• Latest
Aceh Bangkit atau Tertinggal: Saatnya Menata Ulang Arah Pendidikan

Aceh Bangkit atau Tertinggal: Saatnya Menata Ulang Arah Pendidikan

March 12, 2026
What is Scholasticide?

Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel

March 12, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

March 12, 2026
Menjadi Insan Bertasawuf

Menjadi Insan Bertasawuf

March 12, 2026
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

March 12, 2026
Lurah Jepang di Meulaboh

Lurah Jepang di Meulaboh

March 10, 2026

Tadarus – Surah Al-Baqarah ayat 11

March 10, 2026

Bedah Buku – Kitab al-Shifa

March 10, 2026
Laki-Laki dari Tanah Zamrud

Laki-Laki dari Tanah Zamrud

March 10, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Aceh Bangkit atau Tertinggal: Saatnya Menata Ulang Arah Pendidikan

Hanif Arsyad by Hanif Arsyad
March 12, 2026
in Aceh, Artikel, Dinas Pendidikan Aceh, pendidikan Aceh
0
Aceh Bangkit atau Tertinggal: Saatnya Menata Ulang Arah Pendidikan
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh: Hanif Arsyad 

Akademisi Universitas Malikussaleh dan Penggiat literasi

Baca Juga

What is Scholasticide?

Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel

March 12, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

March 12, 2026

Di tengah berbagai evaluasi tentang kualitas pendidikan di Aceh, satu pertanyaan penting muncul: ke mana sebenarnya arah pendidikan kita? 

Data statistik menunjukkan bahwa akses pendidikan di provinsi ini sebenarnya cukup baik, akan tetapi kualitas hasil belajar masih tertinggal.

Menurut data Badan Pusat Statistik, angka partisipasi sekolah anak usia 7–12 tahun di Aceh sudah mencapai sekitar 99 persen, dan usia 13–15 tahun berada di kisaran 97 persen. Artinya, hampir seluruh anak Aceh masuk sekolah dasar dan menengah pertama. Namun ketika memasuki jenjang SMA, angka partisipasi turun menjadi sekitar 81 persen. Ribuan siswa setiap tahun berhenti sebelum menyelesaikan pendidikan menengah.

Masalah yang lebih serius terlihat pada kualitas pembelajaran. Evaluasi akademik nasional yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menunjukkan capaian siswa Aceh masih berada di kelompok bawah nasional dalam literasi, numerasi, dan kemampuan bahasa Inggris. Rata-rata nilai matematika dan literasi siswa Aceh bahkan berada di bawah rata-rata nasional.

Selama beberapa dekade terakhir, sistem pendidikan di Indonesia cenderung berkiblat pada model Barat—mengadopsi konsep kebebasan belajar, fleksibilitas kurikulum, dan berbagai pendekatan pedagogis modern. Namun praktiknya sering tidak konsisten. Setiap pergantian pemerintahan hampir selalu diikuti oleh perubahan kebijakan pendidikan: kurikulum berganti, program baru diluncurkan, lalu diganti lagi sebelum sempat matang.

Akibatnya, pendidikan berjalan seperti eksperimen yang tak pernah selesai.

Sementara itu, di negeri tirai bambu memilih jalur berbeda. Selama lebih dari empat dekade, Cina menyiapkan sistem pendidikan yang sangat terstruktur. Sejak masa reformasi ekonomi di bawah Deng Xiaoping pada akhir 1970-an, pemerintah Republik Rakyat Cina secara konsisten membangun fondasi sumber daya manusia melalui disiplin pendidikan yang kuat.

Prinsipnya sederhana: anak dilatih sebelum diberi kebebasan. Dalam banyak keluarga dan sekolah di Cina, anak-anak tidak langsung diberikan ruang memilih tanpa batas. Mereka lebih dahulu dilatih dalam disiplin belajar, ketekunan, dan penguasaan keterampilan dasar. Struktur dan latihan dianggap sebagai fondasi. Kebebasan datang kemudian setelah kemampuan terbentuk.

Berbeda dengan kecenderungan di sebagian sistem pendidikan Barat, di mana kebebasan sering diberikan lebih awal, bahkan sebelum anak benar-benar siap membuat keputusan penting tentang masa depan akademiknya.

Dari pendekatan ini lahir beberapa prinsip yang sering disebut sebagai rahasia keberhasilan pendidikan Cina.

📚 Artikel Terkait

Nyalanesia Lakukan Webinar Sekolah Aktif Literasi Nasional

Kuliah Siap,Wirausaha Dapat

Ayah Luka Pertamaku – Ulasan Puisi

Hikmah Tahun Baru Islam 1443 H

Pertama, disiplin mendahului kebebasan. 

Anak-anak dibiasakan dengan jadwal belajar yang ketat dan target yang jelas.

Kedua, keterampilan dilatih sebelum otonomi diberikan. Penguasaan matematika, sains, dan literasi dianggap sebagai pondasi yang tidak bisa ditawar.

Ketiga, fokus pada kerja keras, bukan sekadar bakat. Anak-anak didorong untuk percaya bahwa keberhasilan bukan semata hasil talenta alami, melainkan buah dari latihan yang konsisten.

Prinsip-prinsip ini membuat generasi muda Cina tumbuh dengan mentalitas jangka panjang: belajar bukan sekadar untuk ujian, melainkan untuk membangun kapasitas masa depan.

Tentu saja, sistem pendidikan tidak bisa disalin mentah-mentah dari satu negara ke negara lain. Setiap daerah, khususnya Aceh memiliki konteks budaya, sosial, dan sejarah yang berbeda. Namun pendekatan disiplin dan konsistensi kebijakan dari Cina setidaknya memberi pelajaran penting: pembangunan pendidikan membutuhkan visi jangka panjang yang tidak mudah berubah.

Pelajaran ini relevan bagi Aceh.

Selama ini, dinamika pendidikan nasional sering membuat daerah hanya menjadi pelaksana kebijakan pusat. Kurikulum berubah, metode pembelajaran diperbarui, program pelatihan guru diperkenalkan—semuanya mengikuti arah kebijakan nasional yang terus berganti. Akibatnya, fokus pembangunan pendidikan di daerah sering terpecah.

Padahal Aceh memiliki peluang untuk merumuskan pendekatan yang lebih kontekstual. Dengan kewenangan otonomi yang relatif lebih luas dan dukungan anggaran yang cukup besar, Aceh dapat mengembangkan model pendidikan yang menekankan tiga hal: disiplin belajar, pemerataan akses, dan kualitas guru.

Slogan yang diusung oleh Dinas Pendidikan Aceh—Aceh Bangkit—tidak akan berarti banyak jika sektor pendidikan tidak benar-benar dibenahi. Kebangkitan Aceh bukan hanya soal pembangunan infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi. Ia harus dimulai dari ruang kelas, dari sekolah-sekolah di kota hingga pelosok pedalaman.

Pendidikan yang adil berarti anak-anak di daerah terpencil memiliki kualitas pembelajaran yang sama dengan mereka yang belajar di pusat kota. Pendidikan yang kuat berarti siswa dilatih untuk berpikir, bekerja keras, dan membangun karakter.

Di sinilah pelajaran dari Cina menjadi relevan: keberhasilan pendidikan bukan lahir dari kebebasan tanpa arah, melainkan dari struktur yang jelas, disiplin yang konsisten, dan visi jangka panjang.

Aceh mungkin tidak perlu meniru Cina sepenuhnya. Namun jika ingin bangkit melalui pendidikan, satu hal yang pasti: perubahan tidak cukup hanya dengan mengganti kurikulum atau slogan semata.

Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk membangun budaya belajar yang lebih kuat dimulai dari disiplin, kerja keras, dan komitmen jangka panjang terhadap kualitas pendidikan generasi muda Aceh.

’Ramadhan Kareem’

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 77x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 66x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 63x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 55x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235
Hanif Arsyad

Hanif Arsyad

Hanif Arsyad adalah lulusan Magister Pendidikan Bahasa Inggris USK, berpengalaman sebagai dosen, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya aktif menulis di bidang pendidikan karakter, pengembangan SDM, serta kajian kebahasaan dan sosial. Saat ini, saya mengajar di Universitas Malikussaleh dan Hanna English School sebagai owner yang berlokasi di Aceh Utara. Saya juga menjabat sebagai Koordinator Yayasan Askar Ramadhan di Aceh yang bergerak di bidang sosial, serta dipercaya sebagai Kepala Sekolah Akademi Berbagi untuk klaster Aceh Utara dan Lhokseumawe. Keahlian saya mencakup penulisan ilmiah, editing, dan pendampingan riset.

Terkait

What is Scholasticide?

Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel

by Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
March 12, 2026
0

Al Chaidar Abdurrahman PutehDosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh Genosida yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina bukan sekadar tragedi kemanusiaan, melainkan ujian moral dan politik bagi dunia internasional....

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

by Redaksi
March 12, 2026
0

Oleh Masrur Salamuddin Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 135/PUU-XXII/2024 menandai titik balik penting dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia, khususnya dalam desain penyelenggaraan pemilihan umum. Mulai 2029, keserentakan Pemilu nasional dan...

Menjadi Insan Bertasawuf

Menjadi Insan Bertasawuf

by Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag.
March 12, 2026
0

Oleh: Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag.t Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Ramadhan selalu datang membawa suasana yang berbeda dalam kehidupan...

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

by Redaksi
March 12, 2026
0

Oleh: Dr. Ir. TM Zulfikar, S.T., M.P., IPU. (Praktisi dan Akademisi Lingkungan Aceh) Aceh sering dipuji sebagai benteng terakhir hutan di Sumatera. Dalam berbagai forum, dari seminar akademik...

Next Post
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?

Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Tentang Kami
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Punya tulisan menarik?
Kirim ke Redaksi via WhatsApp
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com