Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital

Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital - 567e58f5 9275 47f6 ad7c ceb6ed7d4bf9 | #Doa di Bulan Ramadan | Potret Online
Ilustrasi: Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital


Oleh: Masrur, MA
Mahasiswa S3 PAI, UIN Ar-raniry Banda Aceh

Bulan suci Ramadan kini kembali menyapa umat Islam, bahkan saat ini sudah masuk fase ke tiga (itqum minannar). Ramadan datang dengan membawa harapan baru, rahmat, serta kesempatan untuk memperbaiki diri.

Ramadan selalu hadir sebagai ruang perenungan bagi setiap muslim untuk kembali menata hubungan dengan Allah Swt. Namun, Ramadan di zaman sekarang memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan masa lalu.

Kita hidup di tengah dunia yang dipenuhi teknologi digital, di mana layar gawai hampir tidak pernah jauh dari genggaman.Di satu sisi, kita berusaha menghadirkan kekhusyukan dalam ibadah—berdiri dalam salat, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak dzikir.

Di sisi lain, notifikasi ponsel, pesan media sosial, dan berbagai konten digital terus memanggil perhatian. Inilah realitas kehidupan modern: sajadah dan layar berada sangat dekat dalam kehidupan kita.

Ramadan tidak hanya menguji ketahanan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menguji kemampuan menjaga fokus jiwa di tengah arus distraksi digital yang tidak pernah berhenti.

Allah Swt. telah menjelaskan tujuan puasa dalam firman-Nya:“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa inti dari ibadah puasa adalah melahirkan takwa. Takwa bukan sekadar identitas religius yang tampak dari luar, tetapi kesadaran mendalam bahwa Allah selalu hadir dan mengawasi setiap langkah kehidupan manusia. Takwa berarti kemampuan menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, dan menjaga perilaku meskipun tidak ada manusia yang melihat.

Dalam kehidupan modern, ujian takwa menjadi semakin kompleks. Jika dahulu dosa membutuhkan ruang fisik dan interaksi langsung, kini ia dapat terjadi hanya dengan satu sentuhan layar. Dalam sekejap, seseorang dapat melihat sesuatu yang tidak pantas, menyebarkan kabar yang belum tentu benar, atau menuliskan kata-kata yang melukai orang lain.

Rasulullah Saw. bersabda:
“Puasa adalah perisai.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Perisai ini berfungsi melindungi manusia dari berbagai godaan nafsu dan dorongan emosi yang berlebihan. Namun, sebagaimana perisai dalam peperangan, ia hanya bermanfaat jika digunakan dengan benar.

Jika seseorang berpuasa tetapi tetap larut dalam hal-hal yang tidak bermanfaat, mudah terpancing emosi di media sosial, atau menyebarkan informasi tanpa verifikasi, maka puasa tersebut belum berfungsi sebagai perisai spiritual.

Rasulullah Saw. juga mengingatkan dalam hadis yang lain:“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”(HR. Bukhari)

Pada masa lalu, dusta mungkin terjadi dalam percakapan sehari-hari di pasar atau dalam pertemuan masyarakat. Namun pada era digital, dusta dapat menyebar jauh lebih cepat melalui media sosial.

Hoaks, ujaran kebencian, komentar kasar, dan fitnah digital sering kali beredar tanpa proses tabayyun. Puasa mengajarkan bahwa yang harus ditahan bukan hanya perut, tetapi juga lisan—bahkan jempol yang menulis di layar.
Dalam karya monumentalnya Ihya’ Ulum al-Din,

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa memiliki tiga tingkatan. Pertama, puasa orang awam, yaitu menahan makan dan minum. Kedua, puasa orang khusus, yaitu menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Ketiga, puasa orang paling khusus, yaitu menjaga hati agar tidak berpaling dari Allah.

Baca Juga

Jika dipahami dalam konteks zaman sekarang, menjaga anggota tubuh berarti menjaga mata dari tontonan yang tidak bermanfaat, menjaga telinga dari hal-hal yang merusak moral, serta menjaga tangan dari menyebarkan konten yang tidak membawa kebaikan.

Al-Ghazali mengibaratkan hati manusia seperti cermin. Jika cermin tersebut tertutup debu, maka ia tidak mampu memantulkan cahaya dengan baik. Debu yang menutupi hati di zaman modern sering kali berupa distraksi digital yang terus-menerus menyita perhatian manusia.

Algoritma media sosial dirancang untuk menarik perhatian, memancing emosi, dan membuat seseorang terus kembali menatap layar. Tanpa kesadaran spiritual, manusia dapat terjebak dalam konsumsi konten tanpa batas.

Ramadan seharusnya menjadi waktu untuk membersihkan cermin hati tersebut.
Imam Nawawi, dalam kitab Riyadhus Shalihin, menekankan pentingnya niat dan keikhlasan dalam setiap amal. Beliau mengutip hadis yang sangat terkenal:“Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Di era media sosial, persoalan niat sering menjadi tantangan tersendiri. Banyak orang membagikan aktivitas ibadah seperti salat tarawih, sedekah, atau tadarus Al-Qur’an di media sosial. Hal tersebut tidak selalu salah, bahkan bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Namun yang perlu selalu dijaga adalah keikhlasan hati. Apakah amal tersebut dilakukan semata-mata karena Allah, atau karena ingin mendapatkan pengakuan dari manusia?

Fenomena yang muncul belakangan ini sering disebut sebagai “Ramadan konten”, ketika bulan suci menjadi tren visual di media sosial. Kajian agama berubah menjadi potongan video pendek, dzikir menjadi latar belakang konten, dan nilai spiritual kadang diukur dari jumlah tayangan atau interaksi digital.

Padahal, hakikat Ramadan bukan pada seberapa banyak konten yang dibuat, tetapi seberapa dalam hati tersentuh oleh nilai-nilai ibadah.
Teknologi sebenarnya bukanlah musuh. Ia hanyalah alat.

Teknologi dapat menjadi sarana kebaikan jika digunakan dengan niat yang benar. Melalui teknologi, seseorang dapat mengikuti kajian daring, mendengarkan tilawah Al-Qur’an, membaca literatur keislaman, atau menggalang donasi untuk membantu sesama.

Yang menjadi persoalan bukan keberadaan teknologi itu sendiri, tetapi ketergantungan yang membuat manusia kehilangan kendali atas waktunya. Rasulullah Saw. bersabda:
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.”(HR. Tirmidzi)

ADVERTISEMENT

Hadis ini memberikan pedoman penting dalam menghadapi kehidupan digital. Ramadan adalah waktu terbaik untuk mengevaluasi kembali aktivitas kita. Berapa banyak waktu yang dihabiskan untuk menelusuri media sosial tanpa tujuan?

Berapa banyak energi emosional yang terkuras oleh perdebatan di dunia maya? Dan berapa banyak waktu berharga yang seharusnya dapat diisi dengan ibadah, tetapi justru hilang tanpa makna?

Dalam tradisi tasawuf, Ramadan dikenal sebagai bulan tazkiyatun nafs, yaitu proses penyucian jiwa. Ulama sufi seperti Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam mengingatkan bahwa waktu adalah salah satu karunia terbesar yang diberikan Allah kepada manusia. Kehilangan waktu berarti kehilangan kesempatan untuk mendekat kepada-Nya.

Di era digital, waktu sering menjadi korban pertama. Tanpa terasa, menit berubah menjadi jam hanya karena menatap layar. Ramadan yang seharusnya dipenuhi makna spiritual terkadang justru berlalu tanpa kesan mendalam.

Padahal puasa mengajarkan pengendalian diri. Jika seseorang mampu menahan lapar dan dahaga sepanjang hari, maka seharusnya ia juga mampu menahan diri dari kebiasaan membuka gawai tanpa tujuan.

Ramadan juga mengajarkan pentingnya keheningan. Di tengah kebisingan dunia digital yang dipenuhi notifikasi dan opini, manusia membutuhkan ruang sunyi untuk merenung dan mendekat kepada Allah. Sajadah menjadi simbol dari keheningan tersebut—tempat di mana seorang hamba menundukkan kepala, merendahkan ego, dan menyadari keterbatasan dirinya.

Pada akhirnya, setiap muslim dihadapkan pada pilihan yang sederhana namun penting: apakah layar akan mendominasi waktu ibadah, ataukah ia akan menjadi alat yang tunduk pada nilai spiritual?

Ramadan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan kesempatan untuk menata kembali arah kehidupan. Ia mengajarkan bahwa teknologi boleh hadir dalam kehidupan manusia, tetapi tidak boleh mengambil alih kendali atas hati dan waktunya.

Semoga bulan suci ini yang sudah masuk fase ketiga (fase akhir) menjadi momentum untuk memperkuat takwa, memperdalam keikhlasan, serta menempatkan sajadah kembali sebagai pusat orientasi hidup. Karena pada akhirnya, yang akan dinilai bukan seberapa aktif kita di dunia maya, tetapi seberapa hidup kesadaran kita di hadapan Allah.

Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq

Tulisan ini merupakan tanggung jawab penulis. Pandangan tidak selalu mewakili redaksi.
Penulis
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Naskah Terbaru

IMG_0588
PASIE RAJA: Jejak Darah, Dakwah dan Martabat Perempuan dalam Sejarah Aceh Selatan
6eeb5594-d7a8-483c-adaf-a6783306152a
Gambaran Pangkalan Militer Amerika Serikat di Timteng Usai Diserang Iran
560bc641-222d-47d5-9c36-39283e591af5
Derita Anak Palestina pun Menjadi Lagu
Dari “Jangan Lupa Mati” ke Hidup Bernilai: Transformasi Dakwah Berkeadilan - IMG_0442 | Artikel | Potret Online
Dari “Jangan Lupa Mati” ke Hidup Bernilai: Transformasi Dakwah Berkeadilan
48d7d57b-a685-47a6-bf7f-8bf53ffac0d0
Sekolah Lalu Lintas

Popular Post

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng - 2025 06 18 08 06 29 | #Arsip | Potret Online
1. Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Mengelabui Kata Mulia Untuk Senantiasa Istiqamah - IMG_7093 | # Gaji Guru | Potret Online
2. Mengelabui Kata Mulia Untuk Senantiasa Istiqamah
Kabar Redaksi - IMG 20250130 WA0010 | Haba Mangat | Potret Online
3. Kabar Redaksi
Menanti Buah Hati di Negeri Orang - 2025 08 15 11 28 31 | Artikel | Potret Online
4. Menanti Buah Hati di Negeri Orang
Mengintegrasikan Pendidikan Kebangsaan Indonesia dalam Pelatihan Beauty Queen yang Berbudaya dan Berkepribadian Indonesia - 1000893856_11zon | Artikel | Potret Online
5. Mengintegrasikan Pendidikan Kebangsaan Indonesia dalam Pelatihan Beauty Queen yang Berbudaya dan Berkepribadian Indonesia

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.