Dengarkan Artikel
Oleh NA Riya Ison
Sejak bencana banjir bandang dan tamah longsor yang dahsyat terjadi, saya berkeinginan untuk ikut aksi kemanusiaan, berada di front terdekat penyintas bencana. Saya lebih berharap dapat mengevakuasi korban selamat, evakuasi korban, dan tugas kemanusiaan lainnya, khususnya penanganan korban selamat.
Sepekan pascabencana, beredar isu dan kabar yang menyebutkan Kuala Simpang di Aceh Tamiang ibarat “Kota Zombie”. Mayat banyak terjebak dalam kendaraan-kendaraan. Disebutkan kawasan Karang Baru dan sekitarnya seperti kotamati, bau -maaf- bangkai ada di mana-mana. Info itu diperparah dengan berita korban selamat mulai bersikap anarkis dan berprilaku bar-bar akan menyerang dan merebut makanan sebab kelaparan.
Suasana bertambah dramatis atas berita ini. Relawanpun kuatir untuk mendekat memberikan bantuan. Saat berkesempatan duduk bersama Pak Murdani Yusuf, Ketua PMI Aceh, saya sampaikan niat untuk dikirimkan sebagai relawan ke Tamiang. Pak Murdani saat itu berkata, “Kamu sanggup ditugaskan ke sana?”
“Dalam kondisi begini, Saya siap. Bagaimana pun caranya para-korban itu harus segera diselamatkan,” jawab saya Tetapi, tetap saya belum diizinkan untuk ke Tamiang. Sebab, saat itu juga tenaga LO saya masih dibutuhkan dan belum ada relawan lain yang dapat mengambil-alihnya.
Ternyata, informasi yang menghebohkan itu invalid, berita berlebihan . Entah pihak mana yang pertama menghembuskan. Kesempatan sebagai relawan PMI untuk beraksi di lapangan bencana tidak kesampaian. Tetapi, sebagai pengurus beberapa organisasi lain seperti Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Aceh dan Lembaga Pemerhati dan Advokasi Syariat Islam (LEPADSI) Aceh, saya akhirnya berkesempatan untuk menyambangi dan silaturrahim kepada saudara-saudara saya yang tertimpa musibah dahsyat tersebut.
Relawan DMDI dan LEPADSI
Tercatat sebagai pengurus Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI) Aceh dan Lembaga Pemerhati dan Advokasi Syariat Islam (LEPADSI) Aceh, saya bersama pengurus merangkap relawan sudah mengunjungi para-korban bencana hidrometeorologi Aceh. Bersama DMDI dan LEPADSI, saya beberapa kali sudah ke daerah terdampak bencana untuk menyalurkan tali asih sebagai bentuk peduli berupa Sembako, al Qur’an, buku Iqra, sarung, mukena, makanan anak-anak, uang saku, dan aneka bentuk barang lainnya.
Menjelang Ramadhan 1447 lalu, Sirup Cap Patung yang paling diminati warga Aceh pun berhasil kami sedekahkan ke beberapa daerah bencana. Sejumlah kabupaten/kota pada akhir Januari 2026 lalu, saya mengunjungi penyintas bencana ke beberapa titik di Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Langsa, Aceh Timur, dan Tamiang. Lanjut ke Aceh Tengah dan Bener Meriah. Termasuk juga Kabupaten Aceh Barat dan Nagan Raya.
Bahkan, ada beberapa daerah sampai dikunjungi dua atau tiga kali. Saat tugas kemanusiaan di lapangan itu juga, saya menyempatkan untuk mampir dan silaturrahmi ke Markas PMI Kabupaten/Kota yang sempat disinggahi. Di sana, saya berupaya memberikan semangat kepada sejumlah relawan yunior dan berpesan, “Ayo rebut tugas mulia, raih pahala sebanyak-banyaknya dengan bekerja Ikhlas”.
Ziarah ke Makam Tgk. Bantaqiah Beutong Ateuh adalah salah satu kawasan terpencil di Kabupaten Nagan Raya. Kawasan ini pada medio 1999 sempat terkenal dengan tragedi tewasnya Teungku Bantaqiah, Pimpinan Dayah (pondok pesantren) Babul Mukarramah. Saat Tgk. Bantaqiah menjadi syuhada bersama puluhan pengikutnya pada Juli 1999.
Saat itu, saya sempat menjadi relawan untuk mengumpulkan berbagai bentuk peduli bagi keluarga dan warga di sana. Sebagai kader Remaja Masjid Raya Baiturrahman (RMRB) dan jurnalis pada Gema Baiturrahman, saya pada Juli 1999 itu ditugaskan untuk menghimpun bantuan dari jamaah Masjid Raya Baiturrahman dan warga. Tercatat 1 ton beras dari Capella Dinamic diterima untuk disalurkan ke Beutong Ateuh.
Didapat juga sejumlah pakaian layak yang kemudian saya pilah-pilih dan satukan sesuai ukuran, peruntukan berdasarkan jenis kelamin dan usia. Tetapi, patut disayangkan, justru saat kader RMRB berangkat mengantar bantuan ke Beutong Ateuh, saya tidak diizinkan senior Ustadz Ameer Hamzah dan Sayed Muhammad Husen.
Pertimbangannya, saya tidak fasih berbahasa Aceh, apalagi face wajah saya jelas warga non-Aceh. Dikuatirkan kesertaan saya ke sana, akan berakibat kesulitan bagi tim. Keinginan mengunjungi Beutong Ateuh dan berziarah ke makam Tgk. Bantaqiah akhirnya tersampaikan.
Saat itu, DMDI Aceh menyalurkan bantuan sembako menjelang Ramadhan 1447 H sambil berziarah ke makam salah satu ulama kharismatik Aceh tersebut. Sehingga spesifik bantuan yang dibawa pun berupa sirop Kurnia (Cap Patung), sarung, mukena, al Qur’an, Iqra, dan lainnya.
Perjalanan panjang dengan jalan menanjak dan berkelok-kelok itu akhirnya sampai juga. Sepanjang perjalanan kendaraan Hiace yang kami tumpangi akhirnya sampai ke Beutong Ateuh yang merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Celala, Aceh Tengah.
Tim DMDI yang dipimpin langsung Ketua Aidi Kamal, Sekretaris Basri Abu Bakar, Bendahara Cut Wardani, serta saya, Indriani, Harlina, Radian, ini diterima dengan penuh keramahan di rumah yang kini didiami Tgk. Malikul Aziz, putra keempatTgk. Bantaqiah.
Peumulia Jamee, makan siang juga dihidangkan untuk Tim DMDI. Selanjutnya, kunjungan diakhiri dengan ziarah dan doadi komplek Makam Tgk. Bantaqiah. Ada kisah menarik yang kami saksikan di sana. Komplek dayah yang didirikan Tgk. Bantaqiah itu meliputi rumah pengasuh, masjid, pondok pesantren, dan makam keluarga kesemuanya tetap utuh.
Padahal, komplek itu juga terendam banjir deras. Sedangkan bangunan sekitar termasuk masjid yang ada di kawasan pinggiran Krueng (sungai) Beutong itu semua hancur disapu banjir dan longsong yang terjadi 26 November 2025 lalu.
Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan merasakan puas dan bahagia yang sulit diungkapkan lewat kata-kata. Sebab, seperempat abad berlalu, akhirnya kerinduan berkunjung dan ziarah ke makam Tgk. Bantaqiah dapat terpenuhi.
Penutup
Dalam perkembangannya, sebulan masa tanggap darurat selesai, dan diperpanjang kembali. Sesuai perkiraan saya, masa pemulihan bencana hidrometeorologi Aceh ini sangat berat dan memakan waktu lama. Sangat berbeda saat penanganan pascagempa/tsunami Aceh Desember 2004 lalu.
SBY menetapkan status Bencana Nasional, mengundang cepat para relawan, NGO, dan negara-negara sahabat bahkan institusi PBB untuk berlomba membangun dan mempercepat Aceh Bangkit pasca bencana tsunami.
Masa tanggap darurat diperpanjang berulang, termasuk juga bencana banjir dan longsor yang terjadi di Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Bahkan, pascabencana amat dahsyat itu sampai kini masih ada beberapa titik koordinat warga masih tetap butuh sentuhan peduli kemanusiaan dari saudara kita.
Namun, bagaimana pun juga, tugas saya sebagai veteran relawan PMI masa konflik dan tsunami Aceh yang terpanggil kembali untuk ikut mengutip pahala pascabencana hidrometeorologi Aceh ini secara pribadi dianggap sudah selesai.
Maka, saya yang kembali mendapatkan mandat aksi kemanusiaan sebagai relawan PMI Aceh pada bencana banjir dan longsor Aceh November 2025 memohon pamit seusai dan sesuai surat tugas selesai.
Tetapi, pada hakikatnya tanpa surat tugas, saya akan siap untuk tetap menghimpun amal kebaikan secara mandiri maupun bekerja sama dengan pihak lain.
Mohon maaf atas segala kekurangan, keterlambatan penanganan, dan berbagai permasalahan baik dengan sesama relawan, pengurus, dan pihak lain yang sempat terjadi.
Semoga semua ini menjadi amal kita bagi relawan, anggota TNI/Polri, pengurus dan relawan BNPB/BPBA, anggota RAPI, ASN Pemerintahan Aceh, para donatur, serta seluruh pihak yang peduli dan terlibat dalam penanganan bencana ini.
Semoga Aceh pascabencana dapat bangkit secepatnya. Wassalam.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini











