, Makna di Pikiran

Maret 24, 2026
Digempur +62 Siang Malam, Akhirnya KPK Jemput Gus Yaqut dan Jebloskan ke Rutan Lagi
Artikel

Digempur +62 Siang Malam, Akhirnya KPK Jemput Gus Yaqut dan Jebloskan ke Rutan Lagi

Maret 24, 2026
Next Post
Filosofi Cinta ala Sapardi Yang Tak Pernah Usai

Filosofi Cinta ala Sapardi Yang Tak Pernah Usai

Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Tulisan

© 2026 potretonline.com