• Latest
Tradisi Buka Puasa Bersama Semakin Membumi

Tradisi Buka Puasa Bersama Semakin Membumi

Maret 4, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Tradisi Buka Puasa Bersama Semakin Membumi

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Maret 4, 2026
in Esai, Mozaik Ramadan, Ramadan
Reading Time: 3 mins read
0
Tradisi Buka Puasa Bersama Semakin Membumi
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Ramadan itu unik. Siangnya kita menahan lapar, haus, dan godaan. Malamnya kita menahan diri untuk tidak menambah dua piring lagi. Di antara dua kutub itu, lahirlah satu tradisi yang makin hari makin sakral, buka puasa bersama. Bukber. Sebuah ritual sosial yang kadang lebih heboh dari rapat paripurna, lebih ramai dari seminar nasional, dan lebih strategis dari lobi politik kelas kakap.

Dalam dua hari terakhir, saya ikut dua episode “drama kolosal” itu.

Pertama, di Hotel Orchardz Pontianak. Diundang oleh H. Ahmad Kholil, bos Muzdalifah Tour and Travel. Saya melangkah masuk dengan perasaan seperti mahasiswa baru nyasar ke ruang dosen besar. Di ruangan itu berkumpul para pemilik travel umrah ternama. Orang-orang yang tiap musim bisa memberangkatkan ribuan jamaah ke Tanah Suci. Mereka berbicara tentang kuota, visa, tiket, hotel, regulasi. Bukan obrolan receh. Itu obrolan yang kalau dikonversi ke rupiah, mungkin bunyinya bisa bikin dompet saya minta perlindungan saksi.

Saya? Kang ngopi. Duduk manis. Nyempil di belakang. Berada di tengah orang-orang tajir yang mungkin omzetnya bisa bikin grafik ekonomi naik sendiri tanpa bantuan doa qunut. Tapi di situlah letak keindahannya. Saya belajar, bisnis umrah bukan sekadar spanduk pelepasan dan koper seragam. Di baliknya ada manajemen rapi, kalkulasi kurs dolar yang bisa naik-turun seperti emosi netizen, ada strategi menghadapi regulasi, ada seni menjaga kepercayaan jamaah. Mengantar orang beribadah ternyata butuh kecerdasan finansial, kecermatan hukum, dan ketahanan mental. Saya kagum. Ternyata dunia ini digerakkan oleh orang-orang yang bekerja dalam sunyi, tapi dampaknya sampai ke langit.

Bukber kedua tak kalah mengguncang batin. Undangan datang dari jajaran Kementerian Kehutanan yang menjalankan Forest Programme di Kabupaten Sanggau, Kalbar. Lokasinya di Kafe Periok, Jalan Sungai Raya Dalam, Kubu Raya. Awalnya saya tak kenal siapa-siapa. Saya datang dengan niat sederhana, silaturahmi dan jangan salah ambil minuman orang.

Ternyata yang mengundang adalah Pak Julmansyah. Beliau ingin kenalan. Katanya, beliau penggemar tulisan-tulisan saya. Saya senyum, antara terharu dan takut geer. Lebih mengejutkan lagi, ada anak buahnya yang hafal istilah “Koptagul”. Saya pikir istilah itu cuma berseliweran di kepala pembaca setia. Ternyata sudah menembus dinding kantor kementerian. Dunia literasi memang tak kenal sekat.

Baca Juga

76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
8ebfa6ab-7ef6-4c91-be8a-443b7a9d1588

Ramadan, Rindu dan Gema Takbir di Negeri Seribu Menara

Maret 26, 2026

Pak Julmansyah sendiri seorang penulis buku. Di momen itu beliau menghadiahi saya buku tebal berjudul Sumbawa-Masyarakat dan Budaya. Tebalnya seperti skripsi yang tidak mengenal kata ringkas. Isinya tentang masyarakat dan budaya, tentang denyut kehidupan yang sering luput dari headline. Saya menerimanya dengan rasa hormat. Di meja bukber itu, ilmu pengetahuan duduk berdampingan dengan es buah dan gorengan. Peradaban memang sering lahir di antara remah-remah makanan.

Lalu ada Dr. Desy Ekawati, S.Hut., M.Sc., yang menjalankan Forest Programme. Ia dan Pak Jul menginginkan saya menuliskan proyek perhutanan sosial dalam bentuk buku, dengan gaya camanewak. Ringan, renyah, asyik. Nuan bayangkan, hutan yang biasanya dibahas dengan bahasa teknis penuh terminologi, ingin diterjemahkan menjadi bacaan yang bisa dipahami orang kampung sampai profesor. Saya langsung berpikir, ini bukan sekadar proyek menulis. Ini jembatan. Menghubungkan kebijakan dengan rakyat, teori dengan dapur rumah tangga, karbon dengan kehidupan sehari-hari.

Mereka mengenal saya lewat Pak Jumtani, sesama anggota Pokja REDD+ Kalbar. Lagi-lagi terbukti, rezeki sering datang lewat kawan. Bukan lewat status galak, bukan lewat sindiran tajam, tapi lewat jaringan persahabatan. Dalam satu meja bukber, bisa lahir kolaborasi. Dalam satu gelas jeruk hangat, bisa muncul gagasan buku. Dalam satu undangan sederhana, bisa terbuka pintu masa depan.

Orang boleh saja menyindir bukber sebagai ajang pamer outfit atau lomba foto paling estetik. Silakan. Tapi bagi yang mau melihat lebih dalam, bukber adalah ruang belajar sosial. Tempat ekonomi, budaya, kehutanan, literasi, dan spiritualitas berpelukan tanpa canggung. Ia bukan sekadar makan setelah azan. Ia adalah simpul pertemuan takdir.

Sudah dua kali saya bukber. Biasanya menjelang Idulfitri, jadwal makin padat. Kafe, hotel, rumah makan penuh. Orang-orang datang membawa lapar dan pulang membawa cerita. Saya semakin yakin, di balik riuh sendok beradu dan suara azan magrib, Tuhan sedang menulis skenario yang jauh lebih indah dari yang kita rencanakan.

Bukber bukan cuma tradisi. Ia adalah laboratorium kehidupan. Kadang, di sanalah kita sadar, yang membuat kita besar bukan hanya apa yang kita makan, tapi siapa yang duduk semeja dengan kita.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet147
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

BENGKEL OPINI RAKyat

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Responden Terpilih

Maret 14, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com