Dengarkan Artikel
Oleh: Nurul Hikmah, S.Pd.I., M.A
Sejarah para nabi dalam Al-Qur’an tidak hanya menceritakan tentang dakwah dan perjuangan mereka dalam menyampaikan risalah Allah, tetapi juga menggambarkan berbagai bentuk kemajuan peradaban pada masa tersebut. Kisah para nabi sering menunjukkan bagaimana manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan dan sumber daya alam untuk menciptakan berbagai kemudahan dalam kehidupan.
Salah satu contoh yang menarik adalah kisah tentang kecanggihan teknologi pada zaman Nabi Daud dan putranya, Nabi Sulaiman. Kedua nabi ini digambarkan memiliki kemampuan luar biasa dalam memanfaatkan sumber daya alam dan mengembangkan berbagai bentuk teknologi yang bahkan terasa melampaui pemahaman manusia modern.
Nabi Daud dikenal sebagai manusia pertama yang mampu mengolah besi menjadi teknologi yang bermanfaat bagi kehidupan. Al-Qur’an menyebutkan bahwa Allah melembutkan besi untuk Nabi Daud sehingga beliau dapat membentuknya dengan mudah sesuai kebutuhan. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah pada Surah Saba’ ayat 10–11 yang menyebutkan bahwa Nabi Daud diperintahkan untuk membuat baju besi yang sempurna serta mengukurnya dengan baik.
Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa pada masa Nabi Daud telah berkembang teknologi pengolahan logam yang cukup maju. Kemampuan ini menjadikan Nabi Daud sebagai pelopor dalam pembuatan perlengkapan perlindungan seperti baju zirah yang digunakan dalam peperangan. Pada masa itu, baju besi merupakan teknologi penting yang memberikan perlindungan bagi para prajurit serta meningkatkan kemampuan pertahanan suatu kerajaan.
Selain mewariskan kerajaan yang besar kepada putranya, Nabi Sulaiman, Nabi Daud juga mewariskan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di tangan Nabi Sulaiman, teknologi tersebut berkembang lebih pesat dan digunakan untuk membangun berbagai fasilitas yang megah dan bermanfaat bagi masyarakat. Al-Qur’an dalam Surah Saba’ ayat 13 menyebutkan bahwa berbagai bangunan tinggi, patung, piring besar seperti kolam, serta periuk-periuk besar dibuat untuk Nabi Sulaiman. Hal ini menunjukkan bahwa pada masa itu telah berkembang kemampuan konstruksi, arsitektur, dan pengolahan logam yang sangat maju.
Dalam kisah lain disebutkan bahwa terdapat sesuatu yang memiliki kaki dan leher yang pernah membuat Nabi Sulaiman terlena hingga hampir melupakan zikir kepada Allah. Hal ini disebutkan dalam Surah Shad ayat 32. Ayat tersebut menggambarkan bahwa kecintaan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi dapat membuat manusia lalai dari mengingat Tuhannya.
Para penafsir sering mengaitkan ayat ini dengan kuda-kuda yang sangat cepat dan kuat milik Nabi Sulaiman. Namun, ada juga kemungkinan bahwa hal tersebut merujuk pada bentuk teknologi tertentu yang menyerupai hewan atau kendaraan. Kata ganti “-ha” dalam ayat tersebut bersifat muannas sehingga dapat merujuk kepada kuda ataupun sesuatu yang berbentuk lain yang merupakan bentuk dari replika teknologi.
Salah satu kisah yang paling menarik adalah kemampuan memindahkan singgasana Ratu Saba dalam waktu yang sangat singkat. Dalam Surah Al-Naml ayat 40 disebutkan bahwa seseorang yang memiliki ilmu dari Al-Kitab mampu membawa singgasana tersebut kepada Nabi Sulaiman sebelum mata berkedip.
Jika dianalogikan dengan zaman sekarang, manusia baru mampu memindahkan data digital dalam waktu yang sangat cepat melalui internet atau jaringan komunikasi modern. Namun dalam kisah tersebut, yang dipindahkan adalah benda fisik yang sangat besar. Hal ini sering dianalogikan sebagai bentuk pemindahan benda secara instan yang dalam ilmu modern sering diibaratkan dengan konsep teleportasi. Sayangnya, kecanggihan tersebut sering disamarkan seolah-olah pemindahan istana dengan jarak 2000 mil dalam waktu sepersekian detik tersebut dilakukan oleh Jin Ifrit bukan manusia.
Selain itu, Nabi Sulaiman juga dikenal memiliki kemampuan mengendalikan angin. Al-Qur’an menyebutkan bahwa angin ditundukkan oleh Allah untuk Nabi Sulaiman sehingga perjalanan pada waktu pagi setara dengan perjalanan satu bulan, dan perjalanan pada waktu sore juga setara dengan perjalanan satu bulan. Hal ini disebutkan dalam Surah Saba’ ayat 12. Gambaran ini menunjukkan bahwa Nabi Sulaiman memiliki sarana transportasi yang sangat cepat.
Jika dianalogikan dengan masa kini, hal tersebut dapat dianggap seperti teknologi transportasi yang memanfaatkan energi angin atau kendaraan yang mampu menempuh jarak sangat jauh dalam waktu singkat melampaui superjet tercanggih.
Kecanggihan lain yang dimiliki Nabi Sulaiman adalah kemampuannya memahami bahasa binatang. Dalam Surah Al-Naml ayat 18–19 diceritakan bahwa ketika pasukan Nabi Sulaiman sampai di lembah semut, seekor semut memperingatkan koloninya agar segera masuk ke sarang agar tidak terinjak oleh pasukan.
Nabi Sulaiman kemudian tersenyum karena mendengar perkataan semut tersebut. Kemampuan memahami komunikasi makhluk lain ini menunjukkan tingkat pengetahuan dan kepekaan yang luar biasa terhadap alam.
Selain memimpin manusia, Nabi Sulaiman juga memimpin pasukan yang terdiri dari burung dan jin. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa para jin bekerja untuk beliau dalam berbagai pekerjaan, seperti membangun bangunan besar dan membuat berbagai peralatan dari logam. Dengan kekuatan dan kemampuan yang dimiliki, para jin membantu merancang serta membangun berbagai teknologi dan infrastruktur yang megah dari logam peninggalan Nabi Daud.
Jika dirangkum, beberapa kecanggihan pada zaman Nabi Sulaiman antara lain kemampuan mengendalikan angin sebagai sarana transportasi, kemampuan memindahkan benda besar dalam waktu sangat singkat, kemampuan memahami dan berkomunikasi dengan binatang, serta kemampuan mengendalikan jin yang membantu merancang berbagai teknologi. Semua kemampuan ini menunjukkan tingkat peradaban yang sangat tinggi pada masa tersebut.
Kisah-kisah ini juga mengingatkan manusia bahwa kemajuan ilmu dan teknologi pada hakikatnya berasal dari Allah. Dalam Surah Saba’ ayat 45 Allah mengingatkan bahwa apa yang dialami oleh manusia pada masa sekarang bahkan belum mencapai sepersepuluh dari apa yang telah diberikan kepada umat-umat terdahulu.
Oleh karena itu, manusia hendaknya menyadari bahwa segala ilmu, kemampuan, dan teknologi yang dimiliki hanyalah bagian kecil dari karunia Allah. Manusia hanya dapat memanfaatkannya sesuai dengan izin dan kehendak-Nya, serta harus menggunakannya untuk kebaikan dan kemaslahatan umat manusia. Wallahu a’lam
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini















