• Latest
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

March 12, 2026
What is Scholasticide?

Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel

March 12, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

March 12, 2026
Menjadi Insan Bertasawuf

Menjadi Insan Bertasawuf

March 12, 2026
Aceh Bangkit atau Tertinggal: Saatnya Menata Ulang Arah Pendidikan

Aceh Bangkit atau Tertinggal: Saatnya Menata Ulang Arah Pendidikan

March 12, 2026
Lurah Jepang di Meulaboh

Lurah Jepang di Meulaboh

March 10, 2026

Tadarus – Surah Al-Baqarah ayat 11

March 10, 2026

Bedah Buku – Kitab al-Shifa

March 10, 2026
Laki-Laki dari Tanah Zamrud

Laki-Laki dari Tanah Zamrud

March 10, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

Redaksi by Redaksi
March 12, 2026
in Aceh, Artikel, Hutan, Hutan Nanggroe, kerusakan hutan, Lingkungan, Penebangan hutan
0
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dr. Ir. TM Zulfikar, S.T., M.P., IPU. (Praktisi dan Akademisi Lingkungan Aceh)

Aceh sering dipuji sebagai benteng terakhir hutan di Sumatera. Dalam berbagai forum, dari seminar akademik hingga pidato pejabat, narasi “Aceh Hijau” terdengar begitu meyakinkan. Seolah-olah Aceh adalah penjaga terakhir ekosistem hutan tropis yang tersisa di pulau ini.

Baca Juga

What is Scholasticide?

Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel

March 12, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

March 12, 2026

Namun jika kita sedikit menyingkirkan slogan dan melihat data di lapangan, pertanyaan yang muncul menjadi jauh lebih menggelitik: apakah Aceh benar-benar masih hijau, atau kita sedang perlahan menuju Aceh yang gundul?

Pertanyaan ini bukan sekadar retorika. Ia adalah refleksi dari realitas lingkungan yang sedang kita hadapi.

Hutan Aceh: Masih Luas, Tapi Terus Menyusut

Catatan saya, secara statistik Aceh memang masih relatif beruntung. Tutupan hutan provinsi ini masih sekitar 2,9 juta hektare, atau lebih dari setengah wilayah Aceh. Angka ini menjadikan Aceh sebagai salah satu wilayah dengan tutupan hutan terbesar yang tersisa di Sumatera.

Namun angka besar ini sering menipu. Yang lebih penting bukan hanya berapa luas hutan yang tersisa, tetapi seberapa cepat hutan itu hilang setiap tahun.

Data pemantauan dari berbagai organisasi lingkungan yang saya catat menunjukkan tren yang tidak bisa dianggap remeh:

2023: sekitar 8.900 hektare hutan hilang

2024: meningkat menjadi sekitar 10.600 hektare

2025: melonjak tajam hingga sekitar 39.000 hektare kehilangan tutupan hutan

Lonjakan tahun 2025 menjadi alarm serius karena merupakan salah satu kehilangan hutan terbesar dalam satu dekade terakhir di Aceh.

Sebagian besar kehilangan ini bukan hanya di area penggunaan lain, bahkan terjadi juga di dalam kawasan hutan negara, termasuk kawasan lindung dan kawasan konservasi.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi, sebagian besar kerusakan itu terjadi di Kawasan Ekosistem Leuser, bentang alam yang dikenal sebagai salah satu kawasan hutan tropis paling penting di dunia. Di tempat inilah empat satwa langka, orangutan, harimau, gajah, dan badak Sumatra, masih hidup dalam satu ekosistem yang sama.

Ketika kawasan seperti ini mulai tergerus, yang hilang bukan sekadar pohon. Yang hilang adalah sistem kehidupan yang terbentuk selama ribuan tahun.

Dari Hutan Hilang ke Bencana

Hubungan antara hutan dan bencana sebenarnya sudah lama dipahami dalam ilmu lingkungan. Hutan bukan hanya kumpulan pohon, tetapi sistem alami yang mengatur air, tanah, dan iklim mikro.

Ketika hutan ditebang, tanah kehilangan kemampuan menyerap air. Air hujan yang seharusnya tertahan oleh akar pohon langsung mengalir ke sungai. Akibatnya, sungai cepat meluap dan membawa material tanah.

Itulah sebabnya banyak bencana banjir dan longsor di berbagai daerah kini lebih tepat disebut bencana ekologis.

Di Aceh sendiri tercatat puluhan titik rawan banjir yang tersebar di lebih dari 30 daerah aliran sungai (DAS). Di banyak DAS tersebut terjadi perubahan tutupan hutan menjadi non-hutan dalam beberapa tahun terakhir.

Artinya sederhana:
ketika hutan di hulu hilang, masyarakat di hilir yang membayar harganya.

Antara Narasi Hijau dan Realitas Lapangan

📚 Artikel Terkait

Fenomena Politik Simbolik:Pergeseran Politik Ke Arah Panggung Performatif Dan Post-Truth

Menjadi Guru Influencer yang Berdampak bagi Peserta Didik dan Ekosistem Pendidikan

YANG TAK MAU TERKUBUR DI DAPUR

Ketika Sumatera Menangis, Sastra Menjadi Saksi

Ironi lingkungan Aceh sering muncul dalam satu kontras yang jelas.

Di satu sisi, pemerintah dan berbagai pihak berbicara tentang:

pembangunan berkelanjutan

ekonomi hijau

komitmen terhadap perubahan iklim

Namun di sisi lain, praktik di lapangan menunjukkan cerita yang berbeda.

Perambahan hutan masih terjadi.
Pembukaan kebun baru terus berjalan.
Tambang ilegal muncul di berbagai tempat.
Infrastruktur menembus kawasan yang sebelumnya relatif utuh.

Dalam banyak kasus, kerusakan ini bukan terjadi secara diam-diam. Ia sering terjadi di depan mata kita semua.

Masalahnya bukan karena kita tidak tahu.
Masalahnya adalah antara mengetahui dan bertindak sering terdapat jarak yang sangat jauh.

Lingkungan Sering Kalah oleh Kepentingan Jangka Pendek

Menjaga lingkungan sebenarnya bukan perkara teknis semata. Ilmu tentang konservasi sudah sangat jelas. Data tentang deforestasi juga tersedia.

Yang sering menjadi masalah adalah keberanian mengambil keputusan.

Menjaga hutan berarti berani melakukan hal-hal yang tidak selalu populer:

menolak izin yang berpotensi merusak kawasan hutan

menindak tegas perambahan

menghentikan aktivitas tambang ilegal

melindungi kawasan hulu sungai

Namun dalam praktik pembangunan, lingkungan sering kalah oleh kepentingan ekonomi jangka pendek.

Padahal sejarah di banyak tempat sudah menunjukkan satu pelajaran penting:
kerusakan lingkungan mungkin memberi keuntungan cepat, tetapi dampaknya jauh lebih mahal dalam jangka panjang.

Aceh Masih Memiliki Kesempatan

Meski menghadapi tekanan yang besar, Aceh sebenarnya masih memiliki peluang besar untuk menjaga hutannya.

Dibandingkan banyak wilayah lain di Sumatera, tutupan hutan Aceh masih relatif luas. Ini berarti Aceh masih memiliki sesuatu yang sangat berharga: kesempatan.

Namun kesempatan itu tidak akan bertahan selamanya.

Kerusakan hutan biasanya terjadi secara perlahan. Ketika dampaknya benar-benar terasa, sering kali semuanya sudah terlambat.

Alam Tidak Pernah Percaya Slogan

Pada akhirnya, lingkungan tidak pernah tertipu oleh slogan.

Hutan tidak peduli dengan pidato.
Sungai tidak membaca dokumen kebijakan.
Gunung tidak mengikuti seminar.

Alam hanya merespons satu hal: apa yang benar-benar kita lakukan.

Karena itu pertanyaan tentang masa depan lingkungan Aceh sebenarnya sangat sederhana:

apakah Aceh akan tetap hijau, atau perlahan menjadi gundul?

Jawabannya tidak ditentukan oleh slogan, tetapi oleh keputusan apa yang akan kita ambil hari ini.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 77x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 66x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 63x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 55x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Terkait

What is Scholasticide?

Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel

by Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
March 12, 2026
0

Al Chaidar Abdurrahman PutehDosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh Genosida yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina bukan sekadar tragedi kemanusiaan, melainkan ujian moral dan politik bagi dunia internasional....

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

by Redaksi
March 12, 2026
0

Oleh Masrur Salamuddin Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 135/PUU-XXII/2024 menandai titik balik penting dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia, khususnya dalam desain penyelenggaraan pemilihan umum. Mulai 2029, keserentakan Pemilu nasional dan...

Menjadi Insan Bertasawuf

Menjadi Insan Bertasawuf

by Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag.
March 12, 2026
0

Oleh: Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag.t Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Ramadhan selalu datang membawa suasana yang berbeda dalam kehidupan...

Aceh Bangkit atau Tertinggal: Saatnya Menata Ulang Arah Pendidikan

Aceh Bangkit atau Tertinggal: Saatnya Menata Ulang Arah Pendidikan

by Hanif Arsyad
March 12, 2026
0

Oleh: Hanif Arsyad  Akademisi Universitas Malikussaleh dan Penggiat literasi Di tengah berbagai evaluasi tentang kualitas pendidikan di Aceh, satu pertanyaan penting muncul: ke mana sebenarnya arah pendidikan kita? ...

Next Post
Menjadi Insan Bertasawuf

Menjadi Insan Bertasawuf

Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Tentang Kami
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Punya tulisan menarik?
Kirim ke Redaksi via WhatsApp
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com