Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Tulisan ke-16 Edisi Ramadan. Sebelumnya dibahas Ibnu Muljam, pembunuh Ali bin Abi Thalib, sekarang kita bahas Hasan bin Ali. Anak dari Khalifah Ali, dan cucu Nabi Muhammad Saw. Dari Hasan lah banyak melahirkan keturunan Nabi ke seluruh penjuru dunia, termasuk ke Indonesia. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Di bawah langit Madinah yang bening pada 15 Ramadhan tahun ketiga Hijriah, lahirlah seorang bayi yang tak sekadar menangis, tetapi seperti membunyikan lonceng sejarah. Rasulullah sendiri mengazankan di telinga kanannya, mengiqamahkan di kiri, lalu menamainya Hasan yang berarti baik, terpuji, mulia. Untuk aqiqah, disembelih domba jantan gagah. Fatimah az-Zahra mencukur rambut halusnya dan menyedekahkan perak seberat rambut itu. Sejak detik tersebut, Hasan bin Ali bukan bayi biasa, ia cahaya pertama dari Fatimah dan Ali bin Abi Thalib.
Wajah Hasan begitu mirip kakeknya sampai Anas bin Malik bersumpah tak ada yang lebih serupa. Nabi memanjangkan sujud agar cucu kecil di punggungnya tidak jatuh. Dalam peristiwa Mubahalah, ia dipanggil “putraku” bersama Husain bin Ali. Hadis itu menggema, Hasan dan Husain pemimpin pemuda surga. Hidup tujuh–delapan tahun dalam pelukan wahyu, belajar akhlak langsung dari sumbernya. Drama baru dimulai.
Tahun 11 Hijriah, Rasulullah wafat, disusul Fatimah beberapa bulan kemudian. Dunia kecil Hasan runtuh. Pada masa Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan, ia tak sibuk berebut kursi. Ia menerima bagian dari Baitul Mal, ikut ekspedisi ke Amol di Tabaristan, membela Abu Dzar al-Ghifari yang diusir, bahkan terluka saat menjaga rumah Utsman yang dikepung. Bandingkan dengan politisi zaman kini, baru jadi ketua RT sudah pasang baliho tiga kilometer, belum kerja sudah sibuk survei elektabilitas. Hasan? Elektabilitasnya dijamin hadis, tetapi ia memilih sunyi.
Ketika Ali menjadi khalifah keempat, Hasan berdiri di barisan depan. Ia dikirim ke Kufah menggalang baiat dan pasukan, ikut Perang Jamal melawan Aisyah, Thalhah, Zubair, ikut Perang Siffin melawan Muawiyah I. Hatinya condong pada damai, tetapi sejarah memaksanya berperang. Di usia muda ia menikah dan membangun keluarga. Catatan Ibn Sa’d menyebut enam istri resmi: Umm Bashir binti Abi Mas’ud al-Anshari (melahirkan Zaid bin Hasan); Khawla binti Manzhur al-Fazariyah (ibu Hasan al-Mutsanna, leluhur jutaan Sayyid di Yaman, Maroko, Afrika Utara); Umm Ishaq binti Talha bin Ubaidillah (melahirkan Husain al-Athram dan Talha); Ja’dah binti al-Ash’ath bin Qais; Hafsha binti Abdurrahman bin Abi Bakr; dan Hind binti Suhail. Ia tak pernah lebih dari empat istri sekaligus. Namun propaganda lawan membengkakkan jadi 70, 90, bahkan 200–300—seolah ia raja perceraian Quraisy. Politik memang hobi membesar-besarkan, dari isu dapur sampai jumlah mantan.
Akhlaknya? Dijuluki al-Mujtaba, sang terpilih. Dua kali ia sedekahkan seluruh hartanya, tiga kali separuhnya. Ketika ditanya mengapa tak menolak pengemis, ia menjawab, “Aku meminta kepada Allah, maka aku malu menolak orang yang meminta kepadaku.” Ia haji berjalan kaki ratusan kilometer, puasa sunah, qiyamul-lail panjang, wajah selalu berseri. Di era ketika orang berlomba jadi trending topic, Hasan berlomba jadi hamba.
📚 Artikel Terkait
Puncak dramanya, 21 Ramadhan 40 H, Ali syahid ditikam Khawarij di Kufah. Hasan, usia 37, dibaiat sebagai khalifah kelima. Ia mengutip surah asy-Syura ayat 23 tentang mencintai ahlul bait, menegaskan kepemimpinan di atas kitab Allah dan sunnah. Badai datang. Muawiyah menggerakkan 60.000 pasukan dari Syam. Hasan menghimpun 40.000–90.000 dari Kufah. Hampir meledak perang, tetapi pengkhianatan menyelinap. Ubaidillah bin Abbas disuap, pasukan desersi, tenda khalifah dirampok, Hasan terluka oleh panah Khawarij. Dalam politik, musuh kadang tak perlu menyerang, cukup membeli.
Agustus 661 M, ia memilih perjanjian damai. Syaratnya jelas, pemerintahan sesuai Alquran dan sunnah, tak boleh mengutuk Ali di mimbar, amnesti total, suksesi lewat syura, keamanan bagi keluarganya. Ia abdikasi demi menyelamatkan darah umat. “Aku lihat kalian lebih suka hidup dari mati syahid, maka aku pilih perdamaian.” Ironi terbesar. Yang paling sah justru paling rela melepas. Sebagian janji dilanggar, tetapi Hasan setia pada kata-katanya, sesuatu yang kini terdengar seperti dongeng kampanye.
Sembilan sampai sepuluh tahun ia hidup tenang di Madinah, menolak ajakan memberontak. Anak-anaknya ada 15 laki-laki dan 9 perempuan menjadi mata rantai cahaya: Zaid bin Hasan; Hasan al-Mutsanna; Husain al-Athram; Talha; Muhammad; Qasim; Abdullah; Abu Bakr bin Hasan yang kelak syahid di Karbala; Amr; Bishr; serta Fatimah binti Hasan yang menikah dengan Ali Zainal Abidin dan melahirkan Muhammad al-Baqir. Ia membesarkan generasi, bukan ambisi.
Akhirnya tragis, 28 Safar 50 H, usia 45–48, ia diracun oleh Ja’dah binti al-Ash’ath, disebut disuap dengan janji harta dan pernikahan dengan Yazid. Empat puluh hari menahan sakit, muntah potongan hati, tetapi tak menunjuk pelaku agar tak ada balas dendam salah sasaran. Ia dimakamkan di Jannatul Baqi’ setelah ketegangan nyaris pecah. Dunia kehilangan “pangeran perdamaian”.
Di zaman ketika kursi lebih dicintai dari rakyat, Hasan mengajarkan mahkota paling mahal adalah persatuan. Sejarah boleh dipelintir, angka boleh dibesar-besarkan, tetapi satu hal tak bisa dipoles, ia memilih damai saat pedang lebih mudah dihunus. Kalau hari ini ada yang mengaku pejuang umat sambil sibuk hitung kursi dan koalisi, mungkin perlu belajar pada cucu Nabi yang rela turun takhta demi darah tak tumpah. Begitulah cahaya itu, tak berisik, tetapi menerangi.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
camanewak
jurnalismeyangmenyapa
JYM
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





