HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    870 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Februari 17, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    870 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Dua Bayang Besar di Atas Republik Islam: Kisah Para Pemimpin Tertinggi Iran

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si by Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
Maret 2, 2026
in Iran
Reading Time: 4 mins read
0
Dua Bayang Besar di Atas Republik Islam: Kisah Para Pemimpin Tertinggi Iran
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh
Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh

Di tengah gejolak revolusi, perang, dan konflik geopolitik yang tak pernah benar-benar padam, Republik Islam Iran hanya pernah mengenal dua Pemimpin Tertinggi. Dua sosok ulama dengan gaya kepemimpinan berbeda, namun sama-sama membentuk wajah Iran modern. Kini, setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS–Israel pada Februari 2026 negeri itu kembali berada di persimpangan sejarah.

Baca Juga

Israel Merengek ke PBB, Iran Tak Peduli

Israel Merengek ke PBB, Iran Tak Peduli

Maret 23, 2026
Selat Hormuz, Senjata Pamungkas Iran

Selat Hormuz, Senjata Pamungkas Iran

Maret 22, 2026

Iran dan Aceh: Pelajaran Kemandirian dan Visi Kolektif Masa Depan

Maret 16, 2026

Di Teheran, mural-mural besar bergambar Ayatollah Ali Khamenei masih memandang jalan-jalan yang dipenuhi lalu lintas pagi. Namun sejak akhir Februari 2026, tatapan itu terasa berbeda—seolah menjadi simbol sebuah era yang baru saja runtuh.

Wafatnya Khamenei dalam sebuah serangan yang memicu kecaman internasional mengguncang fondasi politik Republik Islam, meninggalkan kekosongan yang tak pernah terjadi selama hampir empat dekade.
Di negara yang hanya pernah dipimpin oleh dua Pemimpin Tertinggi sejak 1979, kepergian Khamenei bukan sekadar pergantian tokoh. Ia adalah retakan besar pada struktur kekuasaan yang selama ini tampak kokoh.

1. Ruhollah Khomeini — Sang Revolusioner (1979–1989)


Pada 1979, dunia menyaksikan sebuah revolusi yang mengguncang tatanan Timur Tengah. Di tengah jutaan massa yang turun ke jalan, satu nama menjulang: Ayatollah Ruhollah Khomeini. Dari pengasingan di Prancis, ia kembali ke Teheran sebagai simbol perlawanan terhadap monarki Shah. Tak lama kemudian, ia menjadi Pemimpin Tertinggi pertama Iran, memegang kekuasaan absolut dalam struktur politik baru yang ia bentuk sendiri.


Di bawah Khomeini, Iran melewati masa-masa paling menentukan: konsolidasi kekuasaan, perang delapan tahun melawan Irak, dan penataan ulang masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip Islam revolusioner. Ketika ia wafat pada 1989, Iran bukan lagi kerajaan sekutu Barat, melainkan negara teokrasi yang percaya diri dan keras kepala dalam menentukan jalannya sendiri. Ketika Khomeini kembali dari pengasingan pada 1979, jutaan orang menyambutnya seolah menyambut seorang nabi. Ia membentuk Republik Islam dari reruntuhan monarki, menciptakan sistem politik yang menggabungkan teokrasi dan republik.
Selama satu dekade, ia memimpin Iran melewati perang, embargo, dan transformasi sosial yang radikal.

2. Ali Khamenei — Sang Penjaga Republik (1989–2026)


Setelah Khomeini, tongkat estafet jatuh ke tangan Ayatollah Ali Khamenei, seorang ulama-politisi yang sebelumnya menjabat Presiden Iran. Terpilih oleh Majelis Ahli, ia memimpin selama hampir 37 tahun—lebih lama dari pendahulunya.

Di bawah Khamenei, Iran menghadapi sanksi internasional, program nuklir yang kontroversial, Arab Spring, perang proksi di Timur Tengah, dan hubungan yang memburuk dengan Amerika Serikat.
Khamenei dikenal sebagai figur yang berhati-hati namun tegas, menjaga stabilitas internal sambil memperluas pengaruh Iran melalui jaringan “Poros Perlawanan”. Namun pada 28 Februari 2026, sebuah serangan gabungan AS–Israel mengakhiri hidupnya, sebagaimana dikonfirmasi oleh pejabat AS dan Israel serta media Iran .

Dunia pun tersentak: untuk pertama kalinya sejak 1989, Iran kembali tanpa Pemimpin Tertinggi.


Ketika Khamenei menggantikan Khomeini pada 1989, banyak yang meragukan apakah ia mampu mengisi posisi sebesar itu. Namun selama 37 tahun, ia menjadi figur sentral yang menjaga kesinambungan negara. Di bawahnya, Iran memperluas pengaruh regional, menghadapi sanksi global, dan membangun jaringan aliansi non-negara yang kuat.
Khamenei bukan hanya pemimpin politik; ia adalah simbol kontinuitas. Karena itu, kepergiannya menciptakan ruang kosong yang tidak mudah diisi.

Kekosongan di Puncak: Iran Mencari Arah Baru


Wafatnya Khamenei memicu mekanisme darurat konstitusional. Iran kini dipimpin oleh dewan sementara yang terdiri dari Ayatollah Alireza Arafi, Presiden Masoud Pezeshkian, dan Ketua Kehakiman Gholam-Hossein Mohseni-Ejei . Sementara itu, Majelis Ahli—88 ulama senior—bersiap memilih pemimpin baru.


Nama-nama yang beredar mencerminkan tarik-menarik kekuasaan di tubuh Republik Islam:
Mojtaba Khamenei, putra sang pemimpin,
Ayatollah Alireza Arafi, figur ulama yang kini memegang peran interim,
Hassan Khomeini, cucu sang pendiri revolusi.
Siapa pun yang terpilih, ia akan mewarisi negara yang tengah berduka, marah, dan berada di bawah tekanan internasional yang belum pernah sebesar ini.

Warisan Dua Pemimpin, Masa Depan yang Tak Pasti
Khomeini membangun Republik Islam. Khamenei mempertahankannya selama lebih dari tiga dekade. Kini, generasi baru pemimpin akan menentukan apakah Iran tetap berjalan di jalur lama, berubah secara perlahan, atau justru memasuki babak baru yang tak terduga.


Di jalan-jalan Teheran, mural Khomeini dan Khamenei masih berdiri tegak. Namun di balik wajah-wajah itu, Iran sedang menunggu bab berikutnya—bab yang mungkin akan menentukan masa depan seluruh kawasan. Di Iran, politik tingkat tinggi jarang berlangsung secara terbuka. Namun dinamika pasca‑Khamenei memperlihatkan tiga poros kekuatan yang mulai bergerak.

Poros keluarga Khamenei, yang mendorong nama Mojtaba Khamenei. Poros ulama tradisional, yang melihat Ayatollah Alireza Arafi sebagai figur yang dapat diterima banyak pihak. Poros reformis dan moderat, yang diam-diam berharap pada figur simbolis seperti Hassan Khomeini. Setiap nama membawa konsekuensi politik yang berbeda—baik bagi Iran maupun kawasan.

ADVERTISEMENT


Wafatnya Khamenei terjadi di tengah ketegangan regional yang meningkat. Negara-negara yang biasanya dekat dengan Iran memilih berhati-hati. Mereka mengecam serangan yang menewaskan Khamenei, namun tidak terburu-buru memberikan dukungan militer atau langkah eskalatif.


Di Teheran, rakyat menunggu arah baru. Sebagian berharap pada perubahan, sebagian lainnya menginginkan stabilitas. Namun semua sepakat bahwa masa depan Iran kini berada di tangan Majelis Ahli—dan keputusan mereka akan membentuk politik Timur Tengah selama bertahun-tahun ke depan. Iran pernah melewati revolusi, perang, embargo, dan pergantian generasi.

Namun momen ini berbeda. Untuk pertama kalinya sejak 1989, negara itu harus menentukan pemimpin baru tanpa bayang-bayang Khomeini atau Khamenei.
Di jalan-jalan Teheran, mural-mural itu tetap berdiri. Namun di balik cat yang mulai memudar, sebuah pertanyaan besar menggantung di udara: ke mana Iran akan melangkah setelah ini? []

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 175x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 159x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 146x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 128x dibaca (7 hari)
Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh
Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh
17 Mar 2026 • 123x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Baca Juga

Halal bi Halal: Saat Seluruh Negeri “Menghalalkan” Satu Sama Lain
Artikel

Halal bi Halal: Saat Seluruh Negeri “Menghalalkan” Satu Sama Lain

Maret 23, 2026
Israel Merengek ke PBB, Iran Tak Peduli
Iran

Israel Merengek ke PBB, Iran Tak Peduli

Maret 23, 2026
Di Antara Takbir dan Keranda
Puisi Essay

Di Antara Takbir dan Keranda

Maret 23, 2026
Budaya

Tentang Malas, Kerja, dan Indonesia Terhormat.

Maret 23, 2026
Next Post
Sang Syahid Abad 21 Tentang Perang Kebudayaan

Sang Syahid Abad 21 Tentang Perang Kebudayaan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Login

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com