Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Malam Jakarta sering terlihat biasa saja. Lampu jalan berdiri seperti penjaga yang kelelahan, angin membawa bau aspal, dan kota raksasa itu pura-pura tidur. Padahal Jakarta jarang benar-benar tidur. Ia hanya menunggu tragedi berikutnya muncul di tikungan jalan.
Kamis malam, 12 Maret 2026.
Sekitar pukul 23.37 WIB, Andrie Yunus melaju sendirian dengan motor Yamaha Aerox kuning di Jalan Salemba I menuju kawasan Talang. Beberapa menit sebelumnya ia baru keluar dari kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia setelah mengisi podcast. Topiknya tidak ringan. Remiliterisme, hukum, masa depan demokrasi. Hal-hal yang sering terdengar indah di diskusi, tetapi kadang terasa berbahaya di dunia nyata.
Di belakangnya, dua orang di atas motor matic muncul dalam rekaman CCTV. Mereka bergerak pelan, searah dengan Andrie, seperti bayangan yang sengaja mengikuti. Beberapa meter kemudian motor itu melewati Andrie, lalu tiba-tiba berputar balik.
Gerakannya cepat. Terencana. Beberapa detik kemudian mereka berpapasan. Penumpang belakang mengangkat tangan. Sebuah cairan melayang di udara malam.
Lalu semuanya berubah menjadi neraka.
Cairan itu menghantam wajah, dada, tangan, dan mata Andrie. Asam sulfat bekerja tanpa ampun. Dalam hitungan detik, bajunya mulai meleleh seperti lilin yang didekatkan ke api.
Motor Andrie mendadak berhenti. Ban berdecit keras. Aerox kuning itu jatuh ke pinggir jalan. Andrie ikut terjatuh. Namun rasa sakit datang bahkan lebih cepat daripada tubuh manusia bangkit dari aspal.
“Aaaah…!”
Jeritan itu pecah di malam yang sepi.
Ia berdiri dengan gerakan panik, meraba wajahnya sendiri. Kulitnya terasa terbakar, seperti ada api tak terlihat yang menempel di tubuhnya.
“Panas… panas… panas!”
Suaranya semakin tinggi.
“Air keras! Air keras! Ya Allah… tolong!”
Ia membuka bajunya sendiri dengan tangan gemetar. Kain yang menempel di tubuhnya terasa seperti kompor panas. Kulit di dada dan wajahnya mulai memerah, lalu melepuh.
Ia mondar-mandir di pinggir jalan, hampir tidak bisa melihat dengan jelas.
“Tolooong… tolong!”
Jeritannya pecah, histeris, memantul di bawah lampu jalan yang dingin.
Di rekaman CCTV, suara itu terdengar sangat jelas. Jeritan manusia yang tiba-tiba diseret ke dalam rasa sakit yang tak terbayangkan.
Sementara itu motor para pelaku sudah menghilang. Mereka kabur secepat bayangan yang tidak ingin dikenali.
Tinggal Andrie di pinggir jalan. Tubuhnya gemetar. Tangannya memegang wajahnya. Matanya hampir tidak bisa dibuka.
Beberapa orang akhirnya berlari mendekat setelah mendengar jeritan itu. Ada yang panik, ada yang mencoba membantu, ada yang hanya berdiri membeku karena tidak siap melihat luka yang begitu brutal.
Motor Andrie tergeletak di aspal seperti saksi yang pingsan. Lampu jalan tetap menyala. Malam tetap berjalan.
Belakangan dokter mencatat luka bakarnya sekitar 24 persen: wajah, dada, tangan, dan mata. Angka itu terdengar sederhana di laporan medis. Namun angka tidak pernah mampu menggambarkan jeritan manusia di tengah jalan sepi.
Ironi tragedi itu terasa pahit. Seorang aktivis dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, yang baru saja berbicara tentang hak asasi manusia, pulang dengan tubuh yang diserang oleh kekerasan paling brutal.
Di bawah lampu jalan Salemba malam itu, satu hal terasa jelas, jeritan “tolong… tolong…” yang menggema di jembatan Talang bukan hanya suara seseorang yang kesakitan.
Ia terdengar seperti pertanyaan yang dilemparkan ke seluruh negeri, tentang keberanian, tentang kekerasan, dan tentang betapa rapuhnya manusia ketika kegelapan memutuskan untuk datang.
Tragedi di tengah malam itu mengingatkan kita, keberanian memperjuangkan keadilan sering dibayar mahal oleh mereka yang takut pada kebenaran. Kekerasan mungkin mampu melukai tubuh, membakar kulit, bahkan mencoba menakut-nakuti suara yang kritis, tetapi ia juga membuka mata banyak orang tentang betapa rapuhnya kemanusiaan jika dibiarkan tunduk pada kebencian. Dari luka yang tragis itu, kita belajar, keberanian tidak selalu terlihat gagah. Kadang ia berdiri sendirian di jalan sepi, tetap bersuara meski dunia mencoba membungkamnya. Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa keras kekerasan terjadi, melainkan dari seberapa kuat masyarakatnya menolak untuk diam ketika kemanusiaan disakiti.
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
camanewak
jurnalismeyangmenyapa
JYM
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
















