Dengarkan Artikel
Oleh : Novita Sari Yahya
Cerpen Menjadi Ratu di Hati Rakyat merupakan salah satu cerpen yang terdapat dalam buku Self Love : Rumah Perlindungan Diri
Pidato Pembekalan dan Percakapan Bersama Novita Sari Yahya
Menjadi finalis ajang pemilihan bukanlah perjalanan yang dibentuk oleh mesin industri kapitalisme yang memoles mimpi seperti kisah Cinderella dengan mahkotanya. Tidak ada tongkat ajaib, tidak ada pesta dansa yang tiba-tiba mengubah hidup dalam semalam. Dunia pageant justru adalah ruang pembelajaran yang penuh tuntutan kedisiplinan, ketahanan mental, dan kematangan karakter.
Di ruang pelatihan yang sederhana namun hangat, puluhan finalis duduk membentuk setengah lingkaran. Di depan mereka berdiri sosok perempuan yang dikenal tegas namun hangat: CEO sekaligus national director Indonesia, Novita Sari Yahya. Hari itu ia memberikan pembekalan yang bukan sekadar arahan teknis, melainkan fondasi nilai tentang makna menjadi finalis di era baru pageant.
Bagian I
Suasana Pembekalan
Ruang itu dipenuhi suara kursi yang digeser pelan. Para finalis mengenakan pakaian rapi, sebagian membawa buku catatan, sebagian lagi menatap penuh harap.
Novita melangkah ke tengah ruangan, tersenyum, lalu membuka pembicaraan.
Novita:
“Selamat pagi, finalis. Hari ini kita tidak hanya berbicara tentang kompetisi, tetapi tentang perjalanan hidup. Menjadi finalis bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang menjadi bermakna.”
Kalimat itu membuat ruangan hening. Beberapa finalis saling menatap, seolah baru menyadari bahwa mereka sedang memasuki proses yang lebih dalam dari sekadar lomba.
Finalis 1 (Alya):
“Bu, apakah benar dunia pageant selalu menuntut kesempurnaan?”
Novita mengangguk pelan.
Novita:
“Ya, tuntutan kesempurnaan memang ada. Namun di ajang ini, kita tidak menjadikannya tujuan utama. Yang utama adalah kepemimpinan, empati, dan karakter.”
Bagian II
Pidato Pembekalan CEO
Novita kemudian berdiri lebih tegap. Suaranya terdengar jelas, tenang, dan penuh keyakinan.
Pidato Novita Sari Yahya
“Finalis yang saya banggakan,
Banyak orang memandang pageant sebagai panggung glamor. Mereka melihat gaun, mahkota, dan sorotan kamera. Namun saya ingin kalian memahami sesuatu yang lebih mendalam.
Ajang ini adalah ruang pembentukan diri. Tempat di mana kalian belajar memimpin, belajar melayani, dan belajar memahami realitas masyarakat.
Yang membedakan ajang ini sebagai new era pageant adalah fokusnya pada kepemimpinan dan karakter. Kesempurnaan fisik bukanlah prioritas. Yang utama adalah kualitas diri dan kontribusi nyata.
Saya selalu menekankan, jadilah ratu di hati rakyat Indonesia. Mahkota sejati bukan yang berada di kepala, tetapi yang tumbuh dari kepercayaan masyarakat.
Jika niat kalian adalah berkontribusi melalui gerakan pemberdayaan, maka cemoohan dan kritik tidak akan menjadi beban. Sebaliknya, itu akan menjadi bahan bakar untuk terus bertumbuh.
Namun jika tujuan kalian hanya untuk terkenal, haus validasi, dan mengejar pujian, maka perjalanan ini akan terasa berat. Bahkan bisa melukai mental.
Karena itu, niatkan langkah kalian sebagai proses pemberdayaan diri dan pelayanan. Maka tidak ada satu pun komentar negatif yang mampu meruntuhkan kepercayaan diri kalian.
Ingat, kalian bukan hanya peserta. Kalian adalah agen perubahan.”
Pidato itu disambut tepuk tangan panjang. Beberapa finalis terlihat terharu.
Bagian III
Diskusi Interaktif
Setelah pidato, sesi percakapan dimulai. Para finalis diberi kesempatan bertanya.
Finalis 2 (Raissa):
“Bagaimana menghadapi tekanan dari standar kecantikan di luar sana, Bu?”
📚 Artikel Terkait
Novita:
“Dengan memahami bahwa standar kecantikan itu relatif. Yang tidak relatif adalah integritas. Fokuslah pada kualitas diri, bukan persepsi orang.”
Finalis 3 (Mira):
“Apakah kritik publik perlu selalu didengar?”
Novita:
“Dengar, tetapi jangan semua disimpan di hati. Ambil yang membangun, lepaskan yang meruntuhkan.”
Bagian IV
Percakapan Personal
Saat istirahat, beberapa finalis mendekati Novita secara personal.
Alya:
“Bu, saya pernah di-bully karena mengikuti pageant. Kadang rasanya ingin mundur.”
Novita tersenyum lembut.
“Kalau kamu mundur, apakah mimpimu akan tetap hidup?”
Alya menggeleng pelan.
Novita:
“Bullying tidak akan berhenti, tapi kamu bisa memilih apakah itu menghentikan langkahmu atau menguatkanmu.”
Alya menghela napas, matanya berkaca-kaca.
Alya:
“Terima kasih, Bu. Saya merasa lebih kuat.”
Bagian V
Nilai New Era Pageant
Dalam sesi berikutnya, Novita menjelaskan filosofi ajang secara lebih mendalam.
- Kepemimpinan sebagai inti perjalanan
Finalis dilatih mengambil keputusan, berbicara di depan publik, dan memimpin program sosial. - Karakter lebih penting dari penampilan
Integritas, empati, dan tanggung jawab menjadi tolok ukur utama. - Advokasi sebagai aksi nyata
Setiap finalis wajib memiliki program pemberdayaan masyarakat. - Ketahanan mental sebagai fondasi
Finalis dilatih menghadapi kritik dan tekanan publik.
Bagian VI
Simulasi Pidato Finalis
Sebagai latihan, Novita meminta beberapa finalis menyampaikan pidato singkat.
Raissa maju ke depan.
“Bagi saya, menjadi finalis bukan tentang tampil sempurna, tetapi tentang belajar melayani. Saya ingin membawa isu pendidikan literasi ke daerah saya.”
Novita tersenyum bangga.
Novita:
“Pidato yang baik adalah yang lahir dari pengalaman. Teruskan.”
Bagian VII
Percakapan Reflektif
Menjelang sore, suasana menjadi lebih santai.
Finalis 4 (Sinta):
“Bu, apa arti sukses menurut Ibu?”
Novita:
“Sukses adalah ketika keberadaan kita bermanfaat bagi orang lain. Bukan ketika kita paling dikenal.”
Sinta:
“Berarti mahkota hanyalah simbol?”
Novita:
“Betul. Simbol dari tanggung jawab, bukan kemewahan.”
Bagian VIII
Penutup Pembekalan
Hari mulai senja. Novita berdiri untuk menutup sesi.
“Finalis yang saya banggakan,
Perjalanan ini mungkin tidak mudah. Akan ada lelah, keraguan, bahkan air mata. Namun jika kalian tetap berpegang pada niat untuk berkontribusi, maka setiap langkah akan terasa ringan.
Jadilah pribadi yang tidak hanya terlihat indah, tetapi juga memberi dampak. Karena pada akhirnya, masyarakatlah yang akan menilai siapa yang benar-benar layak disebut ratu.”
Tepuk tangan kembali memenuhi ruangan.
Epilog
Makna Menjadi Finalis
Para finalis pulang dengan wajah berbeda. Bukan hanya karena mendapatkan materi pelatihan, tetapi karena memperoleh perspektif baru.
Mereka menyadari bahwa pageant bukan panggung ilusi, melainkan ruang pembelajaran tentang kepemimpinan dan kemanusiaan.
Dan di benak mereka, satu kalimat terus terngiang:
“Jadilah ratu di hati rakyat.”
Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:
- Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
- Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
- Novita & Kebangsaan
- Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
- Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
- Self Love: Rumah Perlindungan Diri
- Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
- Siluet Cinta, Pelangi Rindu
Pemesanan Buku: 089520018812
Novita sari yahya
CEO/Founder
- Miss & Mister Nusantara Archipelago International
- Miss, Mrs. & Mister Zamrud Khatulistiwa
3.. Miss & Mrs Hijab Heritage International.
Lagu Miss & Mister Nusantara Archipelago International
Pencipta lagu : Gede Jerson
Berdasarkan puisi karya Novita sari yahya
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






