Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Ramadan itu unik. Siangnya kita menahan lapar, haus, dan godaan. Malamnya kita menahan diri untuk tidak menambah dua piring lagi. Di antara dua kutub itu, lahirlah satu tradisi yang makin hari makin sakral, buka puasa bersama. Bukber. Sebuah ritual sosial yang kadang lebih heboh dari rapat paripurna, lebih ramai dari seminar nasional, dan lebih strategis dari lobi politik kelas kakap.
Dalam dua hari terakhir, saya ikut dua episode “drama kolosal” itu.
Pertama, di Hotel Orchardz Pontianak. Diundang oleh H. Ahmad Kholil, bos Muzdalifah Tour and Travel. Saya melangkah masuk dengan perasaan seperti mahasiswa baru nyasar ke ruang dosen besar. Di ruangan itu berkumpul para pemilik travel umrah ternama. Orang-orang yang tiap musim bisa memberangkatkan ribuan jamaah ke Tanah Suci. Mereka berbicara tentang kuota, visa, tiket, hotel, regulasi. Bukan obrolan receh. Itu obrolan yang kalau dikonversi ke rupiah, mungkin bunyinya bisa bikin dompet saya minta perlindungan saksi.
Saya? Kang ngopi. Duduk manis. Nyempil di belakang. Berada di tengah orang-orang tajir yang mungkin omzetnya bisa bikin grafik ekonomi naik sendiri tanpa bantuan doa qunut. Tapi di situlah letak keindahannya. Saya belajar, bisnis umrah bukan sekadar spanduk pelepasan dan koper seragam. Di baliknya ada manajemen rapi, kalkulasi kurs dolar yang bisa naik-turun seperti emosi netizen, ada strategi menghadapi regulasi, ada seni menjaga kepercayaan jamaah. Mengantar orang beribadah ternyata butuh kecerdasan finansial, kecermatan hukum, dan ketahanan mental. Saya kagum. Ternyata dunia ini digerakkan oleh orang-orang yang bekerja dalam sunyi, tapi dampaknya sampai ke langit.
Bukber kedua tak kalah mengguncang batin. Undangan datang dari jajaran Kementerian Kehutanan yang menjalankan Forest Programme di Kabupaten Sanggau, Kalbar. Lokasinya di Kafe Periok, Jalan Sungai Raya Dalam, Kubu Raya. Awalnya saya tak kenal siapa-siapa. Saya datang dengan niat sederhana, silaturahmi dan jangan salah ambil minuman orang.
Ternyata yang mengundang adalah Pak Julmansyah. Beliau ingin kenalan. Katanya, beliau penggemar tulisan-tulisan saya. Saya senyum, antara terharu dan takut geer. Lebih mengejutkan lagi, ada anak buahnya yang hafal istilah “Koptagul”. Saya pikir istilah itu cuma berseliweran di kepala pembaca setia. Ternyata sudah menembus dinding kantor kementerian. Dunia literasi memang tak kenal sekat.
📚 Artikel Terkait
Pak Julmansyah sendiri seorang penulis buku. Di momen itu beliau menghadiahi saya buku tebal berjudul Sumbawa-Masyarakat dan Budaya. Tebalnya seperti skripsi yang tidak mengenal kata ringkas. Isinya tentang masyarakat dan budaya, tentang denyut kehidupan yang sering luput dari headline. Saya menerimanya dengan rasa hormat. Di meja bukber itu, ilmu pengetahuan duduk berdampingan dengan es buah dan gorengan. Peradaban memang sering lahir di antara remah-remah makanan.
Lalu ada Dr. Desy Ekawati, S.Hut., M.Sc., yang menjalankan Forest Programme. Ia dan Pak Jul menginginkan saya menuliskan proyek perhutanan sosial dalam bentuk buku, dengan gaya camanewak. Ringan, renyah, asyik. Nuan bayangkan, hutan yang biasanya dibahas dengan bahasa teknis penuh terminologi, ingin diterjemahkan menjadi bacaan yang bisa dipahami orang kampung sampai profesor. Saya langsung berpikir, ini bukan sekadar proyek menulis. Ini jembatan. Menghubungkan kebijakan dengan rakyat, teori dengan dapur rumah tangga, karbon dengan kehidupan sehari-hari.
Mereka mengenal saya lewat Pak Jumtani, sesama anggota Pokja REDD+ Kalbar. Lagi-lagi terbukti, rezeki sering datang lewat kawan. Bukan lewat status galak, bukan lewat sindiran tajam, tapi lewat jaringan persahabatan. Dalam satu meja bukber, bisa lahir kolaborasi. Dalam satu gelas jeruk hangat, bisa muncul gagasan buku. Dalam satu undangan sederhana, bisa terbuka pintu masa depan.
Orang boleh saja menyindir bukber sebagai ajang pamer outfit atau lomba foto paling estetik. Silakan. Tapi bagi yang mau melihat lebih dalam, bukber adalah ruang belajar sosial. Tempat ekonomi, budaya, kehutanan, literasi, dan spiritualitas berpelukan tanpa canggung. Ia bukan sekadar makan setelah azan. Ia adalah simpul pertemuan takdir.
Sudah dua kali saya bukber. Biasanya menjelang Idulfitri, jadwal makin padat. Kafe, hotel, rumah makan penuh. Orang-orang datang membawa lapar dan pulang membawa cerita. Saya semakin yakin, di balik riuh sendok beradu dan suara azan magrib, Tuhan sedang menulis skenario yang jauh lebih indah dari yang kita rencanakan.
Bukber bukan cuma tradisi. Ia adalah laboratorium kehidupan. Kadang, di sanalah kita sadar, yang membuat kita besar bukan hanya apa yang kita makan, tapi siapa yang duduk semeja dengan kita.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
camanewak
jurnalismeyangmenyapa
JYM
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





