HABA Mangat

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Responden Terpilih

Maret 14, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Responden Terpilih

Maret 14, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Hari Raya di Tengah Krisis Timur Tengah: Luka Aceh dan Kemiskinan yang Terabaikan

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Maret 18, 2026
in Artikel
Reading Time: 4 mins read
0
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abdurrahman

Lebaran yang Datang, Perubahan yang Tertunda

Baca Juga

Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman

Belajar Menabung dari Surah Yusuf: Iktibar di Tengah Ketidakpastian Global

Maret 18, 2026
Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh

Pak Bisa Minta Tolong Mendorong Helikopter?

Maret 18, 2026

Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh

Maret 17, 2026

Setiap Lebaran, suasananya seperti selalu kita kenal. Takbir berkumandang, jalanan mulai ramai, orang-orang pulang kampung dengan wajah yang sedikit lebih ringan. Di sudut-sudut warung kopi—Ulee Kareng, Lampriet, hingga pinggir kota—orang duduk lama, berbicara tentang apa saja: harga kebutuhan, politik, bahkan konflik dunia. Tapi ada satu hal yang sering luput dari percakapan jujur: kenapa hidup kita terasa berjalan di tempat? Lebaran datang membawa maaf, iya. Tapi apakah ia juga membawa perubahan? Atau kita hanya mengganti kalender, tanpa pernah benar-benar mengganti cara berpikir?

Dunia Bergerak, Aceh Menonton

Di luar sana, dunia tidak pernah diam. Kawasan Timur Tengah terus bergejolak, membentuk ulang arah politik dan ekonomi global. Nama seperti Ali Khamenei atau Benjamin Netanyahu muncul bukan sekadar sebagai tokoh, tetapi sebagai simbol bagaimana negara bertahan di tengah tekanan. Kita boleh setuju atau tidak, tapi mereka bergerak—mereka merespons, menyusun strategi, dan bertahan. Sementara di Aceh, kita sering kali hanya menjadi penonton. Diskusi panjang, tapi langkah pendek. Banyak analisis, tapi sedikit perubahan nyata.

Alam yang Terluka, Tapi Dianggap Biasa

Kalau kita jujur, tanda-tanda itu sudah lama ada. Banjir di Aceh Timur, genangan di Aceh Utara, kerusakan lahan di Nagan Raya—semuanya seperti berita yang berulang. Tapi kita sering menyebutnya “musibah”, seolah-olah tidak ada peran manusia di dalamnya. Padahal hutan berkurang, aliran sungai berubah, dan keseimbangan alam terganggu. Alam sebenarnya sudah memberi peringatan. Hanya saja, kita terlalu terbiasa untuk menganggapnya sebagai hal biasa. Yang paling merasakan bukan kita yang duduk nyaman di kota, tapi mereka yang rumahnya terendam, yang sawahnya gagal panen, yang harus memulai dari nol lagi dan lagi.

Pengungsi: Mereka yang Tidak Pernah Benar-Benar Pulang

Lebaran selalu identik dengan pulang. Tapi tidak semua orang punya tempat untuk benar-benar kembali. Masih ada mereka yang hidup dalam kondisi tidak pasti—entah karena bencana baru atau dampak lama yang tidak pernah selesai. Rumah mereka rusak, tanah mereka tidak lagi produktif, dan kehidupan mereka seperti berhenti di satu titik. Yang menyedihkan, mereka jarang masuk dalam percakapan besar. Tidak viral, tidak jadi headline, tidak cukup “menarik” untuk dibahas terus-menerus. Padahal mereka adalah wajah paling nyata dari luka Aceh yang belum sembuh.

Kemiskinan yang Kita Diamkan

Aceh masih termasuk daerah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi di Indonesia. Tapi masalahnya bukanlah hanya angka. Masalahnya adalah bagaimana kita mulai terbiasa melihatnya. Orang berjualan kecil di pinggir jalan, anak muda yang tidak punya pekerjaan tetap, keluarga yang hidup pas-pasan—semua itu perlahan dianggap normal. Padahal tidak seharusnya demikian. Ketika kemiskinan tidak lagi membuat kita gelisah, di situlah masalah yang lebih besar mulai tumbuh: hilangnya sensitivitas.

Dari Ibadah ke Kekuasaan

Aceh punya kekuatan spiritual yang tidak bisa dipungkiri. Ramadan hidup, masjid penuh, pengajian berjalan. Tapi pertanyaan yang jarang kita ajukan adalah: kenapa semua itu tidak bertransformasi menjadi perubahan sosial yang nyata? Kenapa setelah Ramadan dan Lebaran, yang berubah hanya suasana, bukan sistem? Di saat yang sama, kita melihat bagaimana kekuasaan dimainkan. Perdamaian yang dulu diperjuangkan dengan mahal kini sering kali terasa seperti ruang untuk berebut posisi. Banyak yang ingin memimpin, tapi sedikit yang benar-benar ingin menyelesaikan persoalan mendasar—ekologi, kemiskinan, dan masa depan generasi muda.


Refleksi: Kita Mau Dibawa ke Mana?

Aceh bukan wilayah tanpa sejarah. Kita pernah besar, pernah kuat, pernah menjadi rujukan. Tapi hari ini, kita perlu jujur pada diri sendiri. Apakah kita benar-benar bergerak ke depan, atau hanya mengulang pola lama dengan wajah baru? Lebaran seharusnya bukan hanya tentang kembali ke nol secara pribadi, tapi juga keberanian untuk berubah secara kolektif. Bukan sekadar bertanya siapa yang salah, tapi apa yang harus diperbaiki.


Penutup: Lebaran Bukan Sekadar Maaf

Lebaran mengajarkan kita untuk saling memaafkan. Tapi mungkin itu belum cukup. Kita juga perlu keberanian untuk mengakui bahwa alam kita sedang terluka, bahwa masih ada yang belum benar-benar pulang, bahwa kemiskinan bukan sesuatu yang wajar untuk dibiarkan. Dunia, termasuk di Timur Tengah, terus bergerak—kadang dalam konflik, kadang dalam tekanan. Tapi mereka belajar dan beradaptasi. Aceh juga pernah jatuh, bahkan berkali-kali. Namun jika kita tidak belajar, maka yang akan terus berulang bukan hanya sejarah, tetapi juga kegagalan.

Lebaran akan terus datang setiap tahun.
Tapi perubahan tidak akan pernah datang, jika kita tidak benar-benar menginginkannya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 357x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 308x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 223x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 188x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Baca Juga

Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman
Artikel

Belajar Menabung dari Surah Yusuf: Iktibar di Tengah Ketidakpastian Global

Maret 18, 2026
Koperasi Merah Putih: Ketika Lilin Ekonomi Desa Ragu Menyala
Dinas Koperasi

Koperasi Merah Putih: Ketika Lilin Ekonomi Desa Ragu Menyala

Maret 18, 2026
Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh
Aceh

Pak Bisa Minta Tolong Mendorong Helikopter?

Maret 18, 2026
Tadarus Warna, Tubuh, Dan Kata: Merayakan Karya Sebagai Jalan Pulang Kemanusiaan
Esai

Tadarus Warna, Tubuh, Dan Kata: Merayakan Karya Sebagai Jalan Pulang Kemanusiaan

Maret 18, 2026
Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com