Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Tulisan ke-41 Edisi Ramadan. Masa keemasan Islam di zaman Dinasti Abbasiyah akhirnya runtuh. Bukan hanya faktor internal, melainkan juga serangan dahsyat dari luar. Nikmati narasinya sambil imagine Koptagul, wak!
Nuan bayangkan, sebuah kota bernama Baghdad. Selama berabad-abad bukan cuma ibu kota, tapi otaknya dunia. Jantungnya peradaban. Mungkin kalau ada ranking global waktu itu, dia sudah langganan juara satu tanpa polling SMS. Di kota itu, para ilmuwan nongkrong bukan di kafe, tapi di perpustakaan. Para filsuf debat bukan di podcast, tapi di majelis ilmu. Buku-buku ditumpuk bukan buat dekorasi estetik, tapi buat dibaca sampai otak berasap. Di sanalah dulu Baitul Hikmah berdiri megah. Hasil warisan kegilaan intelektual dari sosok seperti Al-Ma’mun yang rela tukar emas demi satu manuskrip. Lalu sejarah berkata, “cukup, sekarang kita ganti genre jadi tragedi.”
Karena yang namanya peradaban itu tidak runtuh tiba-tiba seperti sinyal hilang. Ia hancur pelan-pelan seperti janji politik yang mulai retak dari dalam. Dinasti Abbasiyah sebelum 1258 itu sebenarnya sudah seperti pasien ICU yang masih pakai jas mahal. Kelihatannya gagah, tapi di dalamnya organ-organ sudah saling ngambek. Konflik antarbangsa jadi menu harian.
Arab merasa paling mulia. Persia merasa paling berjasa. Turki datang bawa otot dan akhirnya pegang kendali militer. Pada masa Al-Mu’tashim, tentara Turki direkrut besar-besaran sampai ibu kota dipindah ke Samarra, karena Baghdad sudah terlalu panas. Bukan karena cuaca, tapi karena rakyat mulai muak lihat tentara kelakuannya kayak geng elite yang tidak bisa disentuh.
Lalu datang fase legendaris bernama “Anarki Samarra” tahun 861–870 M. Ketika itu, khalifah bukan lagi pemimpin. Lebih mirip figuran dalam drama kudeta berseri. Dalam sembilan tahun, empat khalifah naik turun seperti kursi panas. Semua diatur oleh militer. Kalau diterjemahkan ke zaman sekarang, ini seperti negara yang presidennya silih berganti, tapi yang benar-benar berkuasa tetap “orang belakang layar” yang tidak pernah ikut pemilu.
Sementara itu, ekonomi mulai batuk-batuk. Dulu Abbasiyah kaya raya. Sekarang pengeluaran membengkak buat gaya hidup elite yang mungkin kalau dilihat hari ini bisa bikin influencer pun minder. Pajak naik, rakyat menjerit, wilayah-wilayah mulai lepas satu per satu. Dari Spanyol sampai Persia, muncul dinasti-dinasti kecil yang bilang, “ngapain kirim pajak ke Baghdad kalau bisa makan sendiri?” Khalifah pun perlahan berubah dari penguasa absolut menjadi simbol agama tanpa kuasa politik. Kekuasaan nyata dipegang oleh dinasti seperti Buwaihi dan Seljuk. Khalifah? Ya tetap ada, tapi lebih seperti logo resmi dari mesin penggerak.
Di saat internal sudah berantakan seperti lemari yang tidak pernah dibereskan, datanglah badai dari timur. Bukan badai biasa, ini badai level kiamat mini bernama bangsa Mongol. Dipimpin awalnya oleh Jenghis Khan, mereka menghancurkan Kekaisaran Khwarezmia tahun 1219–1221 M, yang sebelumnya jadi benteng tak langsung bagi Abbasiyah. Setelah itu, Baghdad mulai seperti rumah tua yang dikelilingi preman, setiap tahun diuji, diserang, diganggu, tapi entah kenapa masih merasa aman.
Sampai akhirnya muncul nama yang akan mengubah segalanya, Hulagu Khan, adik dari Möngke Khan. Tahun 1253, ia berangkat membawa misi yang bukan sekadar ekspedisi, tapi proyek penghancuran total. Pasukannya bukan main-main, antara 138.000 sampai 300.000 orang, lengkap dengan kavaleri Armenia, infanteri Georgia, dan yang paling mematikan, insinyur China dengan mesin kepung dan teknologi mesiu. Ini bukan perang biasa, ini industrialisasi kehancuran.
Sebelum ke Baghdad, Hulagu mampir dulu ke benteng legendaris Alamut milik Hassasin, yang jatuh tahun 1256. Setelah itu, Baghdad tinggal menunggu giliran seperti antrean takdir yang tidak bisa dibatalkan.
Masuk ke dalam istana Abbasiyah, drama semakin absurd. Khalifah terakhir, Al-Musta’shim Billah, secara pribadi dikenal baik, saleh, dan tidak neko-neko. Masalahnya satu, terlalu baik untuk situasi yang butuh ketegasan. Ia sangat bergantung pada wazirnya, Ibnu Alqami, yang dalam banyak riwayat justru memainkan peran seperti konsultan politik yang salah arah. Ia mengurangi pasukan dari sekitar 100.000 menjadi hanya 10.000. Ente bayangkan, menghadapi badai dengan payung bolong, lalu yakin tidak akan kehujanan.
Ketika utusan Hulagu datang tahun 1257 membawa ultimatum, Al-Musta’shim menolak dengan penuh percaya diri. Bahkan, menyebut murka Tuhan akan turun jika Baghdad diserang. Ini semacam retorika yang sangat indah di podium. Sayangnya, tidak terlalu efektif melawan mesin katapel dan pasukan berkuda Mongol yang tidak punya urusan dengan pidato.
Tanggal 29 Januari 1258, pengepungan dimulai. Ini bukan sekadar pengepungan, ini penghapusan peradaban dalam format kilat. Dalam hitungan hari, tembok timur ditembus pada 4 Februari. Tanggal 10 Februari, Baghdad menyerah. Mulai 13 Februari, neraka benar-benar dibuka.
Selama sekitar sepekan, kota yang dulu jadi pusat ilmu berubah jadi ladang kematian. Jumlah korban? Hulagu bilang 200.000. Sejarawan lain bilang 800.000 sampai 2 juta. Intinya, angka itu sudah tidak lagi terasa sebagai statistik, tapi sebagai jeritan kolektif yang tidak sempat dicatat satu per satu. Jalanan penuh mayat, sungai Tigris berubah warna, bukan cuma merah oleh darah, tapi hitam oleh tinta. Buku-buku dari Baitul Hikmah dibuang ke sungai, karya berabad-abad lenyap dalam hitungan hari. Ini bukan sekadar pembakaran perpustakaan, ini pemutusan kabel utama peradaban.
Lalu tibalah adegan paling simbolik sekaligus paling tragis. Al-Musta’shim Billah, yang dulunya pemimpin dunia Islam, dipaksa menyaksikan kehancuran kotanya. Pada 20 Februari 1258, ia dieksekusi dengan cara yang “rapi” menurut tradisi Mongol, dibungkus karpet lalu diinjak-injak kuda sampai mati. Tidak ada darah yang tumpah, tapi seluruh sejarah seperti ikut remuk di bawah kaki-kaki itu.
Setelah itu, Baghdad tidak benar-benar hilang, ia masih hidup di bawah kekuasaan Ilkhanat, tapi jiwanya sudah pergi. Ia bukan lagi pusat dunia, hanya kota besar yang pernah punya masa lalu. Sementara itu, kekhalifahan Abbasiyah “dihidupkan kembali” di Kairo tahun 1261 lewat Al-Mustanshir II, tapi statusnya lebih simbolik, seperti stempel resmi tanpa kekuasaan nyata.
Kalau ditanya siapa yang salah, jawabannya tidak sesederhana menunjuk satu orang. Ada kelemahan pemimpin, ada pengkhianatan internal, ada ekonomi yang ambruk, ada perpecahan politik, dan ada kekuatan eksternal yang memang seperti badai tak terbendung. Tapi kalau mau jujur sedikit dengan gaya zaman sekarang, ini seperti negara yang sibuk ribut internal, saling sikut, sibuk pencitraan, merasa aman karena sejarah besar di belakangnya, lalu tiba-tiba realitas datang tanpa permisi dan langsung menutup semua bab.
Di atas semua itu, yang paling menyayat bukan runtuhnya istana, tapi tenggelamnya ilmu. Karena tembok bisa dibangun lagi, istana bisa didirikan ulang, tapi buku yang hilang, pemikiran yang terputus, dan generasi ilmuwan yang dibantai, itu tidak bisa diganti begitu saja. Butuh ratusan tahun untuk pulih, itu pun tidak pernah benar-benar sama.
Jadi ketika hari ini orang dengan santai melewatkan buku, malas membaca, atau merasa ilmu tidak penting, mungkin Sungai Tigris di masa lalu akan tertawa getir. Dulu orang membunuh dan mati demi peradaban. Sekarang, peradaban bisa mati pelan-pelan… cukup dengan ketidakpedulian.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
camanewak
jurnalismeyangmenyapa
JYM
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini










