Dengarkan Artikel
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh
Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh
Di tengah gejolak revolusi, perang, dan konflik geopolitik yang tak pernah benar-benar padam, Republik Islam Iran hanya pernah mengenal dua Pemimpin Tertinggi. Dua sosok ulama dengan gaya kepemimpinan berbeda, namun sama-sama membentuk wajah Iran modern. Kini, setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan AS–Israel pada Februari 2026 negeri itu kembali berada di persimpangan sejarah.
Di Teheran, mural-mural besar bergambar Ayatollah Ali Khamenei masih memandang jalan-jalan yang dipenuhi lalu lintas pagi. Namun sejak akhir Februari 2026, tatapan itu terasa berbeda—seolah menjadi simbol sebuah era yang baru saja runtuh.
Wafatnya Khamenei dalam sebuah serangan yang memicu kecaman internasional mengguncang fondasi politik Republik Islam, meninggalkan kekosongan yang tak pernah terjadi selama hampir empat dekade.
Di negara yang hanya pernah dipimpin oleh dua Pemimpin Tertinggi sejak 1979, kepergian Khamenei bukan sekadar pergantian tokoh. Ia adalah retakan besar pada struktur kekuasaan yang selama ini tampak kokoh.
1. Ruhollah Khomeini — Sang Revolusioner (1979–1989)
Pada 1979, dunia menyaksikan sebuah revolusi yang mengguncang tatanan Timur Tengah. Di tengah jutaan massa yang turun ke jalan, satu nama menjulang: Ayatollah Ruhollah Khomeini. Dari pengasingan di Prancis, ia kembali ke Teheran sebagai simbol perlawanan terhadap monarki Shah. Tak lama kemudian, ia menjadi Pemimpin Tertinggi pertama Iran, memegang kekuasaan absolut dalam struktur politik baru yang ia bentuk sendiri.
Di bawah Khomeini, Iran melewati masa-masa paling menentukan: konsolidasi kekuasaan, perang delapan tahun melawan Irak, dan penataan ulang masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip Islam revolusioner. Ketika ia wafat pada 1989, Iran bukan lagi kerajaan sekutu Barat, melainkan negara teokrasi yang percaya diri dan keras kepala dalam menentukan jalannya sendiri. Ketika Khomeini kembali dari pengasingan pada 1979, jutaan orang menyambutnya seolah menyambut seorang nabi. Ia membentuk Republik Islam dari reruntuhan monarki, menciptakan sistem politik yang menggabungkan teokrasi dan republik.
Selama satu dekade, ia memimpin Iran melewati perang, embargo, dan transformasi sosial yang radikal.
2. Ali Khamenei — Sang Penjaga Republik (1989–2026)
Setelah Khomeini, tongkat estafet jatuh ke tangan Ayatollah Ali Khamenei, seorang ulama-politisi yang sebelumnya menjabat Presiden Iran. Terpilih oleh Majelis Ahli, ia memimpin selama hampir 37 tahun—lebih lama dari pendahulunya.
📚 Artikel Terkait
Di bawah Khamenei, Iran menghadapi sanksi internasional, program nuklir yang kontroversial, Arab Spring, perang proksi di Timur Tengah, dan hubungan yang memburuk dengan Amerika Serikat.
Khamenei dikenal sebagai figur yang berhati-hati namun tegas, menjaga stabilitas internal sambil memperluas pengaruh Iran melalui jaringan “Poros Perlawanan”. Namun pada 28 Februari 2026, sebuah serangan gabungan AS–Israel mengakhiri hidupnya, sebagaimana dikonfirmasi oleh pejabat AS dan Israel serta media Iran .
Dunia pun tersentak: untuk pertama kalinya sejak 1989, Iran kembali tanpa Pemimpin Tertinggi.
Ketika Khamenei menggantikan Khomeini pada 1989, banyak yang meragukan apakah ia mampu mengisi posisi sebesar itu. Namun selama 37 tahun, ia menjadi figur sentral yang menjaga kesinambungan negara. Di bawahnya, Iran memperluas pengaruh regional, menghadapi sanksi global, dan membangun jaringan aliansi non-negara yang kuat.
Khamenei bukan hanya pemimpin politik; ia adalah simbol kontinuitas. Karena itu, kepergiannya menciptakan ruang kosong yang tidak mudah diisi.
Kekosongan di Puncak: Iran Mencari Arah Baru
Wafatnya Khamenei memicu mekanisme darurat konstitusional. Iran kini dipimpin oleh dewan sementara yang terdiri dari Ayatollah Alireza Arafi, Presiden Masoud Pezeshkian, dan Ketua Kehakiman Gholam-Hossein Mohseni-Ejei . Sementara itu, Majelis Ahli—88 ulama senior—bersiap memilih pemimpin baru.
Nama-nama yang beredar mencerminkan tarik-menarik kekuasaan di tubuh Republik Islam:
Mojtaba Khamenei, putra sang pemimpin,
Ayatollah Alireza Arafi, figur ulama yang kini memegang peran interim,
Hassan Khomeini, cucu sang pendiri revolusi.
Siapa pun yang terpilih, ia akan mewarisi negara yang tengah berduka, marah, dan berada di bawah tekanan internasional yang belum pernah sebesar ini.
Warisan Dua Pemimpin, Masa Depan yang Tak Pasti
Khomeini membangun Republik Islam. Khamenei mempertahankannya selama lebih dari tiga dekade. Kini, generasi baru pemimpin akan menentukan apakah Iran tetap berjalan di jalur lama, berubah secara perlahan, atau justru memasuki babak baru yang tak terduga.
Di jalan-jalan Teheran, mural Khomeini dan Khamenei masih berdiri tegak. Namun di balik wajah-wajah itu, Iran sedang menunggu bab berikutnya—bab yang mungkin akan menentukan masa depan seluruh kawasan. Di Iran, politik tingkat tinggi jarang berlangsung secara terbuka. Namun dinamika pasca‑Khamenei memperlihatkan tiga poros kekuatan yang mulai bergerak.
Poros keluarga Khamenei, yang mendorong nama Mojtaba Khamenei. Poros ulama tradisional, yang melihat Ayatollah Alireza Arafi sebagai figur yang dapat diterima banyak pihak. Poros reformis dan moderat, yang diam-diam berharap pada figur simbolis seperti Hassan Khomeini. Setiap nama membawa konsekuensi politik yang berbeda—baik bagi Iran maupun kawasan.
Wafatnya Khamenei terjadi di tengah ketegangan regional yang meningkat. Negara-negara yang biasanya dekat dengan Iran memilih berhati-hati. Mereka mengecam serangan yang menewaskan Khamenei, namun tidak terburu-buru memberikan dukungan militer atau langkah eskalatif.
Di Teheran, rakyat menunggu arah baru. Sebagian berharap pada perubahan, sebagian lainnya menginginkan stabilitas. Namun semua sepakat bahwa masa depan Iran kini berada di tangan Majelis Ahli—dan keputusan mereka akan membentuk politik Timur Tengah selama bertahun-tahun ke depan. Iran pernah melewati revolusi, perang, embargo, dan pergantian generasi.
Namun momen ini berbeda. Untuk pertama kalinya sejak 1989, negara itu harus menentukan pemimpin baru tanpa bayang-bayang Khomeini atau Khamenei.
Di jalan-jalan Teheran, mural-mural itu tetap berdiri. Namun di balik cat yang mulai memudar, sebuah pertanyaan besar menggantung di udara: ke mana Iran akan melangkah setelah ini? []
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






