Dengarkan Artikel
Sejarah, Konsep, dan Pembelajaran bagi Masa Kini
Oleh: Novita Sari Yahya
Tulisan ini ditulis berdasarkan istilah yang disampaikan oleh Rocky Gerung tentang “profesor dungu”. Pembahasan akan lebih mendalam jika kita masuk ke dalam kondisi yang menjelaskan mengapa intelektual berbeda dengan pihak yang hanya mengandalkan otot, termasuk dalam praktik di jalanan (politik jatah preman dan kuasa preman jalanan oleh Ian Wilson).
Pendahuluan
Gerakan mahasiswa di Indonesia memiliki posisi historis yang unik. Ia tidak sekadar menjadi ekspresi keresahan generasi muda, tetapi juga kerap berfungsi sebagai motor perubahan politik dan sosial. Dalam berbagai periode, mahasiswa tampil sebagai kekuatan moral yang mengingatkan negara ketika kekuasaan dinilai menyimpang dari kepentingan rakyat. Namun, peran ini tidak pernah berdiri di ruang yang sepenuhnya bebas. Relasi antara negara, kampus, dan masyarakat selalu dipenuhi ketegangan, negosiasi, serta, pada masa tertentu, represi.
Tulisan ini mengulas kronologi gerakan mahasiswa Indonesia, konsep represi dan kebebasan akademik, serta konteks historis yang berkaitan dengan tokoh Hariman Siregar.
Bagian I
Kronologi Gerakan Mahasiswa di Indonesia
1. Era 1960-an: Mahasiswa sebagai Kekuatan Politik
Pada pertengahan 1960-an, mahasiswa tampil sebagai aktor politik yang sangat berpengaruh. Ketika krisis ekonomi dan ketegangan politik memuncak, organisasi mahasiswa turun ke jalan menuntut perubahan arah pemerintahan. Demonstrasi besar pada masa ini berkontribusi pada pergeseran kekuasaan nasional dan membentuk citra mahasiswa sebagai kekuatan moral bangsa.
2. Tahun 1974: Peristiwa Malari
Awal 1970-an ditandai meningkatnya kritik mahasiswa terhadap kebijakan ekonomi dan ketimpangan sosial. Demonstrasi besar pada Januari 1974 berujung kerusuhan yang kemudian dikenal sebagai Peristiwa Malari. Setelah peristiwa ini, negara menerapkan kontrol lebih ketat terhadap aktivitas politik di kampus.
3. Normalisasi Kampus
Kebijakan pembatasan aktivitas politik mahasiswa mengubah bentuk gerakan. Diskusi intelektual, penerbitan alternatif, dan forum kajian menjadi ruang baru untuk menyampaikan kritik. Gerakan tidak hilang, tetapi bertransformasi menjadi lebih intelektual dan tersembunyi.
4. Reformasi 1998
Krisis ekonomi dan krisis legitimasi politik mendorong mobilisasi mahasiswa secara nasional. Demonstrasi besar pada 1998 berkontribusi pada perubahan politik mendasar dan membuka era reformasi.
5. Era Reformasi hingga Kini
Gerakan mahasiswa tetap hadir dengan pola yang lebih beragam, mulai dari aksi massa hingga advokasi berbasis riset dan kampanye digital.
Bagian II
Represi dan Kebebasan Akademik
1. Definisi Represi
Dalam kajian politik, represi merujuk pada upaya pembatasan ekspresi politik melalui regulasi, tekanan, atau penggunaan kekuasaan. Ia bisa bersifat fisik maupun struktural.
2. Chilling Effect
Tekanan politik dapat memunculkan rasa takut kolektif yang membuat individu menahan diri untuk berbicara. Dalam konteks kampus, efek ini dapat mengurangi kualitas diskursus akademik.
3. Kebebasan Akademik
Kebebasan akademik adalah hak dosen dan mahasiswa untuk berpikir, meneliti, dan menyampaikan pendapat secara bebas. Ia menjadi fondasi penting bagi demokrasi karena memungkinkan kritik berbasis pengetahuan.
4. Dilema Institusi
Perguruan tinggi harus menyeimbangkan kebebasan akademik dengan stabilitas organisasi. Karena itu, strategi kritik akademisi sering berbeda dengan aktivisme jalanan.
📚 Artikel Terkait
Bagian III
Konteks Historis Hariman Siregar
Nama Hariman Siregar erat kaitannya dengan gerakan mahasiswa era 1970-an. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam Peristiwa Malari.
Penangkapan aktivis pasca-peristiwa tersebut menjadi simbol kuat pembatasan ruang politik pada masa itu dan berdampak panjang pada kultur kampus. Kisah generasi ini menjadi pengingat bahwa kebebasan politik selalu lahir dari proses panjang dan penuh risiko.
Bagian IV
Relasi Negara, Kampus, dan Masyarakat
Hubungan antara negara dan kampus berada dalam spektrum antara kolaborasi dan ketegangan. Kampus berperan sebagai sumber kritik dan pengetahuan, sementara negara menjadi aktor kebijakan.
Ketika hubungan ini berjalan sehat, kritik akademik menjadi masukan konstruktif. Sebaliknya, ketika kritik dianggap ancaman, ruang kebebasan dapat menyempit.
Bagian V
Pembelajaran
1. Dialog terbuka penting untuk mencegah konflik antara negara dan gerakan mahasiswa.
2. Literasi politik membantu menjaga kualitas kritik publik.
3. Kebebasan akademik perlu dijaga sebagai fondasi inovasi dan demokrasi.
Penutup
Sejarah menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa merupakan bagian penting dari dinamika demokrasi Indonesia. Dari masa ke masa, hubungan antara negara, kampus, dan masyarakat terus berubah mengikuti konteks politik dan sosial.
Konsep represi membantu memahami bagaimana kekuasaan dapat memengaruhi ruang ekspresi, sementara kebebasan akademik menegaskan pentingnya menjaga kampus sebagai ruang berpikir bebas. Pengalaman tokoh seperti Hariman Siregar memperlihatkan bahwa dinamika tersebut bukan sekadar teori, melainkan pengalaman historis yang membentuk perjalanan bangsa.
Daftar Pustaka
Anderson, Benedict R. O’G. Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944–1946. Ithaca: Cornell University Press, 1972.
Aspinall, Edward. Opposing Suharto: Compromise, Resistance, and Regime Change in Indonesia. Stanford: Stanford University Press, 2005.
Budiman, Arief, ed. State and Civil Society in Indonesia. Clayton: Monash University Centre of Southeast Asian Studies, 1990.
Crouch, Harold. The Army and Politics in Indonesia. Revised ed. Ithaca: Cornell University Press, 1988.
Heryanto, Ariel. Identity and Pleasure: The Politics of Indonesian Screen Culture. Singapore: NUS Press, 2014.
Lane, Max. Unfinished Nation: Indonesia Before and After Suharto. London: Verso, 2008.
Mietzner, Marcus. Military Politics, Islam, and the State in Indonesia: From Failed Democratic Transition to Militarist Democracy. Singapore: ISEAS Publishing, 2009.
Siregar, Hariman. Catatan Seorang Demonstran. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1995.
Sulistyo, Hermawan. Palu Arit di Ladang Tebu: Sejarah Pembantaian Massal yang Terlupakan (1965–1966). Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2000.
Vatikiotis, Michael R. J. Indonesian Politics Under Suharto: Order, Development and Pressure for Change. London: Routledge, 1993.
Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:
1. Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
3. Novita & Kebangsaan
4. Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
5. Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
6. Self Love: Rumah Perlindungan Diri
7. Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
8. Siluet Cinta, Pelangi Rindu
Pemesanan Buku: 089520018812
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






