Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Nuan bayangkan, dunia ini seperti manusia raksasa. Perutnya industri, paru-parunya perdagangan, dan jantungnya energi. Nah, Selat Hormuz itu bukan lagi sekadar urat nadi, ia sudah jadi leher. Sekarang, leher itu sedang dicekik pelan-pelan, sambil diajak bercanda pahit.
Lebarnya cuma 33 kilometer di titik tersempit. Tapi tiap hari, sebelum 2026 datang membawa sial, sekitar 20 juta barel minyak lewat situ. Itu 20–25% perdagangan minyak laut global. LNG? Tambah lagi 20%. Data International Energy Agency bilang angka itu stabil di 2025. Stabil seperti janji politik, tenang di atas, tapi di bawahnya penuh tekanan.
Lalu datang 28 Februari 2026. Operasi dengan nama yang terdengar seperti judul film, Operasi Epic Fury. Dua kata, tapi efeknya seperti membuka pintu neraka kecil di Teluk.
Empat hari kemudian, 4 Maret 2026, Iran tak perlu konferensi pers. Tak perlu pidato panjang lebar. Mereka cukup “berkata” lewat ledakan kecil, drone berdengung, dan kapal tanpa awak yang meluncur seperti hantu lapar.
Selat itu… praktis ditutup. Bukan ditutup pakai palang. Tapi ditutup dengan rasa takut.
Kapal dagang yang biasanya 138 per hari kini tinggal segelintir. Sisanya? Putar balik, parkir di laut, atau pura-pura lupa jalan. Premi asuransi naik seperti harga cabe saat emak-emak panik. Satu kapal diserang, Mayuree Naree, dan dunia langsung menelan ludah yang tak lagi ada.
Ini bukan perang, wak. Ini seni membuat dunia sesak napas.
Iran itu cerdik. Ia tahu tak bisa adu otot dengan Amerika. Tapi ia juga tahu satu hal, kalau tak bisa jadi singa, jadilah nyamuk di telinga singa.
Melalui Islamic Revolutionary Guard Corps Navy, mereka merancang perang yang bukan untuk menang, tapi untuk bikin lawan tak nyaman. Swarm tactics, keroyokan. Kapal kecil, cepat, murah. Rudal Noor dengan jangkauan 120–170 km. Drone Shahed yang jumlahnya seperti cicak di plafon rumah lama. Kapal selam mini yang muncul hilang macam utang teman.
Yang paling jahat, ranjau laut. Diperkirakan 5.000–6.000 unit. Murah, sederhana, tapi efeknya seperti jebakan tikus di tengah jalan tol. Tak perlu banyak, kurang dari 10 ranjau saja sudah cukup bikin kapal tanker mikir dua kali. Karena di laut, satu ledakan kecil bisa berarti kiamat besar.
Di sinilah logika perang berubah jadi satire.
Amerika datang dengan kapal induk sebesar kota kecil. Iran membalas dengan perahu kecil sebesar warung kopi. Tapi justru warung kopi itu yang bikin kapal induk tak bisa bergerak bebas.
Amerika, lewat United States Central Command dan Armada Kelima, mulai menggila. Bom 5.000 pon dijatuhkan. Drone “Lucas” beterbangan. Puluhan kapal Iran dihancurkan. Klaimnya lebih dari 60 kapal lenyap, termasuk kelas Soleimani dan 16 minelayer.
Kelihatannya seperti kemenangan mutlak. Tapi tunggu dulu.
Ini bukan pertandingan tinju. Ini permainan catur… dengan papan yang licin dan bidak yang bisa menggigit.
Analisis dari Center for Strategic and International Studies dan U.S. Naval Institute justru bilang, Amerika masuk ke dalam perang yang salah jenis.
Karena, ranjau bisa dipasang ulang kapan saja, bahkan dari kapal nelayan yang pura-pura cari ikan.
Drone bisa diproduksi massal seperti gorengan, satu habis, sepuluh muncul.
Rudal mungkin tinggal sedikit, tapi sekali ditembak bersamaan, bisa bikin sistem pertahanan secanggih apapun panik seperti mahasiswa lihat soal ujian yang tak pernah dia pelajari.
Yang paling tragis, membersihkan selat ini bukan hitungan hari. Tapi minggu. Bahkan bulan.
Dunia? Tak punya waktu.
Sementara itu, China dan Russia duduk di kursi penonton VIP. Mengecam, iya. Prihatin, iya. Tapi turun tangan? Tidak.
China itu lucu. 45% impor minyaknya lewat Hormuz. Tapi reaksinya seperti orang lihat rumah tetangga kebakaran, “Wah bahaya ya… semoga cepat padam,” sambil nutup pintu dan ngecek stok air sendiri.
Konspirasinya mulai tercium, wak.
Ada yang bilang dunia ini memang sengaja dibiarkan tergantung pada choke point seperti Hormuz. Supaya selalu ada “tombol darurat” yang bisa ditekan kapan saja. Energi bukan lagi komoditas, tapi alat kendali. Siapa pegang leher, dia pegang dunia.
Iran… entah sadar atau tidak, sedang memegang leher itu. Dampaknya? Jangan ditanya.
Pipa Saudi cuma sanggup 7 juta barel per hari. UAE 1,8 juta. Sementara yang hilang bisa 15–18 juta. Itu seperti mencoba menambal bendungan jebol pakai plester luka.
Harga minyak melonjak. Inflasi ikut naik. Dunia mulai oleng.
Federal Reserve Bank of Dallas memprediksi pertumbuhan global bisa terpangkas 2,9% kalau kondisi ini bertahan. Itu baru skenario “optimis yang pura-pura santai”.
Sementara International Monetary Fund dan United Nations Conference on Trade and Development lebih jujur, potensi kerugian bisa tembus $2,2 triliun. Dua koma dua triliun dolar.
Angka yang kalau ditulis di kertas, mungkin tintanya pun gemetar.
Asia jadi korban utama. China, India, Jepang, Korea Selatan, semuanya seperti pasien yang oksigennya disedot pelan-pelan. LNG Qatar yang 20% lewat Hormuz ikut tersendat. Industri mulai batuk. Logistik mulai tersedak.
Lalu, kita? Di ujung rantai. Ikut sesak tanpa tahu kenapa.
Akhirnya, semua kembali ke satu ironi besar. Dunia yang katanya modern, canggih, penuh AI dan roket ke Mars… ternyata masih bergantung pada satu selat sempit yang bisa ditutup dengan perahu kecil dan ranjau murah.
Ini bukan sekadar konflik. Ini tamparan.
Bahwa peradaban ini rapuh. Bahwa globalisasi itu indah saat lancar, tapi menyedihkan saat tersendat. Bahwa kekuasaan sejati bukan di tangan yang memegang senjata terbesar, tapi di tangan yang bisa mengatur aliran energi.
Selat Hormuz bukan lagi jalur laut. Ia adalah tombol “pause” dunia. Sekarang… tombol itu sedang ditekan setengah.
Tidak cukup untuk mematikan. Tapi cukup untuk membuat semua orang menahan napas.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
camanewak
jurnalismeyangmenyapa
JYM
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini








