POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ramadan dan Rekonstruksi Peradaban: Spiritualitas, Solidaritas, dan Etika Kekuasaan dalam Dialektika Timur–Barat

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
February 28, 2026
Ramadan dan Titik Balik Aceh: Dari Ritual ke Arsitektur Keadilan Sosial
🔊

Dengarkan Artikel

Ramadan #9

Oleh Dayan Abdurrahman

Ramadan sering dipahami sebagai ritual tahunan umat Islam. Namun artikel ini berargumen bahwa Ramadan sesungguhnya merupakan desain peradaban mini yang berlangsung selama tiga puluh hari. Ia bukan sekadar praktik spiritual individual, melainkan sistem latihan kolektif yang menyentuh dimensi psikologis, sosial, ekonomi, dan politik sekaligus. Dalam konteks dialog Timur–Barat, Ramadan menghadirkan alternatif etika yang tidak konfrontatif, tetapi substantif—sebuah koreksi moral terhadap krisis modernitas tanpa retorika antagonistik.

Pada level pertama, Ramadan membangun spiritualitas sebagai infrastruktur moral. Peradaban besar tidak hanya bertumpu pada teknologi dan kekuatan ekonomi, melainkan pada fondasi etika yang menopang perilaku kolektif. Puasa melatih self-regulation, yaitu kemampuan menunda dorongan biologis dan emosional demi tujuan nilai yang lebih tinggi. Selama kurang lebih 13–14 jam setiap hari, dalam rentang 29–30 hari, umat Islam menjalani disiplin pengendalian diri secara serempak. Dengan populasi Muslim global sekitar 24–25% dari total penduduk dunia, Ramadan dapat dipahami sebagai eksperimen moral kolektif terbesar dalam sejarah kontemporer.

Ulama klasik seperti Al-Ghazali menekankan bahwa hakikat puasa bukan hanya menahan lapar, melainkan menahan seluruh anggota tubuh dari perilaku yang merusak integritas moral. Perspektif ini sejalan dengan tesis sosiolog Jerman Max Weber yang menyatakan bahwa disiplin religius dapat membentuk etos sosial dan bahkan memengaruhi struktur ekonomi. Dengan demikian, Ramadan bukan sekadar ibadah privat, tetapi potensi pembentuk karakter publik.

Dalam dialektika Timur–Barat, Ramadan menghadirkan dimensi korektif terhadap kecenderungan hiper-konsumsi modern. Ekonomi global saat ini sebagian besar digerakkan oleh konsumsi rumah tangga yang dalam beberapa negara mencapai lebih dari 50% PDB. Sistem tersebut bertumpu pada percepatan hasrat. Ramadan justru mengajarkan penundaan hasrat. Ia tidak menolak modernitas, tetapi menyeimbangkannya. Analogi sederhana dapat diajukan: jika modernitas adalah kendaraan berkecepatan tinggi, maka Ramadan adalah sistem pengereman etis agar laju tersebut tidak keluar jalur.

Dimensi kedua Ramadan adalah solidaritas sosial yang terinstitusionalisasi. Zakat sebesar 2,5% pada kategori harta tertentu, apabila dikelola secara optimal, memiliki potensi redistribusi yang signifikan. Dalam teori ekonomi, redistribusi bahkan 2–3% dari total akumulasi kekayaan dapat berdampak nyata pada pengurangan ketimpangan. Tantangannya bukan pada ajaran normatif, melainkan pada tata kelola, transparansi, dan orientasi produktif. Apabila dana sosial Ramadan dialokasikan misalnya 40% untuk kebutuhan dasar, 40% untuk pemberdayaan ekonomi mikro, dan 20% untuk pendidikan, maka dalam jangka menengah dapat tercipta efek multiplikatif yang berkelanjutan.

📚 Artikel Terkait

Menguak Makna Hari Kartini di Era Milenial

NYALI NADIEM?

Guru

Listrik: Nyala Harapan bagi Jutaan UMKM

Sejarah kota-kota Islam yang pernah berjaya memperlihatkan integrasi antara spiritualitas dan tata kelola sosial. Baghdad pada era Abbasiyah berkembang sebagai pusat ilmu dan perdagangan. Cordoba di Andalusia menjadi simbol kemajuan ilmu pengetahuan, perpustakaan, dan sistem sanitasi ketika sebagian Eropa masih dalam keterbatasan struktural. Cairo berkembang melalui institusi pendidikan seperti Al-Azhar, sementara Istanbul memaksimalkan sistem wakaf untuk layanan publik. Sejarawan dan sosiolog Ibn Khaldun menjelaskan bahwa peradaban bertahan karena solidaritas sosial (asabiyyah) dan runtuh ketika elite terjebak dalam kemewahan serta kehilangan disiplin moral.

Dalam konteks lokal, Aceh—yang dikenal sebagai Serambi Mekkah—menyimpan potensi model sosial berbasis solidaritas Ramadan. Pengalaman sejarah Aceh pasca konflik dan bencana menunjukkan kapasitas resiliensi komunitas yang tinggi. Ramadan di Aceh bukan hanya peristiwa ritual, tetapi momentum kolektif: meunasah aktif, distribusi pangan berjalan, dan solidaritas sosial meningkat. Jika energi ini dilembagakan melalui manajemen zakat dan wakaf yang profesional dan transparan, Aceh berpotensi menjadi laboratorium sosial yang relevan bagi dunia Muslim lebih luas.

Dimensi ketiga dan paling krusial adalah etika kekuasaan. Puasa rakyat tidak cukup apabila elite tidak menahan diri dari penyalahgunaan wewenang. Sejarah Islam kerap merujuk figur seperti Umar bin Khattab sebagai simbol integritas kekuasaan yang bersandar pada kesederhanaan dan keadilan. Terlepas dari romantisasi sejarah, pesan normatifnya jelas: legitimasi politik memerlukan integritas moral. Bahkan sejarawan Inggris Arnold J. Toynbee mengakui bahwa agama sering menjadi sumber energi moral yang menjaga vitalitas peradaban.

Ramadan semestinya menjadi momen audit etika tahunan bagi pemegang kekuasaan. Jika masyarakat menjalani disiplin pengendalian diri selama tiga puluh hari, maka elite politik dan ekonomi seharusnya menjadikannya momentum refleksi kebijakan, transparansi anggaran, dan komitmen antikorupsi. Tanpa integrasi antara moral internal dan sistem eksternal, spiritualitas berisiko tereduksi menjadi simbol.

Namun tantangan internal tidak dapat diabaikan. Di berbagai negara, konsumsi justru meningkat selama Ramadan. Aktivitas komersial melonjak, dan religiusitas sering dipadukan dengan promosi pasar. Apabila 20–30% energi sosial Ramadan terserap pada konsumsi berlebihan, maka daya transformasinya melemah. Di titik inilah diperlukan pendidikan publik dan reformasi manajemen sosial agar Ramadan tidak terjebak dalam logika komodifikasi.

Pada akhirnya, rekonstruksi peradaban menuntut sintesis. Barat menyediakan kerangka institusional, akuntabilitas, dan profesionalisme. Tradisi Islam menyediakan kedalaman moral dan solidaritas kolektif. Ramadan dapat menjadi titik temu keduanya: spiritualitas yang sistemik dan sistem yang beretika. Ia bukan anti-modernitas, tetapi koreksi terhadap ekses modernitas.

Jika bahkan 15–20% umat secara konsisten menginternalisasi nilai pengendalian diri, solidaritas produktif, dan integritas kekuasaan, dampaknya terhadap budaya publik tidaklah kecil. Peradaban dibangun dari karakter; karakter dibentuk melalui disiplin; dan disiplin kolektif itu setiap tahun bernama Ramadan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 79x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 77x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 75x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 75x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    169 shares
    Share 68 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    162 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
142
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
208
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00