Dengarkan Artikel
Oleh: Dr. Ir. TM Zulfikar, S.T., M.P., IPU. (Praktisi dan Akademisi Lingkungan Aceh)
Aceh sering dipuji sebagai benteng terakhir hutan di Sumatera. Dalam berbagai forum, dari seminar akademik hingga pidato pejabat, narasi “Aceh Hijau” terdengar begitu meyakinkan. Seolah-olah Aceh adalah penjaga terakhir ekosistem hutan tropis yang tersisa di pulau ini.
Namun jika kita sedikit menyingkirkan slogan dan melihat data di lapangan, pertanyaan yang muncul menjadi jauh lebih menggelitik: apakah Aceh benar-benar masih hijau, atau kita sedang perlahan menuju Aceh yang gundul?
Pertanyaan ini bukan sekadar retorika. Ia adalah refleksi dari realitas lingkungan yang sedang kita hadapi.
Hutan Aceh: Masih Luas, Tapi Terus Menyusut
Catatan saya, secara statistik Aceh memang masih relatif beruntung. Tutupan hutan provinsi ini masih sekitar 2,9 juta hektare, atau lebih dari setengah wilayah Aceh. Angka ini menjadikan Aceh sebagai salah satu wilayah dengan tutupan hutan terbesar yang tersisa di Sumatera.
Namun angka besar ini sering menipu. Yang lebih penting bukan hanya berapa luas hutan yang tersisa, tetapi seberapa cepat hutan itu hilang setiap tahun.
Data pemantauan dari berbagai organisasi lingkungan yang saya catat menunjukkan tren yang tidak bisa dianggap remeh:
2023: sekitar 8.900 hektare hutan hilang
2024: meningkat menjadi sekitar 10.600 hektare
2025: melonjak tajam hingga sekitar 39.000 hektare kehilangan tutupan hutan
Lonjakan tahun 2025 menjadi alarm serius karena merupakan salah satu kehilangan hutan terbesar dalam satu dekade terakhir di Aceh.
Sebagian besar kehilangan ini bukan hanya di area penggunaan lain, bahkan terjadi juga di dalam kawasan hutan negara, termasuk kawasan lindung dan kawasan konservasi.
Yang lebih mengkhawatirkan lagi, sebagian besar kerusakan itu terjadi di Kawasan Ekosistem Leuser, bentang alam yang dikenal sebagai salah satu kawasan hutan tropis paling penting di dunia. Di tempat inilah empat satwa langka, orangutan, harimau, gajah, dan badak Sumatra, masih hidup dalam satu ekosistem yang sama.
Ketika kawasan seperti ini mulai tergerus, yang hilang bukan sekadar pohon. Yang hilang adalah sistem kehidupan yang terbentuk selama ribuan tahun.
Dari Hutan Hilang ke Bencana
Hubungan antara hutan dan bencana sebenarnya sudah lama dipahami dalam ilmu lingkungan. Hutan bukan hanya kumpulan pohon, tetapi sistem alami yang mengatur air, tanah, dan iklim mikro.
Ketika hutan ditebang, tanah kehilangan kemampuan menyerap air. Air hujan yang seharusnya tertahan oleh akar pohon langsung mengalir ke sungai. Akibatnya, sungai cepat meluap dan membawa material tanah.
Itulah sebabnya banyak bencana banjir dan longsor di berbagai daerah kini lebih tepat disebut bencana ekologis.
Di Aceh sendiri tercatat puluhan titik rawan banjir yang tersebar di lebih dari 30 daerah aliran sungai (DAS). Di banyak DAS tersebut terjadi perubahan tutupan hutan menjadi non-hutan dalam beberapa tahun terakhir.
Artinya sederhana:
ketika hutan di hulu hilang, masyarakat di hilir yang membayar harganya.
Antara Narasi Hijau dan Realitas Lapangan
Ironi lingkungan Aceh sering muncul dalam satu kontras yang jelas.
Di satu sisi, pemerintah dan berbagai pihak berbicara tentang:
pembangunan berkelanjutan
ekonomi hijau
komitmen terhadap perubahan iklim
Namun di sisi lain, praktik di lapangan menunjukkan cerita yang berbeda.
Perambahan hutan masih terjadi.
Pembukaan kebun baru terus berjalan.
Tambang ilegal muncul di berbagai tempat.
Infrastruktur menembus kawasan yang sebelumnya relatif utuh.
Dalam banyak kasus, kerusakan ini bukan terjadi secara diam-diam. Ia sering terjadi di depan mata kita semua.
Masalahnya bukan karena kita tidak tahu.
Masalahnya adalah antara mengetahui dan bertindak sering terdapat jarak yang sangat jauh.
Lingkungan Sering Kalah oleh Kepentingan Jangka Pendek
Menjaga lingkungan sebenarnya bukan perkara teknis semata. Ilmu tentang konservasi sudah sangat jelas. Data tentang deforestasi juga tersedia.
Yang sering menjadi masalah adalah keberanian mengambil keputusan.
Menjaga hutan berarti berani melakukan hal-hal yang tidak selalu populer:
menolak izin yang berpotensi merusak kawasan hutan
menindak tegas perambahan
menghentikan aktivitas tambang ilegal
melindungi kawasan hulu sungai
Namun dalam praktik pembangunan, lingkungan sering kalah oleh kepentingan ekonomi jangka pendek.
Padahal sejarah di banyak tempat sudah menunjukkan satu pelajaran penting:
kerusakan lingkungan mungkin memberi keuntungan cepat, tetapi dampaknya jauh lebih mahal dalam jangka panjang.
Aceh Masih Memiliki Kesempatan
Meski menghadapi tekanan yang besar, Aceh sebenarnya masih memiliki peluang besar untuk menjaga hutannya.
Dibandingkan banyak wilayah lain di Sumatera, tutupan hutan Aceh masih relatif luas. Ini berarti Aceh masih memiliki sesuatu yang sangat berharga: kesempatan.
Namun kesempatan itu tidak akan bertahan selamanya.
Kerusakan hutan biasanya terjadi secara perlahan. Ketika dampaknya benar-benar terasa, sering kali semuanya sudah terlambat.
Alam Tidak Pernah Percaya Slogan
Pada akhirnya, lingkungan tidak pernah tertipu oleh slogan.
Hutan tidak peduli dengan pidato.
Sungai tidak membaca dokumen kebijakan.
Gunung tidak mengikuti seminar.
Alam hanya merespons satu hal: apa yang benar-benar kita lakukan.
Karena itu pertanyaan tentang masa depan lingkungan Aceh sebenarnya sangat sederhana:
apakah Aceh akan tetap hijau, atau perlahan menjadi gundul?
Jawabannya tidak ditentukan oleh slogan, tetapi oleh keputusan apa yang akan kita ambil hari ini.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini















