• Latest
Air Keras di Tengah Malam Jakarta - 6df31c50 a420 4a31 920a f1ea7bacd4b4 | #Cerpen | Potret Online

Air Keras di Tengah Malam Jakarta

Maret 14, 2026
IMG_0599

Sejarah Gampong Ujong Batee, Dari Rimba Raya Ke Gampong Bersejarah

April 3, 2026
2d062166-bba3-4188-9a5d-f24020a5c375

Menakar Progres Gerakan Perempuan Indonesia: Dari Kongres 1928 hingga Era Reformasi

April 3, 2026
IMG_0597

Peringatan Hari Autism Sedunia, Apakah Sekolah Inklusi Masih Sekadar Label?

April 3, 2026
de887664-5703-4ea3-b536-ece938504d8e

Semua Guru itu Teladan

April 3, 2026
IMG_0596

Jendela Istana Hamatisa

April 3, 2026
IMG_0588

PASIE RAJA: Jejak Darah, Dakwah dan Martabat Perempuan dalam Sejarah Aceh Selatan

April 3, 2026
6eeb5594-d7a8-483c-adaf-a6783306152a

Gambaran Pangkalan Militer Amerika Serikat di Timteng Usai Diserang Iran

April 3, 2026
560bc641-222d-47d5-9c36-39283e591af5

Derita Anak Palestina pun Menjadi Lagu

April 3, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Jumat, April 3, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Air Keras di Tengah Malam Jakarta - 6df31c50 a420 4a31 920a f1ea7bacd4b4 | #Cerpen | Potret Online

Air Keras di Tengah Malam Jakarta

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Maret 14, 2026
in #Cerpen, Cerpen, Kekerasan
Reading Time: 4 mins read
0
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Malam Jakarta sering terlihat biasa saja. Lampu jalan berdiri seperti penjaga yang kelelahan, angin membawa bau aspal, dan kota raksasa itu pura-pura tidur. Padahal Jakarta jarang benar-benar tidur. Ia hanya menunggu tragedi berikutnya muncul di tikungan jalan.

Kamis malam, 12 Maret 2026.

Baca Juga:
  • Di Ujung Magrib
  • Jalan yang Kita Pilih
  • Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Sekitar pukul 23.37 WIB, Andrie Yunus melaju sendirian dengan motor Yamaha Aerox kuning di Jalan Salemba I menuju kawasan Talang. Beberapa menit sebelumnya ia baru keluar dari kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia setelah mengisi podcast. Topiknya tidak ringan. Remiliterisme, hukum, masa depan demokrasi. Hal-hal yang sering terdengar indah di diskusi, tetapi kadang terasa berbahaya di dunia nyata.

Di belakangnya, dua orang di atas motor matic muncul dalam rekaman CCTV. Mereka bergerak pelan, searah dengan Andrie, seperti bayangan yang sengaja mengikuti. Beberapa meter kemudian motor itu melewati Andrie, lalu tiba-tiba berputar balik.

Gerakannya cepat. Terencana. Beberapa detik kemudian mereka berpapasan. Penumpang belakang mengangkat tangan. Sebuah cairan melayang di udara malam.

Lalu semuanya berubah menjadi neraka.

Cairan itu menghantam wajah, dada, tangan, dan mata Andrie. Asam sulfat bekerja tanpa ampun. Dalam hitungan detik, bajunya mulai meleleh seperti lilin yang didekatkan ke api.

Motor Andrie mendadak berhenti. Ban berdecit keras. Aerox kuning itu jatuh ke pinggir jalan. Andrie ikut terjatuh. Namun rasa sakit datang bahkan lebih cepat daripada tubuh manusia bangkit dari aspal.

“Aaaah…!”

Jeritan itu pecah di malam yang sepi.

Ia berdiri dengan gerakan panik, meraba wajahnya sendiri. Kulitnya terasa terbakar, seperti ada api tak terlihat yang menempel di tubuhnya.

Baca Juga

560bc641-222d-47d5-9c36-39283e591af5

Derita Anak Palestina pun Menjadi Lagu

April 3, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

“Panas… panas… panas!”

Suaranya semakin tinggi.

“Air keras! Air keras! Ya Allah… tolong!”

Ia membuka bajunya sendiri dengan tangan gemetar. Kain yang menempel di tubuhnya terasa seperti kompor panas. Kulit di dada dan wajahnya mulai memerah, lalu melepuh.

Ia mondar-mandir di pinggir jalan, hampir tidak bisa melihat dengan jelas.

“Tolooong… tolong!”

Jeritannya pecah, histeris, memantul di bawah lampu jalan yang dingin.

Di rekaman CCTV, suara itu terdengar sangat jelas. Jeritan manusia yang tiba-tiba diseret ke dalam rasa sakit yang tak terbayangkan.

Sementara itu motor para pelaku sudah menghilang. Mereka kabur secepat bayangan yang tidak ingin dikenali.

Tinggal Andrie di pinggir jalan. Tubuhnya gemetar. Tangannya memegang wajahnya. Matanya hampir tidak bisa dibuka.

Beberapa orang akhirnya berlari mendekat setelah mendengar jeritan itu. Ada yang panik, ada yang mencoba membantu, ada yang hanya berdiri membeku karena tidak siap melihat luka yang begitu brutal.

ADVERTISEMENT

Motor Andrie tergeletak di aspal seperti saksi yang pingsan. Lampu jalan tetap menyala. Malam tetap berjalan.

Belakangan dokter mencatat luka bakarnya sekitar 24 persen: wajah, dada, tangan, dan mata. Angka itu terdengar sederhana di laporan medis. Namun angka tidak pernah mampu menggambarkan jeritan manusia di tengah jalan sepi.

Ironi tragedi itu terasa pahit. Seorang aktivis dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, yang baru saja berbicara tentang hak asasi manusia, pulang dengan tubuh yang diserang oleh kekerasan paling brutal.

Di bawah lampu jalan Salemba malam itu, satu hal terasa jelas, jeritan “tolong… tolong…” yang menggema di jembatan Talang bukan hanya suara seseorang yang kesakitan.

Ia terdengar seperti pertanyaan yang dilemparkan ke seluruh negeri, tentang keberanian, tentang kekerasan, dan tentang betapa rapuhnya manusia ketika kegelapan memutuskan untuk datang.

Tragedi di tengah malam itu mengingatkan kita, keberanian memperjuangkan keadilan sering dibayar mahal oleh mereka yang takut pada kebenaran. Kekerasan mungkin mampu melukai tubuh, membakar kulit, bahkan mencoba menakut-nakuti suara yang kritis, tetapi ia juga membuka mata banyak orang tentang betapa rapuhnya kemanusiaan jika dibiarkan tunduk pada kebencian. Dari luka yang tragis itu, kita belajar, keberanian tidak selalu terlihat gagah. Kadang ia berdiri sendirian di jalan sepi, tetap bersuara meski dunia mencoba membungkamnya. Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa keras kekerasan terjadi, melainkan dari seberapa kuat masyarakatnya menolak untuk diam ketika kemanusiaan disakiti.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

SummarizeShare235Tweet147
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Related Posts

IMG_0599
Artikel

Sejarah Gampong Ujong Batee, Dari Rimba Raya Ke Gampong Bersejarah

April 3, 2026
2d062166-bba3-4188-9a5d-f24020a5c375
Artikel

Menakar Progres Gerakan Perempuan Indonesia: Dari Kongres 1928 hingga Era Reformasi

April 3, 2026
IMG_0597
Artikel

Peringatan Hari Autism Sedunia, Apakah Sekolah Inklusi Masih Sekadar Label?

April 3, 2026
de887664-5703-4ea3-b536-ece938504d8e
Pendidikan

Semua Guru itu Teladan

April 3, 2026
Next Post
Air Keras di Tengah Malam Jakarta - 1001353319_11zon | #Cerpen | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com