Dengarkan Artikel
Oleh Mawaddah
Hari itu adalah hari yang tidak akan pernah aku lupakan. Setelah penantian panjang, akhirnya pengumuman kelulusan PNS keluar. Saat aku menyampaikan kabar itu kepada ibu, beliau langsung memelukku erat.
Air mata jatuh di pipinya.
Dengan suara bergetar penuh haru ibu berkata,
“Alhamdulillah… aneuk lon kajeut ke PNS.”
Itu adalah air mata kebanggaan seorang ibu yang selama ini hanya bisa mendoakan anaknya dalam setiap sujudnya.
Ibu bahkan pernah bernazar, jika aku lulus PNS, beliau ingin mengadakan kenduri untuk seluruh arwah yang telah meninggal sebagai bentuk syukur kepada Allah. Dan sebelum kepergiannya, ibu sempat menunaikan nazar itu. Kami berkumpul, berdoa bersama dan ibu terlihat sangat bahagia.
Namun ternyata kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Beberapa minggu kemudian, memasuki bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW pada bulan Februari 2019, ibu tiba-tiba jatuh sakit. Tidak ada tanda sakit sebelumnya. Hanya dalam waktu tiga hari kondisi beliau menurun.
Saat itu bahkan kami masih sempat mengadakan kenduri Maulid Nabi di rumah dan mengundang kerabat. Rumah dipenuhi orang-orang yang datang bersilaturahmi.
Namun di hari yang sama, ibu terlihat semakin lemas. Kami semua panik dan segera membawanya ke rumah sakit. Dua hari kami menunggu dengan penuh harap.
Sampai akhirnya Allah memanggil beliau kembali.
Kepergian ibu begitu mendadak dan sangat menyayat hati bagi kami sekeluarga.
Yang membuat hati ini semakin pilu adalah satu kenyataan:
ibu belum sempat menikmati hasil kerja anaknya.
Beliau hanya sempat mendengar kabar kelulusanku, memelukku dengan bangga, lalu pergi meninggalkan dunia ini.
Dulu ketika aku merantau jauh dari rumah, setiap langkah yang aku jalani selalu aku kabarkan kepada ibu. Hampir setiap hari aku menelponnya dan meminta beliau mendoakan agar semua urusanku dilancarkan oleh Allah.
Doa ibu selalu menjadi kekuatanku.
Aku masih ingat ketika mengikuti ujian PPG. Saat itu aku meminta ibu untuk berdoa dari rumah dan membaca Al-Qur’an ketika aku sedang mengikuti ujian.
Dari jauh beliau berkata, “Iya Nak, ibu doakan.”
Dan sesuatu yang sampai hari ini masih aku ingat dengan jelas, saat ujian itu berlangsung aku sama sekali tidak mendapatkan pertanyaan apa pun dari dosen penguji. Seolah Allah memudahkan semuanya.
Saat itu aku tahu, itu bukan karena kehebatanku.
Itu karena doa seorang ibu.
Kini doa itu tidak lagi bisa kudengar secara langsung.
Kadang ketika rasa rindu itu datang, aku hanya bisa berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan ibu di dalam mimpi. Dan beberapa kali Allah mengizinkan itu terjadi. Ibu datang dalam mimpiku, seolah mengobati rindu yang selama ini tersimpan di hati.
Memang sedekat itu hubunganku dengan ibu.
Apalagi ketika aku berada di Bandung, beliau sering sekali menelponku. Kami bercerita panjang, tertawa, dan saling menguatkan meskipun dipisahkan oleh jarak.
Sekarang semua itu hanya tinggal kenangan.
Aku rindu, Bu.
Rindu suara ibu.
Rindu pelukan ibu.
Rindu belaian tangan ibu.
Aku masih ingat ketika aku sakit dulu. Ibu selalu tidur di sampingku, membelai badanku dengan penuh kasih sampai aku tertidur dan akhirnya sembuh.
Kini tangan yang dulu selalu menenangkan itu sudah tidak ada lagi.
Yang tersisa hanyalah doa, sedekah, kenangan, dan rindu yang tidak pernah selesai.
Kini setiap langkah yang aku jalani, setiap rezeki yang aku terima, selalu aku niatkan sebagai sedekah dan doa untuk ibu. Semoga setiap kebaikan itu menjadi amal jariyah untuk ibu di sana.
Bu…
kadang aku ingin bercerita banyak hal seperti dulu.
Karena jujur saja…
duniaku sedang tidak baik-baik saja, Bu.
Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan, seperti dulu ketika aku masih bisa menelponmu dan mendengar suaramu yang menenangkan. Dulu setiap kali aku merasa lelah, cukup mendengar suaramu saja rasanya hati ini kembali kuat.
Sekarang semuanya terasa berbeda.
Aku masih menjalani hidup seperti biasa. Bekerja, tersenyum di depan orang lain, dan berusaha terlihat kuat.
Tetapi di dalam hati, ada satu ruang yang selalu kosong sejak ibu pergi.
Kadang aku hanya ingin pulang…
bukan ke rumah,
tetapi ke pelukan ibu.
Ya Allah, ampunilah dosa ibuku, lapangkanlah kuburnya dan terangilah alam kuburnya dengan cahaya dari-Mu.
Ya Allah, tempatkanlah ia di tempat terbaik di sisi-Mu, bersama orang-orang yang Engkau muliakan di surga-Mu.
Ya Allah, jadikanlah setiap doa, sedekah, dan amal kebaikan yang aku lakukan sebagai amal jariyah yang terus mengalir untuk ibuku.
Balaslah semua kasih sayang, pengorbanan, dan doa yang telah ia berikan kepadaku dengan rahmat dan kemuliaan-Mu.
Dan jika Engkau mempertemukan kami kembali suatu hari nanti, pertemukanlah kami di surga-Mu yang penuh kebahagiaan.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.
Kadang aku masih teringat pelukan terakhir itu. Pelukan seorang ibu yang penuh kebanggaan ketika melihat anaknya akhirnya sampai di titik yang selama ini ia doakan.
Bu…
jika doa-doaku sampai kepadamu di sana, ketahuilah bahwa anakmu di sini masih sangat merindukanmu.
Dan jika suatu hari nanti Allah mempertemukan kita kembali, aku hanya ingin satu hal…
memeluk ibu sekali lagi, lebih lama dari pelukan terakhir kita dulu. 🤍
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini
















